Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 55



Malam itu Ocha terus menemaninya tidak ingin meninggalkan Yaya sendiri, ia menginap diasrama Yaya karena Ocha terlalu khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Tapi Felix karena ia seorang laki-laki Felix tetap harus pulang.


Keesokan paginya.


Ini adalah hari kedua setelah kejadian itu, Yaya bangun dari tidurnya dengan malas, dia melihat sahabatnya masih tertidur sangat pulas, tanpa berusaha membangunkannya Yaya hanya membuatkan sarapan untuknya, dan juga untuk Felix yang sebentar lagi pasti akan datang, setelah selesai membuat sarapan Yaya membangunkan sahabatnya itu.


"Cha, bangun sudah siang ini, kamu harus kuliah Cha !" ucapnya seraya menarik selimut yang dipakai Ocha dan menggerak-gerakan badannya.


"Ia, sebentar lagi Yaya !" jawab Ocha sambil berusaha menarik lagi selimutnya.


"Aku sudah siapkan sarapan Cha buat kamu, sebentar lagi juga Felix pasti datang, ayo dong bangun, nanti jadi dingin makanannya," ucap Yaya.


Ocha akhirnya bangun dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih menyebar dan perlahan membuka matanya kemudian mulai berbicara.


"Yaya, aku gak akan kuliah hari ini," ucap Ocha.


"Kenapa gak kuliah ?


kamu sakit ?" tanya Yaya seraya menempelkan punggung tangannya dikening Ocha.


"Aku gak sakit Yaya, aku cuma mau menemani kamu saja disini, hari ini saja aku gak mau membiarkan kamu sendiri," pinta Ocha memohon.


"Nggak Cha,


kamu harus tetap kuliah, kamu gak usah khawatir tentang aku, karena aku baik-baik saja.


Sana pergi mandi, terus sarapan, karena aku yakin sebentar lagi bakal ada yang datang menjemput kamu," ucap Yaya mengingatkan.


"Dia bukan jemput aku, tapi dia jemput kamu !


dan kamu gak bisa meminta orang lain untuk tidak perduli sama kamu Yaya," ucap Ocha.


"Ia aku tau Cha, tapi aku gak cuma gak mau kamu dan Felix terus-terusan mengkhawatirkan aku, aku takut menyusahkan kalian itu saja !" seru Yaya.


"Ya, kamu gak pernah menyusahkan, aku dan Felix tulus perduli sama kamu," jawab Ocha.


Mendengar kata-kata Ocha membuat Yaya kembali menangis haru dan langsung saja memeluk Ocha, ia merasa sangat beruntung mempunyai orang-orang yang menyayanginya disekitarnya.


"Yasudah sana cepat mandi !" perintah Yaya lagi.


Tanpa banyak berkomentar lagi Ocha hanya mengangguk, dan langsung menuju kekamar mandi.


Tidak selang beberapa lama benar saja Felix sudah membunyikan klakson motornya didepan asrama Yaya.


Yaya membuka pintu dan meminta Felix untuk masuk kedalam asramanya.


"Fel, ayo sini masuk sarapan dulu, sebelum kekampus !" teriak Yaya dari depan pintu.


Felix nenganggukkan kepalanya, turun dari motor dan langsung menghampiri Yaya.


"Wah siapa ini yang masak ?" tanya Felix.


"Aku dong, hehe " jawab Yaya tersenyum kecil.


Felix juga ikut tersenyum melihat Yaya tersenyum, Felix meraih dan menggenggam jemari tangan Yaya.


"Kamu sudah merasa lebih baik ?" tanya Felix.


Yaya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata, tidak beberapa lama kemudian Ocha keluar dari kamar mandi dan mengejutkan keduanya, Yaya dengan cepat melepaskan genggaman tangan Felix, ketika Ocha datang dan langsung bergabung dengan mereka berdua.


Mereka menyantap sarapan pagi yang dibuat oleh Yaya itu sampai habis, setelah selesai mereka berpamitan untuk berangkat kekampus.


