
Alvin melangkah menuju mobilnya, sebelum mobil itu melaju ia memandangi alamat Yaya yang dikirim oleh ayahnya melalui pesan singkat diponselnya, ia pernah mengantar Yaya sebelumnya namun ia melupakan jalannya, dengan tersenyum sinis Alvin mulai melajukan mobilnya menuju alamat Yaya.
Setelah lama menelusuri jalan mencari alamat Yaya, akhirnya ia menemukan alamat itu dan saat sampai didepan asrama Yaya, Alvin menghentikan mobilnya secara mendadak karena ia melihat pemandangan yang membuat wajahnya memerah terasa panas seperti terbakar .
Alvin menggenggam stir mobilnya dengan kuat, saat melihat Felix dan Yaya sedang berbincang diberanda asrama Yaya, mereka terlihat sangat dekat, Yaya terlihat tertawa lepas tanpa beban, seakan tidak terjadi apa apa sore tadi.
"Hm, mereka memang terlihat sangat cocok ternyata, dua orang gak tau malu, dan sangat membosankan.
Lalu untuk apa aku kesini sebenarnya ?" gumam Alvin dengan pandangan tajam kearah Yaya dan Felix.
Sepertinya Alvin merasa sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan yang ia anggap membosankan didepannya itu, ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan mampir kesebuah bar, Alvin memesan beberapa botol minuman ber-alcohol, tanpa jeda ia menghabiskan semua minuman itu dan kemudian membuat kesadaran Alvin mulai berkurang malam itu, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelphone seseorang dan orang yang ia telphone itu adalah Yaya.
Yaya : Hallo , dengan siapa ini ?
Alvin tidak mencoba menjawabnya kembali , ia hanya mendengarkan suara Yaya, matanya mulai berkaca-kaca dengan senyum hambar terlukis diwajahnya.
Yaya : Hallo , Hallo ini siapa ?
"Siapa itu Ya ?" tanya suara lain yang terdengar ditelphone itu.
Mendengar suara lain itu membuat senyum hambar Alvin seketika menghilang dan berganti dengan kerutan dikeningnya, karena ia sangat yakin suara itu adalah suara Felix,
Alvin mematikan telphonenya dan kembali mengangkat gelas didepannya, dia terus meminta pelayan untuk menambah minumannya.
"Bawakan gua dua botol minuman lagi, cepat ! " teriaknya kesalah satu pelayan.
Pelayan itu dengan cepat memberikan pesanan Alvin.
Setelah dirasa Alvin sudah benar-benar tidak sanggup lagi meneruskan aktivitas minumnya, ia meminta tolong pada seorang pelayan untuk membantunya memesan taxi dan mengantarnya pulang.
Kemudian tanpa banyak bertanya lagi pelayan itupun memesankannya taxi,
tapi ia bukannya memberikan alamat rumahnya kepada supir taxi itu, ia justru menunjukan alamat yang tertulis dipesan singkat ponselnya.
"Selamat malam mas, mau diantar kemana ?" tanya supir taxi.
"Antar kealamat ini pak, cepat !
jangan lama-lama, orang yang saya suka sedang diganggu orang lain !
kalau gak bisa cepat nanti bapak saya laporkan keatasan bapak !
cepatan jalan ! "
perintah Alvin seraya memberikan alamat yang ada diponselnya , suara Alvin sudah terdengar kalau ia saat ini tengah mabuk berat.
"Baik mas, " jawab supir taxi.
Supir taxi itu melajukan mobilnya sesuai dengan keinginan dari pelanggannya, setelah beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, namun Alvin terlihat tidak sadarkan diri, ia tertidur didalam taxi.
"Mas, mas," panggil supir taxi itu mencoba membangunkan Alvin.
Cukup lama membangunkannya, akhirnya Alvin membuka matanya.
"Mas sudah sampai kealamat yang dituju," ucap supir taxi itu memberitahu.
Alvin mengangguk dan membayar ongkos taxi, setelah turun dari taxi, ia mulai berjalan kerumah yang ia tuju.
Alvin mengetuk pintu rumah itu dengan sangat kuat.
"Buka pintu !" pinta Alvin seraya terus mengetuk pintu itu.
"Siapa diluar ?" tanya orang yang punya rumah.
"Buka pintunya !
gak usah banyak tanya !
cepat buka !" teriak Alvin.
Ternyata alamat yang dituju Alvin adalah asrama Yaya.
