
#Author
Seminggu berlalu dan malam ini adalah malam pesta ulang tahun Alvin, semua orang bersemangat dan bersiap untuk datang kerumah Alvin, begitu juga dengan Yaya ia juga mempersiapkan dirinya.
Felix datang menjemputnya, kali ini Felix membawa mobil untuk menjemput Yaya.
#Yaya
Aku lupa kalau aku tidak pernah punya baju pesta atau gaun untuk dipakai kepesta Alvin. Sempat berfikir untuk tidak jadi ikut saja, tapi aku sudah berjanji sama Ocha dan Felix untuk datang.
Dusaat aku sedang pusing memikirkan baju apa yang pantas untukku pakai, tiba-tiba saja aku mendengar seseorang membunyikan klakson beberapa kali membuatku lumayan jengkel dibuatnya. Aku membuka tirai jendelaku dan mencoba melihat siapa yang ada didalam mobil itu , setelah cukup lama kuperhatikan ternyata itu Felix.
Aku langsung bergegas membukakannya pintu.
"Malam Yaya pangeran kamu sudah datang," teriaknya sambil keluar dari mobil.
"Felix jangan teriak-teriak , gak enak sama tetanggaku kalau mereka dengar," Aku membelalakan mataku kearah Felix yang sedang berjalan menuju kearahku saat ini.
"Ih ia tumben kamu pakai mobil Fel ?
kemana motor kamu ?" tanyaku.
"Ia maaf maaf Yaya.
Galak amat , jangan melotot gitu dong mata kecil aja pakai melotot segala, jadinya bukannya seram , malah makin imut tau gak, oh ia aku pakai mobil karena mau jemput tuan putri ," ledek Felix.
"Lalu ini pujian atau hinaan ?" tanyaku pura-pura ngambek.
"Memuji sekaligus--, hehe .
Sudahlah jangan manyun begitu, nanti aku cium loh, mau aku cium, sini mendekat biar aku cium !" ancamnya dengan nada bercanda.
"Apa-apaan si Fel, awas saja kalau kamu sampai berani, " jawabku seraya mengepalkan tinjuku.
"Wow, sabar bu.
Berani dong , kok malah nantangin,haha.
Sudahlah ini buat kamu, " ucap Felix seraya memberikan kantong karton kepadaku, aku menyambutnya seraya bertanya.
"Ini apa Fel ?" tanyaku penasaran.
"BOM ! hahah.
Buka saja Yaya nanti juga kamu akan tau sendiri apa isi didalamnya," perintahnya.
Dengan perlahan tapi pasti aku membuka isi kantong karton itu, aku terkejut ternyata itu adalah sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik.
"Fel ?" gunamku menyebut namanya seolah bertanya kenapa dia memberiku gaun ini ?
"Sudah pakai saja , aku gak mau nanti disana kamu jadi bahan lelucon Alvin dan teman-temannya lagi nanti, aku takut gak bisa menahan emosiku, dan aku juga gak akan terima kalau pujaan hati aa Felix terus-terusan dibully sama orang-orang yang sama secara terus-menerus," jawab Felix khawatir diselingi dengan candaan khas Felix.
"Tapi Fel, ini pasti sangat mahal, kan ?
aku gak bisa nerima ini secara gratis Fel, berapa harganya ?" tanyaku seraya memasukan lagi gaun itu kedalam kantong.
"Sudah Yaya kamu gak perlu memikirkan apa-apa, tolong pakai saja, tujuanku hanya ingin gadis kecilku terlihat cantik malam ini.
Ayo cepat masuk dan pakai gaun cantik ini, lalu dandan sedikit, setelah selesai kita pergi, lihat sudah jam berapa ini, kamu gak mau membiarkan Ocha menunggu terlalu lama, kan ?" tanya Felix, yang sedari tadi terus bicara.
Aku akhirnya mengangguk, dan mulai masuk kedalam , aku memakai gaun pemberian Felix , gaun putih dengan model setengah lengan , dan panjangnya diatas lututku itu membuatku pangling dengan bayangan diriku sendiri dicermin. "Aku cantik" gumamku memuji diri sendiri.
"Felix ayo pergi, " ajakku seraya memegang pundak Felix yang saat itu tengah berdiri membelakangiku.
Ketika ia menatapku, Felix terdiam tanpa kata-kata , dan diam nya Felix membuatku semakin malu, rasa percaya dirikupun hilang seketika.
"Kenapa Fel ?
aneh yaa ?
gimana kalau aku ganti lagi saja ?" ucapku dengan nada sedih.
"Jangan diganti.
Kamu cantik, sangat cantik, aku diam karena aku kagum.
jadi tolong jangan ganti lagi," ucapnya memujiku, seraya terus menatapku dari ujung kaki sampai rambutku.
"Aku fikir kamu diam karena aku terlihat aneh Fel.
Kalau memang benar yang kamu bilang tadi, ini semua juga karena baju yang kamu kasih Fel," ucapku yang masih merasa malu.
"Bukan karena baju Yaya, tapi karena kamu pada dasarnya memang sudah sangat cantik, dan semakin cantik dengan gaun putih ini yang kamu kenakan, kamu lebih terlihat seperti cinderella dinegeri dongeng.
Aku jadi makin terpesona sama kamu Yaya, " Puji Felix secara terus-menerus.
"Makasih Fel," jawabku masih tersipu.
Semua jawaban Felix hanya akan membuatku tersipu malu, tapi dengan jawabannya itu yang membuat percaya diriku makin bertambah.
"Yaya ," sapa Felix.
"Hm, " jawabku singkat.
"Kamu sudah secantik ini , aku boleh cium kamu gak ?" tanya Felix dengan wajah super serius, yang membuatnya 100 kali makin terlihat tampan.
"Felix !" teriakku sambil mencubit perutnya,
aku menganggap omongan Felix itu hanya bercanda saja, agar suasana tetap mencair tidak tegang.
"Ok maaf maaf, yasudah ayo berangkat, "
ajaknya seraya memintaku menggandeng tangannya .
Aku dan Felix bergegas menuju rumah
Alvin, sesampainya disana kulihat semua orang sudah mulai ramai berkumpul.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?
aku benar-benar kehilangan lagi rasa percaya diriku, aku gugup takut dicibir sama orang-orang disani," lamunanku buyar saat Felix menggenggam tanganku.
"Yaya.
Coba untuk santai, tenang kamu cantik kok, kamu pantas untuk berada disini, jangan remehkan apa yang kamu punya Yaya " ucap Felix mencoba menyadarkanku.
Aku mengangguk, dan mulai turun dari mobil, sementara Felix tetap menggandengku sampai masuk kedalam rumah Alvin, saat berjalan semua orang memandang kearahku, aku fikir mereka memandang aneh kearahku atau benar yang dikatakan Felix, kalau mereka melihatku karena kagum ?
pertanyaan itu mengganggu kepalaku, aku jadi sedikit pusing dengan pikiranku sendiri .