Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 40



"Maksudnya gimana Vin ?


kenapa bisa semuanya gara-gara aku ? memang apa yang aku lakukan Vin ?


aku cuma berusaha membuat Avina berhenti menangis , itu saja.


Bagian mana yang salah dari tindakan aku itu Vin ?" tanya Yaya.


"Lo mau tau kenapa gua bilang ini semua gara-gara lo !


karena seharusnya yang meminum minuman itu adalah lo !


tapi kenapa lo kasih susu itu ke Avina , cewe sial !" bentak Alvin mengepalkan tinjunya dan mendaratkannya ketembok disamping Yaya.Itu membuat Yaya terkejut, terasa lemas kakinya dan langsung terduduk dihadapan Alvin.


"Jadi, maksud kamu susu itu sudah ada racunnya ?


dan memang kamu siapkan itu untuk aku ? seharusnya aku yang kena bukan Avina gitu ?" tanya Yaya dengan suara lirih, pandangannya juga kosong menatap kearah depan.


"Sudah faham sekarang !


lo harusnya gak pernah ada dikehidupan gua ! lo itu cuma bawa sial untuk orang-orang disekitar lo !


buktinya gara-gara lo hidup gua yang tadinya baik-baik saja, jadi berantakan ngerti gak lo !" bentak Alvin dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Yaya kembali terdiam air matanya mengalir seperti tidak terbatas.


Terus mengalir dan terjatuh tanpa henti meskipun tangisannya itu tanpa suara, tapi menangis tanpa suara itu jauh lebih menyakitkan untuknya.


"Kenapa lo diam !


dan kenapa juga lo masih disini !


gak ada yang membutuhkan lo disini !


gua tanya kenapa !


jawab !


lo punya mulutkan !


digunakan untuk apa mulut lo itu !


oh gua tau sekarang lo pasti nunggu orangtua gua datang, kan ?


dan menunjukan air mata buaya lo itu, biar lo gak disalahkan atas kejadian ini,


tapi sayangnya niat lo sudah kebaca !" ucap Alvin terus dengan nada tingginya.


"Alvin, aku gak pernah berfikir sampai sejauh itu Vin.


Vin boleh nggak seenggaknya kamu biarkan aku disini hanya sampai Avina bangun saja , dan sampai aku yakin kalau Avina baik-baik saja," pinta Yaya memohon.


"Gak perlu !


PERGI !" bentak Alvin lagi.


"Vin aku mohon biarkan aku disini sebentar lagi saja Vin, gak perlu sampai Avina bangun juga gak apa-apa, cukup sampai dokter selesai memeriksa Avina saja.


Seenggaknya aku tau keadaannya Vin," ucap Yaya seraya meraih dan memegang tangan Alvin, dia kembali memohon kemurahan hati dari Alvin, karena kegigihannya sampai membuat Alvin akhirnya benar-benar tidak punya pilihan lain selain membiarkan Yaya menunggu sampai dokter selesai memeriksa kondisi Avina.


"Ok, gua kasih izin lo disini hanya sampai dokter keluar dan memberitahukan keadaan Avina, setelah itu, jangan lagi tunjukan wajah lo yang berpura-pura polos itu didepan keluarga gua !" jawab Alvin mengizinkannya dengan syarat.


Mendengar Alvin memberinya izin, Yaya tersenyum dengan jawaban Alvin yang ternyata mengizinkannya menunggu walaupun tidak sampai Avina tersadar, tapi setidaknya dia tahu dulu kalau Avina baik-baik saja.


Semua larut dalam kegelisahan menunggu dokter keluar dari ruang periksa, tidak lama kemudian dokter keluar, membuat Alvin secara spontan berlari menghampiri dokter yang tadi menangani Avina,


sementara Yaya hanya bisa memperhatikan dari kejauhan tanpa berani ikut campur ia hanya menunggu kabar dari Alvin.


"Dokter gimana keadaan keponakan saya , dia baik-baik saja, kan ?" tanya Alvin.


"Tidak ada yang mengkhawatirkan pak, karena untungnya dia cepat ditangani, sebenarnya obat yang dia minum itu bukan untuk dikonsumsi anak seusia dia, tapi tidak perlu khawatir karena sebentar lagi dia akan siuman, sabar saja pak " . ucap dokter menjelaskan.


Alvin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan menarik nafas panjang, terlihat jelas raut lega dari wajahnya.


Setelah dokter pergi Yaya mencoba mendekati Alvin untuk menanyakan apa yang dibicarakan dokter tadi padanya.


"Vin, " ucap Yaya memanggil nama Alvin dengan suara lirih.


Namun bukan jawaban yang ia dapat melainkan Alvin yang berbalik dan langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Vin, dokter bilang apa ?" tanya Yaya dengan suara lirih karena takut dibentak lagi oleh Alvin.


"Avina baik-baik saja, dokter bilang sebentar lagi dia akan segera bangun," Ucap Alvin yang belum sadar dengan apa yang tengah ia lakukan.


Mendengar bahwa Avina baik-baik saja Yaya tersenyum dan merangkulkan juga tangannya ketubuh Alvin, ia hanya bermaksud membalas pelukan Alvin, namun pelukannya membuat Alvin tersadar.


"Apa yang lo lakukan ! " Ucap Alvin seraya melepaskan tangan Yaya yang melingkar ketubuhnya, saat ia menyadari kalau ia sedang memeluk Yaya seperti orang yang tidak pernah ada masalah apa-apa sebelumnya.


"Ok sekarang lo sudah tau gimana keadaan Avina, jadi gak ada alasan lagi untuk lo tetap berada disini.


Pergi !" ucap Alvin mengingatkan perjanjian mereka diawal.


Selesai bicara Alvin mencoba berjalan menjauh dari Yaya.


"Vin, terimakasih untuk kesempatannya yang sangat berharga," kata Yaya yang membuat Alvin menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Namun tanpa berbalik melihat kearah Yaya Alvin mencoba menjawabnya.


"Gak usah basa-basi mendingan sekarang lo cepat pergi, sebelum gua benar-benar hilang kesabaran !" ancam Alvin pada Yaya.


Yaya tersenyum dan berjalan kearah yang berlawanan dengan jalan yang diambil Alvin saat ini.


Alvin membalikan badannya dan mencoba melihat kearah Yaya lagi yang sudah berjalan menjauh darinya .