Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 76



"Apa pentingnya perasaan aku untuk kamu tahu Vin ?" tanya Yaya kembali.


"Jika aku bertanya itu artinya penting !


aku ingat dulu kamu pernah bilang kalau kamu meyesal karena pernah memiliki perasaan padaku, kamu juga berkata kalau kamu membutuhkan aku untuk membuat kamu benci sama aku dan terakhir kali kamu bilang bahwa kamu Cemburu, apa aku benar ?" tanya Alvin mencoba mengingatkan Yaya dengan semua kata-kata yang pernah ia ucapkan.


"Aku memang pernah berkata seperti itu, terus kenapa Vin ?


aku fikir itu masalalu, apa pentingnya kata-kata itu untuk sekarang ?"


"Aku hanya mencoba menyegarkan ingatan mu saja Yaya, lalu apakah kamu sudah berhasil melupakan perasaan itu ?" tanya Alvin lagi.


Dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Yaya tengah merasa bingung hendak memberikan jawaban seperti apa pada Alvin.


"Sudah tidak perlu dijawab, aku sedikitnya mengerti apa yang akan menjadi jawaban mu,


hanya saja sekarang aku sangat faham mengapa Felix tidak rela melepaskan mu," ucap Alvin berusaha bersembunyi dibalik senyumannya sendiri.


"Kamu bicara apa si Vin, memang apa yang kamu tau ?


kenapa kamu tiba-tiba bahas Felix, suka ya ?" tanya Yaya berusaha menggoda Alvin.


"Suka ?


tidak mungkin !


hanya saja aku melihat kamu begitu perduli padanya.


Ohh ia Yaya, kamu pasti merasa sakit saat harus meninggalkan Felix untuk menikah dengan ku ?


karena yang aku tahu kalian berdua mempunyai hubungan yang cukup dekat, ia kan ?" tanya Alvin dengan raut wajah muram.


"Hm, bisa dibilang seperti itu.


Felix itu orang yang sangat baik pada ku, di saat aku jatuh dia selalu ada untuk membantu ku bangkit, saat aku tidak ada tempat untuk mengadu Felix adalah orang yang selalu setia mendengarkan semua ceritaku, karena itulah aku merasa tidak pantas jika harus mendampingi orang sebaik dia," jawab Yaya seraya tersenyum.


"Pantas atau tidaknya itu tergantung siapa orang yang menjalaninya, dan sepertinya yang aku lihat kamu sangat menyangi dia,


maaf gara-gara aku kalian harus berpisah seperti ini untuk sementara waktu, tapi nanti pasti bisa bersatu kembali, kalian hanya perlu bersabar," ucap Alvin seraya berdiri, Yaya memandang Alvin yang sikapnya tiba-tiba berubah aneh.


"Ayo pulang, semua keluarga pasti khawatir mencari kita soalnya tadi kita pergi terburu-buru dan tidak berpamitan terlebih dahulu," ajak Alvin tanpa melihat kearah Yaya yang masih duduk ditempatnya.


Yaya menarik tangan Alvin untuk kembali duduk.


"Duduk dulu Vin," pinta Yaya.


Alvin menurutinya dan duduk tepat didekat Yaya.


"Kamu membawa aku kemari terburu-buru, dan sekarang kamu mengajak ku untuk kembali dengan cara yang sama ?" tanya Yaya.


"Maaf--" Alvin berusaha menjawab namun Yaya memotong kata-katanya.


"Vin, apa boleh kamu memberi aku kesempatan untuk menjawab pertanyaan kamu tentang kata-kata ku dulu ?" tanya Yaya dengan suara lembutnya.


Sementara itu Alvin hanya mengangguk kemudian menunduk tidak ada keberanian dalam dirinya untuk menatap mata Yaya.


"Lihat aku Vin," pinta Yaya.


Alvin menggeleng pelan tanpa jawaban.