Ketika mereka pergi Yaya kembali mengunci pintu asramanya, mematikan lampu dan kembali ketempat tidurnya lagi, dia fikir saat ini belum ada yang bisa ia lakukan selain berusaha tetap tenang dan terus berfikir positif seperti nasehat dari Ocha.


Ocha melepas helm dan turun dari motor Felix setelah ia parkir.


"Fel, gua minta lo jangan dulu bertanya apa-pun sama Yaya, karena saat ini yang perlu lo tau Yaya gak butuh pertanyaan, yang Yaya butuhkan adalah dukungan dari kita, " ujar Ocha.


"Tapi Cha, menurut lo apa gua bisa kasih dia semangat sementara gua gak tau masalah apa yang lagi dia hadapi saat ini ?" tanya Felix.


"Menurut gua gak perlu ada alasan untuk memberi semangat yang positif untuk seseorang yang kita sayangi.


Jujur saja sama gua, lo sayang sama Yaya, kan ?" tanya Ocha menyelidik.


"Hm, ia Cha, gua sayang sama dia, tapi sepertinya dia sudah punya nama lain dihatinya,?" ucap Felix terlihat sedih.


"Ok kalau memang benar lo sayang sama Yaya, masalah siapa yang ada dihatinya itu seiring berjalannya waktu bisa lo gantikan posisinya.


Yang penting sekarang lo bisa buat gak banyak nanya dulu sama dia, dan lo sama gua harus kerja sama untuk membuat Yaya balik lagi kekampus," ujar Ocha.


Yang membuat Felix sadar kalau secara tidak langsung ternyata pertanyaannya hanya akan menambah beban untuk Yaya.


Disela lamunan Felix, Ocha melambai-lambaikan tangannya dihadapan Felix, tapi Felix tetap asik melamun.


"Felix !!!" teriak Ocha.


"Hah ?


ia apa Cha ?" jawab Felix gelagapan.


"Apa-apaan si lo malah ngelamun,


sudahlah gua ada kelas, gua masuk duluan ya " pamit Ocha yang langsung berlalu meninggalkan Felix.


Setelah sampai didepan kelas Ocha melihat Alvin dari kejauhan yang sedang tertawa lepas dengan teman-temannya.


"Bahkan lo masih bisa tertawa !!!


sementara teman gua lo buat hancur hidupnya !


kalau bukan karena Yaya yang minta untuk gua tetap pura-pura gak tau tentang masalah ini, lo sudah gua labrak dan gua permalukan Vin !" gumam Ocha dalam hati.


Ocha mulai melangkahkan kakinya kedalam kelas dan ada dua pasang mata yang melihat kearah pintu masuk saat Ocha datang. mungkin dia berharap ada Yaya sahabatku mengikutiku dari belakang, setelah tidak ada orang yang ia tunggu, sedikit terlihat ada raut kecewa diwajahnya.


#Alvin


"Kenapa dia gak masuk lagi hari ini ?


ini sudah hari kedua dia gak mengikuti kelas, kemana dia sebenarnya ?" gunamku dalam hati.


Sementara aku sedang sibuk berfikir, tidak sengaja aku melihat Ocha tengah memandangku dengan mata tajam seperti ingin memangsaku, aku bangun dari tempat dudukku dan menghampirinya.


"Hei, kenapa lo melihat gua seperti itu, ada masalah apa lo sama gua ?" tanyaku padanya seraya menggebrak mejanya.


Ocha ikut berdiri, dan menjawab Alvin dengan kata-kata yang tidak kalah jahatnya.


"Masalah lo bukan sama gua,


lo fikirin baik-baik, pantas atau gak orang seperti lo disebut manusia !" maki Ocha.


"Jaga mulut lo !


maksud lo apa ngomong gitu sama gua !" tanyaku dengan sangat jengkel.


Tapi Ocha hanya membalas pertanyaanku dengan tersenyum sinis, kemudian duduk lagi dikursinya tanpa menjawab lagi kata-kataku dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi