
"Oke gua diam, tapi sekarang tolong lo jelaskan apa maksudnya semua orang membicarakan lo yang mau nikah sama si miskin itu ?
dan apa benar yang gua dengar kalau lo menikahi dia karena lo yang sudah mulai tergila-gila sama dia ?" tanya Ajeng dengan mata yang terus mengawasi Yaya dari kejauhan.
"Apa maksud lo dengan tergila-gila ?" tanya Alvin bingung.
"Ya gua gak tau Vin, gua hanya menyampaikan apa yang gua dengar saja !
maka dari itu gua minta lo untuk menjelaskannya !" ucap Ajeng.
"Ya ampun Jeng gosip dari mana datangnya itu !
gak mungkin gua tergila-gila sama dia, yang ada lo tau sendiri gua sangat membenci dia bahkan gua ingin sekali menyingkirkan dia dari hidup gua !
jadi jangan ngaco, gua jadi ingin ketawa mendengarnya," jawab Alvin masih dengan tawanya yang sama.
"Oh gitu, baguslah kalau lo masih sadar sama kebencian lo sama dia.
Terus kalau masalah lo yang mau menikahi dia itu juga gosip juga ?" tanya Ajeng lagi.
"Nah kalau itu--
itu memang benar jeng, " jawab Alvin datar tanpa ekspresi.
"Hah !
lo gila Vin, lo bilang benci sama dia !
tapi lo mau menikahi dia, apa yang ada difikiran lo itu sebenarnya Vin ?" tanya Ajeng dengan nada memaki.
"Hei dengar aku dulu Jeng,
gua itu menikahi dia karena gua kasihan sama nasib dia, gua juga terpaksa melakukan ini semua Jeng," Alvin menjawab spontan.
"Maksudnya ?
ada apa sebenarnya Vin ?
lo gak pernah ada rahasia selama ini ?" tanya Ajeng.
"Dia hamil jeng," ucap Alvin seraya memandang Ajeng yang saat itu sangat terkejut.
"HAMIL !
lo menghamili dia !
dimana fikiran lo kenapa lo bisa melakukan itu sama dia Vin !" ucap Ajeng yang kali ini dia mulai berteriak karena terkejut.
"Ajeng kecilkan sedikit suara lo, semua orang akan dengar !" bentak Alvin.
"Ya tapi--"
"Dengar dulu, gua juga gak tau awalnya bagaimana bisa jadi seperti ini, tapi yang jelas malam itu gua mabuk berat, gua gak bisa mengingat apa-apa, dan ketika gua sadar paginya gua bangun ditempat tidur dia Jeng, dan gua melihat ada bercak darah segar di atas alas kasurnya, gua fikir gua memang melakukannya, tapi gua gak bisa mengingatnya, dan posisi gua saat itu juga tidak memakai apa-apa !
kemudian hari dimana dia positif hamil Felix datang kerumah menemui orangtua gua, dan dia memberitahukan semuanya," ucap Alvin mencoba menjelaskan kronologinya.
"Terus lo percaya begitu saja kalau itu memang benar anak lo ?
lo jangan bodoh Vin, mungkin saja dia sedang berusaha untuk menjebak lo !" ucap Ajeng mencoba mempengaruhi Alvin.
"Ia awalnya gua juga berfikir seperti itu Jeng,
dan gua juga gak bodoh bisa masuk perangkap dia begitu saja, gua yakin dia cuma ingin membalas dendam, dan mengambil semua harta orangtua gua.
Jadi gua membuat perjanjian dengannya, gua akan menceraikan dia segera setelah anak itu lahir, dan dia gak akan pernah mendapatkan apa-apa !" ucap Alvin, mulutnya mengatakan hal demikian tapi hatinya terasa sakit dengan apa yang ia sendiri ucapkan.
Mendengar semua penjelasan Alvin, Ajeng akhirnya tersenyum puas.
Saat Ajeng mengalihkan pandangannya kearah Yaya, ia melihat Yaya akan melangkah keluar dari persembunyiannya, kemudian Ajeng bergegas merangkul tubuh Alvin dan menarik wajah Alvin sampai sangat dekat dengan Ajeng lalu menciumnya.
Yaya mematung ditempat dengan air mata yang terus mengalir, saat melihat Ajeng dan Alvin berciuman didepan matanya.
Alvin yang juga terkejut saat dicium oleh Ajeng secara spontan mendorong Ajeng menjauh darinya.