#Yaya
"Apa itu suara Alvin ?
suaranya terdengar seperti orang mabuk, ada apa lagi ini sebenarnya ?" gumamku.
Aku membuka sedikit tirai jendelaku dan benar saja dugaan ku, itu adalah Alvin yang sedang mabuk, kondisinya terlihat sangat parah.
"Aku harus gimana ?
apa yang harus aku lakukan ?
Apa aku gak usah buka pintu saja ?
tapi kalau aku nggak buka pintu tetangga pasti bangun dan bakal jadi keributan.
Alvin kenapa kamu selalu menimbulkan masalah dihidup aku !
apa mau kamu sebenarnya Vin ?" gumamku lagi.
"BUKA PINTUNYA !!!
BUKA !!! " teriak Alvin lagi masih sambil mengetuk pintu dengan kuat.
Akhirnya tanpa fikir panjang lagi aku membuka pintu asramaku untuk Alvin.
"Vin apa yang lo lakukan disini ?" tanyaku.
"Berisik !
banyak tanya !" jawab Alvin yang tanpa dipersilahkan dia langsung masuk kedalam asramaku dan tidur diatas tempat tidurku.
"Alvin bangun, lo harus pulang !" teriakku seraya menarik tangan Alvin untuk membangunkannya dari tidurnya.
"Lo bisa diam gak ?
gua ngantuk !!" bentak Alvin.
"Ini bukan tempat lo, jadi lo gak berhak ngatur-ngatur gua, ini tempat tidur gua Alvin !" aku membentaknya balik.
Alvin bangun dan duduk dipinggir tempat tidur, dia menatapku dengan matanya yang terlihat teduh dan sembab, aku berfikir kalau dia sebelumnya habis menangis karena matanya terlihat bengkak.
Belum habis lamunanku, aku dibuat terkejut karena dia memegang tanganku dan mencium punggung tanganku dengan sangat lembut, ia juga meletakan kedua telapak tanganku diantara wajahnya yang terasa hangat.
"Duduk, " ucap Alvin memintaku untuk duduk disampingnya.
Tidak tau kenapa aku patuh dan menuruti perintahnya, mungkin karena untuk pertama kalinya dia meminta dengan sangat lembut dan aku akhirnya duduk disampingnya, posisi kami saat ini sangat dekat hampir tidak ada jarak.
#Author
Alvin menatap mata Yaya sangat dalam, sangat dalam sampai membuat mereka melupakan kebencian diantara mereka.
Alvin merapihkan rambut Yaya dan membelai lembut pipi Yaya,
Alvin juga lebih merapatkan lagi duduknya agar lebih dekat dengan Yaya.
Kemudian Alvin mengecup mesra kening Yaya, Alvin menyentuh bibir Yaya dengan jari tangannya, sangat lembut sampai membuat Yaya memejamkan matanya, sampai akhirnya Alvin benar-benar menciumnya, lembutnya ciuman Alvin membuat Yaya sampai meneteskan air mata.
"Bibir kamu sangat lembut, dan terasa manis," gumam Alvin dengan suara berbisik ketelinga Yaya, terdengar nafas Alvin mulai memburu saat berbisik ditelinga Yaya.
Tangannya mencoba melepaskan kancing baju tidur yang Yaya kenakan,
Yaya yang merasa tindakan Alvin sudah berlebihan secara cepat menahan tangan Alvin untuk menghentikan niatnya.
"Vin, jangan ya," ucap Yaya sambil menggelengkan kepalanya meminta Alvin untuk berhenti.
Tapi Alvin tidak mendengar Yaya, dan kembali mencium Yaya dengan paksa, kali ini ciuman Alvin tidak selembut tadi, ciumannya sudah bercampur dengan nafsu yang menggebu, karena pengaruh alcohol yang ia minum,
Alvin merebahkan dan menahan tubuh Yaya dengan kuat dibawahnya, dengan tenaga Alvin yang kuat ,Yaya tidak bisa melawannya lagi, setiap Yaya mencoba berontak Alvin selalu menamparnya dan bersikap semakin kasar pada Yaya.
Yaya hanya bisa menangis menerima perlakuan Alvin padanya malam itu.
Rasa sakit disekujur tubuhnya masih terkalahkan dengan rasa sakit dihatinya saat mendapat perlakuan itu dari Alvin.
Malam itu menjadi malam terburuk dihidup Yaya, ia kehilangan segala-galanya.
Harga diri yang Yaya jaga selama ini direnggut oleh orang yang sangat membencinya.