
Setelah Alvin pergi Yaya masih berdiri didepan pintu memukul-mukul daun pintu masih dengan tangisnya yang semakin pecah dan menjadi-jadi, tangisan kehancuran dan penyesalan itu sangat menyakitkan untuk Yaya.
Saat ini Yaya berada dititik paling hancur, Alvin yang ia kira akan bisa membuatnya kuat, malah berbalik menyerangnya.
Yaya berbalik dan memandang kearah tempat tidurnya.
Tempat tidur itu terlihat seperti neraka untuk Yaya, ia mulai melangkah dan membuka alas kasurnya dengan amarah dia membuang semuanya dan mengacak-acak tempat tidur itu.
Seolah dia tidak mau percaya dengan apa yang sudah dia alami.
"Aku harus gimana sekarang !" teriaknya.
Suara tangisnya terdengar menyakitkan dan sangat pilu.
Dari malam sampai pagi ini adalah waktu yang sangat buruk untuknya, dia korban tapi malah dia yang ditempatkan diposisi yang tersalahkan, Yaya duduk dan menekuk kakinya menangis diatas lututnya sendiri, tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara saat ini, ia terlalu takut untuk mempercayai seseorang.
Suara telphone dan ketukan dipintu berulang kali terdengar tapi Yaya terus membisu tanpa berniat menjawabnya.
"Ya, Yaya apa kamu ada didalam ?
kamu gak berangkat kuliah ?
kamu akan terlambat.
Bukannya hari ini kamu ada kelas ?" panggil suara itu yang Yaya yakini itu adalah suara Felix yang sudah datang menjemputnya,
tapi Yaya tetap membungkam mulutnya.
"Fel maafkan aku, untuk saat ini aku hanya ingin sendiri, aku butuh waktu untuk menerima keadaan ini, aku butuh waktu untuk menyiapkan hati mendengar hujatan orang-orang saat melihatku, jika mereka tahu keadaan aku," gumam Yaya, ia terus melihat panggilan masuk diponselnya tertulis nama Felix.
Tidak beberapa lama kemudian akhirnya ketukan dipintu itu berhenti seiring berhenti pula panggilan diponselnya.
Yaya memutuskan untuk mematikan ponselnya, agar tidak ada yang tau keberadaannya.
Tidak lama berselang terdengar suara motor Felix menjauh dari asrama Yaya.
Seharian itu Yaya hanya duduk dengan posisi yang sama menangis tanpa henti sampai membuat matanya membengkak, bahkan Yaya melupakan makan dan minum, ia tidak bernafsu melakukan apa-pun, dia hanya memikirkan kata-kata orang kalau mereka sampai tau apa yang terjadi pada dirinya.
Sementara itu dikampus, Felix yang belum mendapat kabar dari Yaya terus mencari keberadaan Yaya.
Setelah lama berkeliling kampus tapi Felix tetap tidak bisa menemukan Yaya.
Akhirnya Felix memutuskan untuk memeriksa kekelas Yaya.
Hasilnya masih sama saja dikelas itu Felix tidak bisa menemukan sosok Yaya yang ia cari, tapi ada Ocha disana Felix memanggil Ocha keluar kelas.
Saat Ocha keluar menemui Felix Alvin memandang mereka dengan tatapan curiga,
dia mengikuti Ocha dari belakang tapi tetap Alvin tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan ?
jangan-jangan cewe gila itu ngomong yang tidak-tidak sama mereka, terus kenapa hari ini dia gak mengikuti kelas,"gumam Alvin.
Alvin terus memandang kearah Ocha dan Felix yang sedang berbincang diluar kelas, terlihat jelas wajah Felix yang tegang.
"Cha Yaya mana ?" tanya Felix.
"Gua juga gak tau Fel, harusnya gua yang tanya sama lo, dan dia juga gak balas pesan gua, biasanya lo jemput dia kalau kekampus Fel, kenapa hari ini nggak ?" tanya Ocha membalikan pertanyaan.