"Jeng apa yang lo lakukan !" bentak Alvin seraya membersihkan bibirnya, tapi Ajeng terlihat santai dan tersenyum sinis memandang kearah Yaya.
"Hai Yaya sejak kapan lo disitu ?" tanya Ajeng berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Yaya.
Alvin kembali dibuat terkejut mendengar Ajeng menyebut nama Yaya, tidak berani melihat kearah belakangnya sendiri.
"Cukup lama, untuk bisa mendengar dan menyaksikan semuanya !
Permisi !" ucap Yaya berlari dengan sangat cepat kearah yang berlawanan dari kelasnya.
Kemudian ia berlari mengejar Yaya dan meninggalkan Ajeng yang masih dengan senyum sinisnya.
"Yaya, tunggu sebentar gua bisa jelaskan semuanya, " Alvin berteriak sambil terus berlari mengejar Yaya.
Tapi Yaya tetap tidak menghiraukannya, ia terus berlari mengarah kebelakang gedung,
namun langkahnya terhenti karena didepannya ternyata jalan buntu. Mau tidak mau Yaya akhirnya berbalik dan melihat Alvin yang sudah berdiri dibelakangnya,
tapi Yaya tetap mencoba berlari untuk menghindari Alvin, usahanya gagal karena Alvin dengan cepat sudah menggenggam tangan Yaya.
"Lepas, sakit !" pinta Yaya.
"Kalau lo mau gua lepas, lo tenang dulu, gua bisa jelaskan semuanya.
Gua yakin lo cuma salah paham, tadi itu gua juga tidak menyangka Ajeng tiba-tiba mencium gua !" ucap Alvin mencoba menjelaskan.
"Aku gak perduli Vin !
salah paham apa ?
kenapa lo harus repot-repot memperjelas semuanya ?
memangnya gua siapa buat lo ?
untuk apa juga lo harus mengejar gua cuma untuk memperjelas !
mau lo cuma kasihan sama gua ,lo gak percaya sama gua ataupun lo mau mencium siapa saja itu bukan urusan gua, gua gak perduli sama lo karena gua juga sudah mulai benci sama lo !
gua benci sama lo Alvin !
lo dengar gak !" Maki Yaya.
"DIAM !
sekarang kalau lo benci sama gua ,
Terus kenapa lo harus lari !
dan kenapa lo harus menangis sekarang !" bentak Alvin.
"Gua lari karena,
karena gua gak mau jadi pengganggu diantara kalian berdua,
dan gua gak menangis, mata gua hanya kelilipan !" jawab Yaya.
"BOHONG !
lo bohong !" ucap Alvin tidak percaya dengan apa yang Yaya jelaskan.
"Atas dasar apa lo menuduh gua bohong Vin ?" tanya Yaya.
"Bilang sama gua, apa alasan lo lari sambil menangis seperti ini !" tanya Alvin lagi seraya memperkuat cengkramannya pada tangan dan dagu Yaya.
"Lepas Vin, sakit !" rengek Yaya dengan air mata yang terus mengalir.
"JAWAB !
gua gak butuh air mata lo !" maki Alvin.
"Ya gua jawab !
gua lari karena marah, gua cemburu !
puas lo !
gua sakit Vin, lo kira gua mau ada diposisi ini, lo kira gua rela menghancurkan masa depan gua sendiri cuma untuk balas dendam seperti yang lo bilang !
enggak Vin, gua gak sebodoh yang lo fikir, gua memang sayang sama lo, tapi gua gak rela kalau harus menghancurkan masa depan gua hanya karena gua ingin memiliki lo Vin !
tapi lo tenang daja, kasih gua waktu sampai anak ini lahir, dan kita akan segera bercerai ! setelah itu gua janji akan menjauh dari hidup lo untuk selamanya !
bahkan lo gak akan pernah dengar ada yang sebut nama gua lagi depan lo !" ucap Yaya lirih.
Alvin terdiam mendengar kata-kata Yaya yang terdengar sangat menyakitkan, sampai ia tidak bisa menjawabnya.
Alvin hanya merasakan rasa sakit yang sama sakitnya dengan Yaya.
Saat Alvin mematung itu jadi kesempatan untuk Yaya kembali berlari meninggalkan Alvin, air mata mengalir membasahi wajah Alvin yang mulai memerah, keegoisan dan keangkuhan Alvin selalu membuat Yaya dan dirinya sendiri menderita.