"Alvin aku minta kamu untuk melihat aku dan katakan kalau selama ini memang benar kamu membenci ku !" seru Yaya.


"Yaya, bukannya kamu minta kesempatan untuk menjawab apa yang kamu katakan di masalalu ?


lalu sekarang kenapa kamu meminta aku untuk mengatakan hal itu ?" tanya Alvin dengan nada memprotes.


"Vin jangan mengalihkan pembicaraan, tolong sekali ini saja jawab aku," pinta Yaya lagi.


Alvin pun akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap dalam mata Yaya.


Alvin mencoba berbicara dengan tetap melihat mata Yaya tapi ternyata dia tidak benar-benar bisa melakukannya.


"Yaya, aku benci kamu !" ucap Alvin seraya memalingkan wajahnya.


"Kamu bohong !" ucap Yaya seraya tersenyum namun air mata mengalir diwajahnya.


"Kenapa kamu tersenyum dan menangis ?


siapa yang berbohong ?


aku tidak berbohong, buktinya aku bisa dengan lantang mengatakannya, kan ?" tanya Alvin


"Ia, kamu memang bisa mengatakannya, tapi kamu menghindari mataku, itu artinya kamu bohong Vin," jawab Yaya.


"Hm, terserah apa kata kamu saja Yaya, tapi intinya aku sudah menjawab tantangan dari kamu, dan sekarang waktu untuk kamu menjawab semuanya," ucap Alvin


"Aku pasti memberikan jawabanku Vin, tapi sebelum itu aku ingin kamu melakukan satu hal lagi untuk ku !"


"Apa itu ?" tanya Alvin.


"Cium aku !" seru Yaya.


Alvin membelalakan matanya sesaat setelah mendengar permintaan Yaya.


"Kenapa terkejut Vin ?


tidak bisa ?


tidak sanggup ?


tidak berani atau mungkin kamu takut---" kata kata Yaya terhenti saat Alvin mulai menciumnya secara tiba-tiba dan membuat


Yaya terkejut, ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya membalas kecupan Alvin, cukup lama mereka saling berciuman karena merasa gemas Yaya menggigit kecil bibir bagian bawah Alvin yang tentu saja membuatnya kesakitan dan menjauhkan diri dari Yaya.


sakit !" protes Alvin seraya memegangi bibirnya.


"Sakit ya ?


maaf, aku hanya merasa gemas, dan juga tidak mengerti, ternyata ada juga orang yang berkata benci, tapi bisa mencium orang yang ia benci dengan napsu yang tidak seperti orang membenci," goda Yaya dengan senyum yang menyungging dari bibirnya.


"Apa yang sedang kamu bicarakan sebenarnya ?


bukannya kamu yang minta untuk di cium ?


aku hanya melakukan apa yang kamu minta saja, jangan salahkan aku kalau ternyata jadinya memanas," jawab Alvin malu-malu.


"Lalu siapa yang salah ?" tanya Yaya.


"Tetangga !" seru Alvin mulai kesal.


"Vin, kamu marah ?


maaf, jangan cemberut ya, jelek," ucap Yaya kembali menggoda Alvin.


"Sudahlah tidak perlu dibahas,


oh ia tapi kenapa kamu tiba-tiba minta aku untuk mencium kamu ?" tanya Alvin.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja dulu saat pertama kali kamu mencium aku, apa alasan kamu ?


pasti ada alasannya kan ?


tidak mungkin tidak," tanya Yaya.


"Dulu itu sebenarnya aku hanya iseng saja, ditambah lagi karena aku bingung juga dengan perasaan aku sendiri, jadi aku berniat membuktikannya dengan mencium kamu ?" jawab Alvin.


"Lalu ?


jawaban apa yang kamu dapat setelah melakukannya ?" tanya Yaya lagi.


"Jawabannya adalah, sejak saat itu aku gak bisa melupakan ciuman pertama sama kamu, walaupun akhirnya mendapat tamparan tapi itu cukup adil," jawab Alvin cengengesan, membuat Yaya juga ikut tersenyum di buatnya.


