
Ocha mengikuti Yaya kedapur, sambil menunggu Yaya memasak mereka terus berbincang, tentang kampus dan tentang apa yang Yaya tidak ketahui selama satu bulan belakangan.
"Hm Ya, bukannya kata Alvin mereka sudah bayar semua gaji kamu ?
terus gimana Ya ?" tanya Ocha.
"Tinggal aku kembalikan saja sisanya, apa susahnya Cha ?
Karena uang itu juga masih ada, kalau uang itu sudah gak ada baru aku bingung.
Dan lagi sekarang percuma gaji besar, tapi aku gak dapat ketenangan hati, ia gak ?" jawab Yaya santai .
"Benar juga,
terus-terus apa yang kamu rencanakan sekarang ?" tanya Ocha.
"Teru-terus nabrak Cha," canda Yaya.
"Malah bercanda, aku ini serius Yaya !
gimana dengan kuliah kamu ? " tanyanya lagi.
"Hm, ia ia serius,
aku juga gak tau Cha kalau masalah itu, aku masih belum siap bertemu orang banyak," jawabnya.
"Lalu besok kamu kekampus gak ?" tanya Ocha.
"Nggak Cha, aku rencananya mau kerumah Avina dulu, aku ambil waktu pagi biar aku gak harus ketemu sama dia," jawab Yaya.
"Oh gitu,
Ya aku mau tanya,
apa kamu yakin perasaan sayang kamu sama dia bisa berubah bahkan hilang secepat itu ?" tanya Ocha.
"Pertanyaan macam apa itu Cha ?
tapi Jujur Cha untuk saat ini yang aku rasakan sama dia, cuma perasaan kecewa, sangat kecewa, sampai perasaan sayang itu sedikit demi sedikit memudar mungkin sebentar lagi menghilang.
Aku berharap aku benar-benar bisa menghilangkan perasaan itu dan menggantinya jadi benci, Cha " ucap Yaya menjelaskan perasaannya saat ini.
"Kalau memang menurut kamu itu yang terbaik untuk hidup kamu, sebagai sahabat aku cuma bisa mendukung kamu apa-pun yang kamu lakukan termasuk jalan yang kamu pilih, kamu tetap sahabat terbaikku Yaya.
Tapi pesan aku cuma satu, jangan pernah mencoba membohongi hati kamu sendiri," ucap Ocha seraya mengangkat tangan Yaya dan meletakannya kedada Yaya sendiri.
"Terimakasih Cha sudah mau jadi sahabat aku dan gak pernah mencoba untuk meninggalkan aku disaat aku hancur seperti sekarang ini," Ucap Yaya.
Ocha mengangguk mereka tersenyum bersama, dan kedua sahabat itu berpelukan sesaat.
Keesokan harinya disaat semua orang pergi kekampus, Yaya tetap memilih cuti sehari lagi karena dia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengan wali dari Avina dan yang lebih penting lagi agar dia tidak harus bertemu Alvin disana.
Yaya melihat jam ditangannya, waktu menunjukan bahwa kelas sudah akan dimulai, itu artinya Alvin juga pasti sudah tidak dirumahnya.
Yaya bergegas kerumah Alvin, disana dia bertemu dengan istri dari pak Adi Wijaya atau ibu sambung dari Alvin.
"Selamat pagi bu," sapa Yaya pada wanita setengah baya itu yang saat itu sedang merawat bunga ditaman rumahnya.
"hai Yaya, gimana kabarnya ?" tanyanya masih sambil memotong daun-daun layu diantara tangkai-tangkai bunga.
"Yaya baik bu.
Bagaimana dengan ibu sendiri ?
dan Avina dimana ?
dia juga udah sembuhkan bu ?" tanya Yaya.
