
Pelajaran pertama hari itu berjalan dengan sangat lancar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, namun saat kelas berakhir Ocha mengajak Yaya kekantin tapi Yaya lebih memilih untuk tetap berada dikelas.
"Ya ayo kekantin, aku sudah lapar. ," ajak Ocha
"Duluan saja Cha, aku ketinggalan banyak catatan karena terlalu lama tidak mengikuti, jadi sekarang waktunya aku untuk mengejar ketertinggalan," jawab Yaya seraya terus menulis catatan.
"Hm , kalau begitu kamu mau nitip sesuatu gak ?
nanti aku bawakan untuk kamu," tanya Ocha pada Yaya.
"Nggak usah Cha, aku belum lapar nanti kalau aku mau, aku tinggal kirimi kamu pesan saja Cha, " ucap Yaya seraya terus mengejar ketertinggalannya dipelajarannya selama satu bulan terakhir.
Ocha mengangguk menyetujui kata-kata Yaya, dia dan teman-teman lainnya berhambur pergi keluar kelas.
Sementara Alvin tetap duduk diam dimejanya dan terus memperhatikan Yaya, seakan Alvin memang sengaja sedang menunggu kelas itu sepi.
Setelah semua anak tidak ada lagi dikelas Alvin mulai berani menghampiri Yaya, ketika sudah didepan Yaya ia menggebrak meja Yaya dan membuat Yaya sangat terkejut.
"Heh !" Seru Alvin.
Yaya hanya melihat sebentar kearahnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya, dan kembali lagi mencatat pelajarannya, ia bersikap seolah tidak ada siapa-siapa saat ini didepannya, Yaya benar-benar mengabaikan Alvin.
Sikap Yaya membuat Alvin semakin naik darah, ia menggenggam erat lengan Yaya dan menekan tangannya diantara bahu Yaya.
"Heh lo dengar gua gak !
punya telinga gak lo, hah ?
lo lagi berusaha menghindari gua, ia ?
kenapa ?
oh pasti karena lo gak punya muka untuk ketemu gua, kan ?
karena lo sudah berani menjebak gua untuk tidur sama lo ?
jadi lo malu gitu ketemu gua, kan ?
haha, ngomong-ngomong setelah gua kemarin siapa lagi yang lo ajak tidur bareng, siapa lagi yang berhasil lo tipu kali ini ?
karena lo gak berhasil menjebak gua jadi lo milih buat menghindari gua gitu, kan?" tanya Alvin.
Yaya mulai kesal dan berdiri dari duduknya berusaha menarik tangannya dari genggaman Alvin, tapi genggaman Alvin saat itu sangat kuat, dan membuat Yaya sudah tidak tahan lagi, akhirnya Yaya menampar Alvin dengan tangan Yaya yang sebelahnya untuk kesekian kalinya, tapi setelah Yaya menamparnya, Yaya tidak kunjung mau menjawabnya.
"Heh, cewe sialan lo berani nampar gua lagi !
ini sudah berapa kali sama ini lo gampar gua !
mau gantian lo gua gampar, hah !" maki Alvin.
"Gampar saja, bahkan yang lebih menyakitkan dari tamparan saja sudah pernah gua dapatkan dari lo.
Dan sekarang lebih baik lo pilih salah satu, mau menyakiti hati gua, atau fisik gua !
jangan serakah !" ucap Yaya dengan nada yang sangat datar.
heh mau gua menyakiti hati lo atau fisik lo itu terserah gua, gak usah lo atur dan lo suruh gua buat milih, karena gua bisa melakukan keduanya dalam satu waktu !" jawab Alvin.
Yaya membereskan buku-bukunya dan memasukannya kedalam tas, Yaya berniat untuk menyusul Ocha kekantin tapi sebelum pergi Yaya sempat mengatakan.
"Ia terserah, gua cuma minta satu hal, berhenti ganggu gua !
karena gua sudah lelah berurusan sama lo, permisi !" ucap Yaya seraya berjalan melewati Alvin.
Alvin menarik dan menggenggam tangan Yaya dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya dia gunakan untuk menarik belakang leher Yaya agar lebih dekat dengan wajahnya.
Tanpa meminta persetujuan dari Yaya, Alvin lalu mencium bibir Yaya, membuat mata Yaya membelalak karena terkejut.
Yaya diam saja dicium Alvin, dia tidak berontak seperti yang biasa Yaya lakukan.
tapi Yaya tidak membalas kecupan Alvin dibibirnya, dan Yaya juga tidak mencoba untuk memejamkan matanya, karena merasa Yaya tidak melawan saat ia cium, sambil terus mengecup bibir Yaya Alvin membuka matanya, dan melihat mata Yaya tetap terbuka.
Mata itu tidak memandang kearah Alvin yang saat ini tengan menciumnya dan bibir Yaya juga menutup sangat rapat, seakan tidak mengizinkan Alvin untuk menciumnya.
Alvin perlahan melepaskan ciumannya saat air mata Yaya mulai mengalir mengenai pipi Alvin.
Alvin terdiam sesaat melihat mata Yaya, Alvin bisa melihat sorot kebencian dari mata itu, dan air mata itu lebih tepatnya adalah air mata kehancuran untuknya.
Sementara genggaman Alvin ditangan dan leher Yaya yang awalnya terasa kasar, kini menjadi renggang dan sangat lembut.
Sementara Alvin memandang Yaya, dengan banyak tanda tanya,
Yaya tidak mengatakan satu patah katapun, untuk mengomentari apa yang baru saja Alvin lakukan padanya.
"Kenapa lo diam ? " tanya Alvin dengan suara lirih, tanpa membentak.
Yaya tidak menjawab Alvin, Yaya memilih untuk tetap diam.
Diam Yaya ini membuat Alvin marah dan kembali membentak Yaya, agar Yaya mau bicara dengannya lagi.
"Jawab gua !
kenapa lo gak jawab gua lagi seperti apa yang lo lakukan tadi !" maki Alvin.
Ketika Alvin tengah membentak kearah Yaya, tiba-tiba saja Felix yang saat itu sengaja datang kekelas untuk mencari Yaya, terkejut melihat Alvin yang masih memegang leher Yaya, apa lagi Alvin terlihat memaki Yaya. Tanpa menunggu lama Felix berlari dan menghajar Alvin sama seperti saat dirumah sakit, kali ini Alvin juga tersungkur saat di hajar oleh Felix.
"Lo kenapa Vin gak ada berhenti-berhentinya lo mengganggu Yaya !
mau lo apa sebenarnya !" maki Felix.
"Fel sudah ayo pergi,
sudah cukup !
jangan sakiti diri kamu sendiri dengan menghajar dia, karena orang seperti dia, mau dihajar sampai mati juga dia gak akan pernah sadar dengan kesalahannya sendiri,
Ayo pergi Fel," ajak Yaya.
Kali ini Yaya yang membawa Felix pergi,sementara Alvin terlihat masih kesakitan karena bibir kirinya yang pecah dan mengeluarkan sedikit darah, saat dipukul oleh Felix, tapi Yaya tetap tidak memperdulikannya ia tetap pergi bersama Felix.