
Yaya dan Alvin tertidur cukup lama hari itu, namun Alvin terbangun lebih dulu saat ia membuka matanya dan melihat Yaya masih tertidur dilengannya tanpa sadar Alvin tersenyum memandangi wajah Yaya yang polos terlihat cantik alami tanpa riasan,
Alvin mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Yaya, tapi tindakannya itu malah membuat Yaya terbangun.
"Hm kamu sudah bangun, jam berapa ini ?" tanya Yaya.
"Jam 5 sore non," jawab Alvin, dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya.
"HAH ?
kenapa kamu tidak membangunkan aku ?
aku merasa tidak enak sama mama pagi-pagi tidur dan bangun sudah sesore ini," gerutu Yaya pada.
Yaya kemudian bangun dari tidurnya dan setengah berlari masuk kekamar mandi,
Alvin yang melihat tingkah laku Yaya tidak henti-hentinya tertawa, namun tawa itu menghilang saat ponsel Yaya berdering dan itu panggilan dari Felix, sudah ada enam kali panggilan dari Felix yang Yaya lewatkan,
itu cukup membuat Alvin penasaran ia pun membuka ponsel Yaya, dan ternyata Felix bukan hanya menelphone nya tapi juga mengiriminya pesan, karena sudah terlanjur membuka ponsel Yaya, Alvin memutuskan untuk membaca semua pesan Yaya dan Felix.
(Chat)
Felix : Sudah sebulan Yaya kita tidak bertemu,apa kabar kamu ?
bagaimana sikap Alvin terhadap kamu ?
Alvin tidak menyakiti kamu, kan ?
Yaya : Hai Fel, kabar ku baik-baik saja, bagaimana dengan kamu ?
Alvin sudah banyak berubah Fel, i
dia tidak lagi menyakitiku, Alvin sudah jauh lebih manis sekarang.
Felix : Kabar ku baik juga Ya, tapi tetap merasa sepi, karena biasanya ada kamu yang selalu jadi penyemangat ku setiap hari.
Jangan terlalu percaya dengan perubahannya yang terhitung sangat cepat Yaya, bisa jadi dia sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti mu lagi, hati-hati.
Yaya : Fel, aku mengerti ketakutan kamu, tapi aku harap kamu juga bisa memberikan Alvin kesempatan dan kepercayaan untuk berubah.
Felix : Hm, Alvin tetap lah seorang Alvin Yaya.
Yaya aku merindukan kamu.
Yaya : Aku juga rindu pada kamu dan Ocha Fel, kapan pun itu kalian bisa bertemu sama aku Fel, entah itu di luar atau kalian yang datang kesini.
Felix : Apa kamu yakin masih bisa bertemu dengan aku Ya ?
sementara aku melihat hubungan kamu sama Alvin sudah baik-baik saja, aku yakin dia tidak akan mengizinkan kita bertemu.
Yaya : Kenapa harus tidak bisa Fel ?
sebelum aku menikah dan dekat dengan Alvin, kalian lah yang selalu bersama aku.
Felix : Oh syukur lah Ya kalau memang begitu kamu berfikir begitu, lalu bagaimana dengan perjanjian perceraiian kalian ?
Yaya : Aku tidak bisa jawab masalah itu Fel, dan kalau bisa tidak usah dibahas.
Felix : Iya maaf, aku lancang menanyakan masalah itu, sebenarnya aku hanya ingin bertemu dengan kamu, karena aku sangat merindukan kamu Yaya dan sampai kapan pun perasaan aku ke kamu tidak akan pernah berubah, walaupun status kamu sudah istri Alvin, aku tetap akan menunggu kamu Yaya. (isi pesan yang baru masuk )
Setelah selesai membaca, Alvin mengembalikan ponsel Yaya ketempat awal ia mengambilnya, dengan wajah merah seperti terbakar Alvin terdiam sambil duduk diatas tempat tidurnya, menunggu Yaya keluar dari kamar mandi.
Saat Yaya keluar dari kamar mandi, ia melihat Alvin menatapnya dengan tatapan yang menakutkan, Yaya duduk disamping Alvin ditepi tempat tidur dan memulai pembicaraan.
"Vin kamu tidak akan mandi ?
sudah sore ?" tanya Yaya mencoba menyapanya namun Alvin tetap diam.
"Vin, kamu kenapa ?
tidak lucu memasang wajah dilipat-lipat begitu, beri aku senyum," goda Yaya seraya mencubit lembut pipi Alvin.
Namun Alvin menepiskan tangan Yaya, sikap Alvin cukup membuat Yaya terkejut dengan perubahannya yang tiba-tiba.