"Ibu baik-baik saja Yaya, Avina sebenarnya dari kemarin juga sudah sembuh dan sudah bisa belajar, cuma dia semenjak gak ada kamu dia jadi susah makan, dan terus bilang kalau dia merindukan kamu, karena dia fikir kamu gak pernah menjenguk dia sama sekali , Alvin juga sudah berusaha mencari kamu untuk Avina," jelas ibu Adi.
ia maafkan Yaya bu, Yaya ada sedikit masalah kemarin jadi harus pulang kampung dulu,
oh ia bu , Yaya kesini mau bicara sesuatu, boleh Yaya minta waktu ibu sebentar saja ?" tanya Yaya.
Ibu Adi meletakan semua peralatan yang saat itu ia pegang, dan mengajak Yaya berbicara di beranda rumahnya.
"Mau bicara apa Yaya ?
sepertinya sangar serius ?"tanya ibu Adi.
"Bu, sebelumnya Yaya sangat berterimakasih sama ibu dan pak Adi yang sudah sangat baik menerima dan percaya sama Yaya kerja disini jadi guru Avina, tapi Yaya juga mau minta maaf karena Yaya sudah tidak bisa jadi guru Avina lagi mulai sekarang," ucap Yaya memberi penjelasan.
"Kenapa Yaya ?
kenapa sangat tiba-tiba ?
apa ini gara-gara Alvin lagi ?" tanya ibu Adi.
"Nggak bu bukan,
ini gak ada hubungannya sama dia bu,
cuma Yaya memang ada masalah pribadi saja dan Yaya juga ingin lebih fokus kuliah," ucapnya menjelaskan.
Ibu Adi hanya terdiam melihat kearah Yaya, ada tatapan kecewa terpancar dari matanya.
"Oh ia bu, ini sisa pembayaran Yaya.
Yaya cuma ambil bayaran untuk beberapa lama Yaya disini dan ini sisanya Yaya kembalikan lagi, " ucap Yaya seraya menyerahkan uang diamplop coklat.
"Gak apa-apa Yaya, ini ambil saja untuk kamu,"
setengah memaksa ia menyodorkan amplop itu kembali pada Yaya.
"Maaf bu tapi Yaya gak pantes mendapatkannya.
Bu, Yaya boleh ketemu Avina sebentar ?" tanya Yaya meminta izin nyonya rumah itu.
"Tentu saja Ya , Avina juga pasti ingin bertemu kamu, silahkan masuk Yaya ," ibu Adi mempersilahkan Yaya untuk masuk.
Yaya tersenyum kearah ibu Adi, dan mencium tangannya kemudian mulai melangkah masuk kedalam rumah besar itu mencari dimana Avina.
Setelah mengelilingkan bola mata mencari keberadaan Avina, akhirnya Yaya menemukan gadis kecil itu tengah bermain didekat kolam renang bersama pengasuhnya.
Sementara pengasuhnya terlihat kebingungan membawa makanan tapi Avina tidak mau memakannya, Yaya mendekati Avina dari belakang dan berbisik pada Avina.
"Hei gadis cantik, kenapa gak mau makan ?" bisik Yaya.
Avina melirik kebelakang, tersenyum dan langsung menghambur kepelukan Yaya.
"Bu guru Yaya !" teriaknya seraya memeluk Yaya dengan sangat erat.
"Ia sayang, bu guru sudah datang, kenapa Avina gak mau makan ? " tanya Yaya.
"Bu guru kenapa baru datang sekarang ?
Avina kangen bu guru," ucap gadis kecil itu marah, tapi sangat lucu.
"Maafkan bu guru ya sayang, bu guru ada perlu kemarin.
Ih ia kenapa Avina gak mau makan ?" tanyanya lagi.
"Avina mau disuapin sama bu guru ," pinta Avina.
Yaya tersenyum dan meminta makanan Avina kepada pengasuh Avina, akhirnya anak itu mau makan dengan sangat lahapnya.
Yaya memutuskan baru akan memberi tahu Avina nanti setelah gadis itu menyelesaikan makannya.