"Akhirnya," gumam Alvin disela tawa mereka.


"Ha ?


akhirnya apa ?" tanya Yaya.


"Sebenarnya dulu aku pernah bertanya-tanya pada diriku sendiri, kapan senyum dan tawa kamu itu disebabkan oleh aku, tapi sekarang aku sangat bahagia Yaya karena bisa menjadi alasan kamu tertawa, dulu aku hanya bisa membuat kamu menangis, jengkel dan marah, berbeda dengan Felix yang selalu bisa membuat kamu bahagia," ungkap Alvin.


"Hm, sebenarnya aku sering Vin tertawa karena kamu, hanya saja kamu tidak pernah melihat kearah ku," jawab Yaya.


"Oh ia, kapan ?" tanya Alvin.


"Aku tertawa saat aku melihat kamu tengah bercanda dengan teman-teman mu,


sama seperti kamu, aku pun juga berharap suatu saat nanti aku adalah alasan kamu tertawa.


Haha, aku baru sadar ternyata kita sama sama munafik Vin," jawab Yaya.


Mereka tertawa bersama mengenang apa yang terjadi pada mereka belakangan ini, disela tawa itu, Alvin kembali merangkulkan tangannya kebagian belakang leher Yaya dan kembali menciumnya, saat mereka tengah terbuai, tiba-tiba ponsel Alvin berbunyi dan mengejutkan keduanya.


(Call Ajeng)


Yaya melihat sinis pada layar ponsel Alvin saat mengetahui siapa yang menghubungi Alvin.


"Terima saja Vin tidak apa-apa, siapa tahu itu penting," ucap Yaya.


"Baiklah, aku terima telphone dulu sebentar,"


Alvin berjalan keluar dari kamar hotel itu hanya untuk menerima panggilan dari Ajeng.


"Kenapa harus sejauh itu !" gumam Yaya pada dirinya sendiri.


Tidak terlalu lama kemudian Alvin kembali masuk dan tersenyum kearah Yaya seolah tidak terjadi apa-apa, Yaya pun membalas senyum Alvin dengan hambar.


"Kenapa senyum mu begitu ?" tanya Alvin seraya mencubit gemas pipi Yaya.


"Tidak apa-apa Vin, jangan cubit aku sakit Vin lepas," pinta Yaya.


"Yaya kamu kenapa tiba-tiba bersikap dingin seperti ini ?


apa aku melakukan kesalahan lagi ?" tanya Alvin bingung.


"Tidak Alvin !


lalu bagaimana keadaan Ajeng ?


apa dia baik-baik saja ?


sepertinya kamu harus menemui dia untuk memastikan keadaannya," ucap Yaya.


"Hm, sebenarnya aku memang harus menemuinya, karena Ajeng sepertinya tidak dalam keadaan baik," jelas Alvin.


"Ia, pergi saja Vin, aku tidak apa-apa," jawab Yaya dengan nada berpura-pura kalau dia baik-baik saja.


"Kamu memang sangat baik Yaya, kamu masih perduli pada dia walaupun dia sering menyakiti kamu, terimakasih sudah mengerti," ucap Alvin seraya mencium kening Yaya.


"Oh ia, kamu mau tetap disini atau kembali kerumah, biar aku antar kamu dulu ?" tanya Alvin.


"Aku disini saja Vin," jawab Yaya dengan senyum tipis.


"Ok, tunggu aku, aku akan cepat kembali lagi, aku pergi dulu, baik-baik disini ya," pamit Alvin seraya mencium kening Yaya lagi.


Waktu terasa berhenti berputar di sekitar Yaya, saat ia melihat Alvin melangkah pergi meninggalkannya karena mengkhawatirkan wanita lain, entah mau sampai kapan Ajeng tetap membayangi hidup Alvin.