"Tidak lucu !
jangan sentuh gua !" seru Alvin dengan nada marah.
"Vin kamu kenapa ?
terus kenapa sekarang kamu jadi marah-marah seperti ini Vin ?" tanya Yaya, namun Alvin tetap memilih diam, Yaya tetap tidak menyerah, ia berusaha memegang tangan Alvin dan terus mencoba membuat Alvin bicara.
"Vin kalau kamu tidak bicara bagaimana aku bisa tau dimana letak kesalahan yang aku buat sampai kamu marah seperti ini ?
Vin ayo bicara," pinta Yaya dengan nada memelas.
"Lo mau gua bicara !
ok gua akan bicara,
lo itu ternyata wanita egois, mengerti !" seru Alvin seraya melepaskan pegangan tangan Yaya.
"Egois ?
maksudnya bagaimana Vin ?
apa alasan kamu bicara seperti itu sama aku ?" tanya Yaya lagi.
sambil berdiri dari tempat tidur Alvin menunjuk-nunjukan jarinya kearah wajah Yaya.
"Lo benar-benar ingin tahu kenapa !
lo meminta gua untuk tidak nemui Ajeng lagi, padahal Ajeng itu jelas lagi sakit dan dirawat dirumah sakit waktu itu, hanya karena lo mementingkan perasaan cemburu lo, makanya lo melarang gua untuk menemani Ajeng disana.
Sementara lo sendiri apa ?
bahkan lo yang meminta Felix untuk datang kemari atau bertemu diluar hanya karena dia mengatakan bahwa dia rindu sama lo !
menurut lo itu apa namanya kalau bukan egois !
gua jadi curiga lo selama ini ketemu dia diam-diam kan dibelakang gua ?" Alvin memaki dan menuduh Yaya dengan suara keras.
"Vin, kamu buka ponsel aku ?" tanya Yaya dengan rawut wajah marah.
"Iya, gua buka ponsel lo dan gua gak pernah menyesal sudah lancang membuka ponsel lo, karena itu gua bisa tau ternyata lo oramg yang munafik, lo egois !
seharusnya gua lebih percaya dengan apa yang Ajeng katakan, dibandingkan percaya sama mulut lo ! " ucap Alvin.
"Jadi sekarang mau kamu bagaimana Vin ? kamu mau aku membebaskan kamu untuk bertemu Ajeng, begitu Vin ?
itu mau kamu ?
kalau memang ia, silahkan !
pergi temui dia !
dan katakan padanya waktu itu kamu tidak bisa menemani dia karena aku yang melarang kamu untuk pergi, selesaikan !
satu lagi kalau kamu tidak ingin aku mengurusi hidup kamu, maka jangan juga kamu mengurusi urusan ku !" jawab Yaya dengan tegas, sampai membuat Alvin terdiam.
Yaya meninggalkan Alvin dan keluar untuk menyiapkan makan malam, didapur sudah ada ibu mertuanya yang sudah mulai memasak.
"Ma, Yaya bantu ya," ucap Yaya seraya mengambil alih pekerjaan mertuanya.
"Ada apa lagi Yaya ?" tanya ibu mertuanya.
"Tidak ada apa-apa ma," jawab Yaya seraya tersenyum hambar, ibu mertuanya pun hanya bisa ikut tersenyum, karena tidak mungkin ia memaksa menantunya untuk bercerita kalau ia tidak mau bercerita.
Setelah selesai memasak semua orang berkumpul dimeja makan malam itu, tapi tidak dengan Alvin, ia masih mengurung diri dikamarnya
"Yaya dimana Alvin kenapa tidak ikut makan malam bersama ?" tanya ayah mertuanya.
"Dikamar pa, tadi dia masih mandi, Yaya panggil Alvin dulu pa," ucap Yaya seraya melangkah kekamar mereka.
Yaya langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan melihat Alvin masih duduk diam dipinggir tempat tidur, Yaya pun mendekatinya dengan perlahan.
"Vin ayo makan, dari sepulangnya kamu tadi kamu belum makan apa-pun, papa sama mama sudah menunggu kamu dimeja makan," ajak Yaya.
"Gua gak lapar !" jawab Alvin ketus.
"Pikirkan kesehatan kamu sendiri Vin, dan hargai orang tua kamu yang sedang menunggu kamu karena ingin makan bersama dengan kamu, bersikap dewasa Vin, didepan mereka jangan tunjukkan kalau kita sedang ada masalah," Ucap Yaya.
"Kalau begitu aku tunggu dibawah," ucap Yaya seraya pergi dari hadapan Alvin.
Sementara itu Alvin masih bertahan dengan diamnya, seraya melihat Yaya melangkah pergi.