Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 70



Setelah Yaya dan Felix pergi, Alvin juga pergi tidak lama setelah mereka.


Sesampainya dirumah, dengan wajah lesu tak bersemangat Alvin melangkahkan kakinya menuju kekamarnya, tapi langkah kaki Alvin terhenti karena ayahnya memanggilnya.


"Alvin, kesini sebentar, " panggil ayahnya .


"Kenapa pa ?" jawab Alvin malas seraya berjalan menghampiri ayahnya.


"Gimana sesi fotonya hari ini, lancar ?


mana foto-fotonya coba papa lihat ?" tanya ayahnya.


"Gak ada pa, Alvin lupa gak minta,


nanti juga mereka kirim hasilnya," jawab Alvin sekenanya.


"Alvin keatas dulu pa,


Alvin ngantuk," pamitnya seraya melangkah pergi.


Sesampainya dikamar, Alvin melemparkan tas yang ia bawa dan merebahkan tubuhnya keatas tempat tidurnya.


Alvin berbaring dengan tangan yang dikepal dan terus memukul-mukulkannya kearah keningnya secara perlahan.


Tak lama kemudian ia duduk disisi tempat tidurnya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, ia melihat foto profile Yaya ,ia juga mencoba untuk mengirimi Yaya pesan.


Chat :


Alvin : Dimana lo ?


....................


Cukup lama ia menunggu namun tetap tidak ada jawaban dari Yaya.


"Akh !!!


dia pikir dia siapa bisa mempermainkan gua seperti ini !" teriak Alvin.


Alvin beranjak dari tempat tidurnya membawa jaket dan meraih kunci mobilnya, setengah berlari Alvin keluar dari kamarnya.


"Alvin mau kemana lagi kamu ?" tanya ayahnya.


"Alvin keluar sebentar pa ada perlu !" jawab Alvin yang langsung berjalan meninggalkan ayahnya yang belum selesai bicara.


"Tapi kamu baru pulang Vin dan kamu bilang mengantuk !


Alvin !


Alvin !!!" teriak ayah Alvin yang tidak dihiraukan lagi olehnya yang terus berlari.


Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju keasrama Yaya, sesampainya disana tanpa banyak berfikir Alvin keluar dari mobilnya dan mendekati kamar Yaya, ia mulai mengetuk pintu itu debgan santai tapi tidak ada jawaban.


Akhirnya ia mencoba menelphone ponsel Yaya tapi Yaya terus mengabaikan telphone darinya.


Namun tidak beberapa lama kemudian terdengar suara motor berhenti tepat didepannya, itu adalah Yaya dan Felix yang baru saja sampai, Alvin hanya diam sambil memperhatikan mereka.


"Fel lebih baik kamu langsung pulang saja, dan terimakasih sudah mau antar aku pulang," ucap Yaya pada Felix.


"Tapi ya--" protes Felix.


"Fel aku bisa mengatasi masalah ini sendiri, jangan khawatir.


Kamu cepat pulang dan hati-hati dijalan, beri aku kabar kalau kamu sudah sampai dirumah, " ucap Yaya yang terus memaksa Felix untuk segera pergi.


Akhirnya Felix mengerti dan menuruti perintah Yaya untuk segera pulang, sebelum pergi pandangan Felix tajam kearah Alvin, seolah Felix tengah memperingatkan Alvin.


Setelah Felix pergi, Yaya mendekati Alvin yang berdiri tepat didepan pintu asramanya.


"Dari mana saja kalian ?


bukannya lo balik dari tadi sore, kan ?


kenapa baru sampai sekarang ?


dan kenapa pesan juga telphone gua gak lo angkat ?" tanya Alvin.


"Mau kemanapun gua pergi itu urusan gua, bukan urusan lo !


sebaiknya lo coba mengingat perjanjian yang lo buat sendiri !


"Hm, ia lo memang benar, semuanya memang bukan urusan gua, tapi lo juga harus ingat kalau lo itu calon istri gua, dan gua gak mau nama gua jadi jelek, karena orang bilang gua gak bisa menjaga sikap calon istri gua yang bebas jalan dengan laki-laki lain !


dan gua kesini cuma mau bilang besok undangan mulai dicetak, dan lusa mulai di sebar, jadi gua minta lo untuk mukai jaga sikap lo !" seru Alvin.