"Tadi gua sudah keasramanya, tapi asrama itu dikunci, dan kelihatannya memang gak ada orang didalam, karena didalam kelihatan gelap.
Aduh Yaya kemana cha, gua khawatir dia gak punya siapa-siapa disini," ucap Felix.
"Gua juga gak tau Fel, tenang dulu selesai kelas kita cari Yaya bersama-sama, kita cari dia sampai ketemu," usul Ocha.
Ocha mengangguk dan mengakhiri perbincangan mereka.
Setelah Felix pergi Ocha kembali kekelas tapi ia terkejut karena dibelakang pintu ada Alvin yang sedang berdiri disana, dia seperti sedang menguping pembicaraan Ocha dan Felix.
"Vin ngapain lo disini ?
lo nguping ? " tanya Ocha.
"Lo menuduh atau nanya ?
dan kalau lo nuduh atas dasar apa lo bilang gua nguping pembicaraan lo ?
kalian pasti hanya membahas tentang cewe miskin itu, kan ?" ucap Alvin keceplosan.
"Kenapa lo tau ?
gak nguping tapi bisa tau kalau gua sama Felix lagi bahas Yaya, gak usah mencari alasan Vin, apa jangan-jangan lo tau sesuatu tentang dimana Yaya ?
atau lo ngerjain Yaya lagi sampai dia gak bisa masuk hari ini ?" tanya Ocha dengan pandangan menyelidik, Alvin terlihat kebingungan dan tegang.
"Memang gua tau apa ?
jangan sembarangan nuduh lo,
lo kira apa lagi yang harus lo berdua bahas kalau bukan tentang cewe miskin itu, memangnya dia kemana ?
kenapa dia gak masuk hari ini ?
oh gua tau dia pasti sengaja menghilang biar dicari kali, cewe miskin kayak dia pasti senangnya cari perhatian, ia kan ?"
"Vin dia punya nama, dan namanya Yaya bukan si cewe miskin, ngomong sama lo gak ada untungnya Vin, kosong !
oh ia satu hal lagi, ternyata Yaya benar orang seperti lo gak layak dapat orang baik !" ucap
Ocha sebelum meninggalkan tempat Alvin berdiri.
Tapi Alvin tetap mengajak Ocha bicara walaupun Ocha sudah berjalan melewatinya.
"Heh Cha, lo itu sebenarnya gak terlalu miskin, tapi kenapa lo mau-maunya berteman sama dia, dia itu kan--" belum sempat Alvin menyelesaikan kata-katanya Ocha sudah berbalik badan dan menjawab Alvin.
"Dia apa ?
hah ?
yang gua tau dia lebih baik dari pada lo dan teman-teman lo yang busuk itu !
jangan ganggu Yaya lagi Vin !
karena Yaya milik Felix !
Felix gak akan pernah tinggal diam kalau lo berani menyentuh sehelai saja rambut Yaya, dan mulai sekarang gua juga akan bantu Felix untuk mendapatkan hati Yaya dan melupakan orang yang sangat tidak pantas untuk orang baik seperti Yaya !" ucapan Ocha itu
langsung membuat Alvin bungkam tanpa kata-kata.
"Wah gua gak nyangka setelah lo kenal cewe itu, lo mulai berani ngejawab gua !" seru Alvin.
"Benar kata Yaya gua gak harus takut sama orang yang sama-sama masih makan nasi, dan masih menghirup udara yang sama !" jawab Ocha santai.
Yang membuat Alvin mengerutkan keningnya karena kesal.
Kali ini Ocha benar-benar pergi dari hadapan Alvin, tapi Alvin masih tetap berdiri ditempatnya, ia memandang kursi tempat Yaya duduk dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Lo gak tau Cha teman lo yang baik itu bahkan sudah menyerahkan segalanya sama gua dan gua sudah dapat semua yang berharga yang ia miliki," gumam Alvin dengan senyum sinisnya ia kembali melangkahkan kakinya masuk kekelas.