Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 28



Saat Felix menyebut nama Yaya, seketika wajah Alvin berubah , wajahnya memucat, tubuhnya terasa kaku, timbul perasaan takut dalam hati Alvin, ia takut Yaya salah paham padanya.


tanpa menunggu Alvin melihat kearahnya, Yaya langsung saja melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.


"Fel aku cuma mau balikin helm kamu, gak sengaja kebawa, " ucap Yaya datar dan tanpa melihat kearah Alvin.


Alvin juga berusaha menghindari menatap Yaya.


Setelah selesai dengan tujuannya, Yaya kembali melangkah pergi, ia masih tetap tidak memperdulikan adanya Alvin disana, tapi dia berbalik lagi dan berkata.


" Jangan jadikan aku bahan untuk membalas dendam kalian dimasa lalu, karena aku tidak pernah tau,apa yang telah terjadi diantara kalian.


Maaf aku gak bermaksud nguping.


Permisi !" ucap Yaya yang kemudian berlari pergi .


"Semuanya gara-gara lo !" bentak Alvin pada Felix.


Selesai bicara dengan Felix, Alvin langsung berlari mengikuti Yaya dari belakang, dengan hati terliputi rasa bersalah.


#Yaya


"Kenapa aku harus lari , kenapa aku harus menangis ?


kenapa sakit ini masih terasa sama," gumamku dalam hati.


Aku berjalan sambil terus menyeka air mataku yang terus membanjiri pipiku.


Sampai dikelas aku masuk dan langsung duduk menundukan kepalaku dimejaku, aku hanya tidak ingin ada orang melihat aku menangis.


#Alvin


Tiba-tiba aku merasa malas masuk kelas hari ini, aku berencana untuk bolos saja, tapi seseorang memanggilku dan menghentikan langkahku.


"Vin , kamu sudah datang, kenapa gak masuk ? ayo, " ajak ajeng yang tiba-tibavmenarik tanganku.


Aku berjalan melewati meja Yaya , dia terus menunduk dimejanya yang aku yakin dia pasti sedang menangis.


"lagi-lagi tangisan itu karena gua," gumamku.


"Apa Vin?" tanya Ajeng.


"Hah ? e-enggak Jeng nggak apa-apa gua nggak ngomong apa- apa kok ," jawabku kelabakan.


"Oh ia Vin , gimana masalah pesta ulang tahun lo , ayah lo setuju, kan ?" tanya Ajeng penasaran.


"Ia beliau setuju Jeng, " jawabku datar.


"Gua umumin ya sama semua anak kalau begitu, " ucap Ajeng bersemangat.


Aku hanya mengangguk dengan mataku yang masih lekat memandang kearah Yaya yang tetap menunduk.


Kemudian Ajeng kedepan dan menggebrak meja meminta perhatian dari semua anak dikelas.


"PERHATIAN !


semuanya, gua mewakili Alvin, ingin mengundang kalian keacara birthday party Alvin malam minggu depan dimulai dari jam 7 malam ya, jangan sampai ada yang gak datang !" Teriak Ajeng.


Sementara aku masih sibuk melihat kearah Yaya, sehingga tidak terlalu memperhatikan pengumuman yang dibuat oleh Ajeng untukku.


Yaya pasti mendengar Ajeng bicara, namun dia tetap tidak ada respon seakan ia tidak pernah perduli, karena ia tetap pada posisinya tadi.


#Ajeng


"Gua punya ide bagus buat acara Alvin, dan gua yakin Alvin juga pasti setuju kalau gua ngerjain Yaya disana nanti," gumamku dalam hati.


#Author


"YAYA !" teriak Ajeng dari depan


yang membuat seluruh kelas melirik kearah Yaya yang masih menunduk


Mendengar namanya disebut, Yaya mengangkat wajahnya , dan melihat kearah Ajeng, seakan Yaya sedang bertanya "ada apa?".


"Lo juga harus datang keacara Alvin nanti, gak ada alasan, pokoknya buat yang gak datang lihat saja nanti, ini berlaku untuk semuanya !" ancam Ajeng.


Yaya hanya menggeleng dan kembali membuka buku pelajarannya, dan mengabaikan kata-kata Ajeng.


#Yaya


Yang aku fikirikan saat ini adalah cara agar cepat lulus dan menjauh dari Alvin.


"Ya, Yaya " Ocha menyenggolku dengan sikunya, dia mencoba berbisik padaku ditengah pelajaran yang sedang berlangsung,


membuatku melirik kearahnya.


"Apa Cha ?" tanyaku pelan.


"Kamu mau datang ?" tanya Ocha.


"Cha , bisa gak kita bahas ini nanti saja ? sekarang belajar dulu ya ," pintaku pada Ocha,


yang membuat Ocha sedikit memanyunkan bibirnya.


Setelah satu pelajaran hari itu selesai, Yaya dan Ocha membeli beberapa makanan dikantin dan kembali membahas tentang acara Alvin.


"Yaya gimana ?" tanya Ocha lagi.


"Gimana apanya Cha ?" tanyaku sambil makan dan membaca bukuku.


"Yaya ini itu jam makan siang, bisa simpan dulu gak itu bukunya, " rajuk Ocha seraya menutup bukuku, sikap Ocha membuatku tersenyum dengan tingkahnya.


"Ok jawaban aku adalah, aku gak akan pernah datang keacara itu Cha ! " jawabku dengan senyum mengembang dibibirku.


Saat kami sedang membahas datang atau tidak keacara Alvin tiba-tiba ada suara yang ikut andil dalam pembicaraan kami.


"Datang kemana memangnya ?" tanya suara yang sangat aku kenal, "itu suara felix," gumamku


Tanpa dipersilahkan Felix langsung duduk disampingku dan tersenyum ramah, seolah tidak ada yang terjadi pagi tadi.


"Aku mau minta maaf soal tadi pagi Yaya, aku gak bermaksud sama sekali menyeret kamu kemasa lalu antara aku dan Alvin, " ucap felix merasa menyesal.


"Ia gak apa-apa Fel, aku juga sudah lupa, dan sudah cukup Fel jangan bahas lagi tentang itu " pintaku sambil tersenyum.


"Hm ia Yaya, aku gak akan bahas lagi, " ucap Felix berjanji seraya mengangguk dan tersenyum.


"Oh ia tadi kalian bahas datang atau nggak memangnya kalian mau kemana ?" tanya felix penasaran.


"Kita mau keacara pesta ulang tahunnya Alvin fel" jawab Ocha menjelaskan.


"Kenapa gak ikut saja Yaya,


tapi datangnya sama aku !" ucap Alvin yang terdengar mengatur.


Aku berfikir gak ada salahnya juga kalau membawa felix keacara itu, seenggaknya selain Ocha ada felix yang akan menjagaku disana.