"Hm," jawaban Yaya singkat.


"Cuma itu jawaban lo ?


lo gak ada kata-kata lain yang lebih mengandung arti selain hm ?" tanya a


Alvin.


"Sudahlah Vin, gua cape, kalau memang sudah gak ada yang harus dibahas lagi gua mau masuk dan tidur, ngantuk !" ucap Yaya seraya mengeluarkan kunci pintu asramanya.


Pintu dibuka, Yaya mulai masuk dan menutup pintu, tanpa berpamitan dengan benar pada Alvin.


Sementara Alvin tetap terdiam mematung didepan pintu.


"Gua kesini cuma ingin memastikan kalau lo pulang dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja," gumam Alvin dalam hati.


Setelah cukup lama ia akhirnya pergi dari asrama Yaya.


Keesokan harinya,


seperti biasa Felix dengan setia menjemput Yaya berangkat kekampus.


"Fel, " sapa Yaya dengan tatapan seolah ia sedang bertanya mau sampai kapan Felix melakukan hal ini untuknya.


"Hei, pagi gadis kecil tolong jangan larang aku, mengantar dan menjemput kamu.


Karena aku cuma punya waktu kurang dari satu minggu lagi untuk bisa sedekat ini dengan jamu, " ucap Felix dengan nada suara memohon.


Yaya tersenyum dan mengulurkan tangannya meminta helm untuknya, dan itu berhasil membuat Felix kembali tersenyum,


setelah memakai helm mereka berangkat kekampus.


Tak berapa lama kemudian akhirnya mereka sampai dikampus, dan sepertinya kabar tentang pernikahan Alvin dan Yaya sudah menyebar keseluruh penjuru kampus, karena tatapan orang-orang sudah mulai terlihat berbeda melihat Yaya.


"Lihat, itu bukannya Yaya calon istrinya Alvin, kenapa dia masih bisa jalan sama laki-laki lain sementara statusnya sebentar lagi akan menikah dengan Alvin !


ya ampun kasian sekali Alvin mendapatkan dia !


Ayo kita pergi ! " ucap anak-anak kampus bisik-bisik.


"Ia pergi sana yang jauh !" teriak Felix.


"Fel, sudahlah biarkan saja, gak penting ! " ucap Yaya seperti tidak mau terlalu ambil pusing.


Felix selalu menuruti kata-kata Yaya, hanya kadang ia tidak tahan jika ada orang yang menggunjingkan Yaya tanpa tau kebenarannya.


Yaya kembali berpamitan pada Felix untuk masuk kekelasnya.


Sementara Alvin sudah duduk manis dimejanya, kemudian Ajeng yang secara tiba-tiba datang dan menggebrak meja Alvin .dengan sangat kuat.


"VIN !!!


Apa maksudnya semua ini !" tanya Ajeng.


"Ada apa jeng ?" tanya Alvin yang tidak mengerti arah pertanyaan Ajeng.


"Harusnya gua yang nanya ada apa sama fikiran lo !


kenapa lo tiba-tiba memutuskan untuk menikah sama cewe yang lo benci itu ! " protes Ajeng.


"Jeng jangan berteriak disini !


ayo bicara ditempat lain," ajak Alvin seraya menarik Ajeng keluar dari kelas.


"Lepas Vin, lo mau bawa gua kemana ?" tanya Ajeng.


"Jeng lo bisa gak mengecilkan sedikit saja suara lo !" pinta Alvin dengan suara tinggi.


Yaya melihat perdebatan antara Ajeng dan Alvin ,ia mengikuti mereka dan berhenti untuk bersembunyi dibalik tembok didekat Alvin dan Ajeng yang sedang berdebat.


Saat itu Ajeng tidak sengaja melihat Yaya yang sedang bersembunyi memperhatikan mereka, dan dengan sengaja Ajeng memperkeras suaranya tujuannya agar Yaya tau kata-kata menyakitkan seperti apa yang akan dia dapatkan dari mulut Alvin langsung.