Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 54



"Cha terimakasih, berkat nasehat dan masukan dari kamu setidaknya aku bisa sedikit berfikiran positif sekarang.


Semoga saja apa yang kamu katakan benar gak ada dampak buruk untuk hidup aku setelah ini, dan semoga masa depan cerah itu masih bisa aku miliki," ucap Yaya mencoba tersenyum disela-sela tangisnya.


"Sama-sama Yaya, kamu itu sahabat aku, bahkan sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, jadi sakit yang kamu tanggung saat ini aku bisa merasakannya walaupun tidak sedalam kamu.


Jadi coba untuk berhenti menangis, dan kembali seperti Yaya yang dulu selalu bersemangat untuk masa depannya !


dan satu lagi ayo bereskan kamar ini, berantakan !


jangan sampai ada kecoa sama tikus, karena ini sudah terlihat seperti gudang, berantakan dan jorok," goda Ocha sampai akhirnya bisa membuat Yaya tersenyum, Ocha terus berusaha mencairkan suasana hati Yaya yang sedikitnya masih terlihat tegang.


"Bantu aku, " pinta Yaya dengan nada manja bersandar dibahu Ocha.


"Ia aku bantu tenang saja.


Oh ia sampai lupa, Felix masih menunggu didepan Ya !


apa dia sudah boleh masuk sekarang ?" tanya Ocha meminta izin Yaya.


"Ia gak apa-apa Cha suruh dia masuk sekalian bantu aku beberes, haha " jawab Yaya mempersilahkan.


"Beres Yaya, dia pasti mau kalau itu demi kamu," ucap Ocha.


Ocha berjalan mendekati pintu, dan membuka pintu itu untuk Felix, tapi Ocha tidak sampai keluar dari balik pintu itu, dia hanya memanggil Felix dari dalam.


Sementara dari kejauhan terlihat mobil Alvin parkir di seberang asrama Yaya, ia mengabadikan lewat foto diponselnya saat Felix masuk kedalam kamar Yaya.


Alvin tidak melihat siapa yang membuka pintu itu, tapi ia fikir diasrama itu hanya ada Yaya, dan ia meyakini kalau yang membuka pintu tadi memang benar Yaya.


#Alvin


"Hah (tersenyum sinis), ternyata bukan cuma gua yang tidur sama dia, rupanya dia juga membawa laki-laki lain untuk masuk kekamarnya , memang benar-bebar murahan," gumamku.


Tanpa ingin berlama-lama disana aku langsung menancap gas mobilku dan pergi dari depan asramanya.


Niat hati keluar mencarinya adalah agar Avina mau makan, karena Avina merindukannya , jadi semuanya demi keponakanku Avina, tapi kepergianku mencarinya ternyata sia-sia saja, malah aku menemukan kebenaran tuduhanku padanya selama ini, aku tidak tau apa ini bisa dibilang keberuntungan atau kesialan " gumamku lagi.


"Tapi yang gua tau ternyata dia benar-benar gampangan, gak cukup tidur sama gua saja dia bahkan juga tidur sama Felix !


gua gak perduli apa yang lo lakukan, yang terpenting sekarang gua sudah punya senjata kalau suatu saat lo berani menyerang gua.


Gua bakal tunjukkan foto ini pada semua orang sebagai bukti kalau yang tidur sama lo itu bukan cuma gua !" Alvin tertawa jahat.


#Author


Alvin tertawa karena dengan foto yang ia dapatkan dan yang ia sebut itu sebagai bukti dikemudian hari untuk melawan Yaya.


Sementara itu diasrama Yaya, mereka bertiga membereskan kekacauan disana, Felix mengerjakan sesuatu yang berat, kemudian ia memungut alas kasur yang berserakan dilantai, dan hendak melipatnya tapi mata Felix memandang tajam kearah bercak darah yang ada dialas kasur itu, dan ia kembali membahasnya seraya menunjukan alas kasur itu pada Yaya.


"Hei gadis kecil, kalau lagi datang bulan itu yang bersih dong, masa sampai tembus mengenai alas kasur gini, haha dasar jorok !" seru Felix menggodanya.


Kata-kata Felix membuat Ocha dan Yaya saling pandang, Yaya memberi isyarat mata kepada Ocha untuk mengambil alih alas kasur itu dari tangan Felix.


Ocha mengerti dengan isyarat yang Yaya berikan, dan langsung menghampiri Felix untuk mengambilnya.


"Fel, hm,


gua saja yang mengurus alas kasur ini,


"Hah, hm


ia Fel, aku memang sangat lapar, karena dari pagi aku belum makan apa-pun sama sekali,


tolong ya Fel," pinta Yaya memohon.


Felix berjalan mendekati Yaya, dan memegang kedua bahu Yaya yang secara pasti membuat Yaya melihat kearah Felix dengan sedikit ada rasa takut.


"Ada apa Fel," tanya Yaya.


"Nggak apa-apa Ya, kamu yakin sudah baik-baik saja ?" tanya Felix.


Yaya hanya mengangguk menjawab Felix.


"Baguslah kalau memang kamu sudah baik-baik saja.


Aku yakin suatu saat nanti, kamu pasti akan menceritakan semuanya saat kamu sudah tidak mampu memendamnya sendiri.


Walaupun gak sekarang," ucap Felix.


"Ia Fel , maafkan aku untuk saat ini aku belum bisa cerita apa-apa sama kamu, dan terimakasih untuk tetap menunggu," ucap Yaya dengan perasaan bersalah.


"Nggak apa-apa Ya, yang penting buat aku sekarang kamu itu baik-baik saja, walaupun sebenarnya senyum kamu gak pernah bisa bohong,"


"Maksudnya apa Fel ?" tanya Yaya.


"Ia ,senyum kamu gak bisa bohong.


Kamu bilang kalau kamu dalam keadaan baik saat ini, tapi senyum kamu berkata lain Yaya !


tapi gak apa-apa, untuk saat ini aku senang bisa tetap melihat kamu terus berusaha untuk tersenyum.


Terus tersenyum Yaya aku sering bilang, bahwa senyum kamu membuat kamu tambah cantik, " ujar Felix.


Yaya mencoba tersenyum untuk Felix, sementara Ocha melihat gelagat Yaya yang seperti merasa tertekan oleh sikap Felix saat ini, Ocha mencoba membuat Felix untuk sementara tidak kontak fisik dulu dengan Yaya.


Ocha mendekati Felix dan Yaya kemudian melepaskan tangan Felix dari bahu Yaya.


"Fel mau sampai kapan kamu terus bicara berapa lama lagi?


kamu membiarkan aku sama Yaya menunggu makanannya ?


sementara kamu saja belum pergi, giru ? cepat pergi Fel, kita lapar !" protes Ocha.


"Ia ia bawel !" jawaban Felix sebelum meninggalkan asrama Yaya.


Setelah Felix pergi Ocha kembali kepekerjaannya melipat alas kasur itu, namun Ocha menghentikan aktivitasnya karena Yaya menghampirinya dan kembali memeluk Ocha dengan sangat erat.


"Kenapa Yaya ?" tanya Ocha yang merasa bingung dengan sikap Yaya.


"Makasih Cha, kamu benar-benar sahabat aku, karena kamu selalu bisa faham semuanya tentang aku dan apa yang aku inginkan, " ucap Yaya.


"Karena aku tau Ya, kamu butuh waktu untuk kembali seperti semula," jawab Ocha.


Yaya mengangguk pelan, dan merekapun kembali melanjutkan pekerjaan mereka membereskan asrama Yaya.