Enemy, I Love You

Enemy, I Love You
episode 65



Sementara dari dalam kamar Yaya terbangun dari tidurnya karena mendengar perbincangan mereka. Yaya melangkahkan kaki menghampiri sumber suara itu, dan mulai angkat bicara .


"Siapa yang bilang kalau ini anak lo Vin ?" tanya Yaya yang secara tiba-tiba datang.


"Oh ini dia wanita tukang fitnahnya.


Gua mau ngomong sama lo !" seru Alvin.


"Yaya gak bisa ngomong sama lo sekarang Vin, dia harus istirahat sebaiknya lo pergi," ucap Ocha menjawab seruan Alvin.


Yaya menggenggam tangan Ocha dan memintanya untuk meninggalkannya dan Alvin untuk bicara.


Ocha menuruti permintaan Yaya, namun


Ocha tetap diam dibelakang pintu dan mendengarkan perbincangan Yaya dan Alvin.


"Sekarang Ocha sudah pergi, cepat katakan apa yang mau kamu bahas ?" tanya Yaya dengan santai.


"Apa maksud lo menyuruh Felix datang kerumah gua dan menemui orangtua gua ?


asal lo tau gara-gara Felix datang kerumah gua dan ngefitnah gua yang sudah menghamili lo, sekarang orangtua gua minta gua untuk menikahi lo !


jadi ini tujuan lo ?


agar lo bisa mengambil harta keluarga gua ,kan ?


tapi jangan harap lo bisa segampang itu mendapatkan apa yang lo inginkan, selama gua masih hidup !" bentak Alvin.


"Maaf Vin tapi gua gak pernah meminta Felix untuk datang kerumah lo menemui orangtua lo, dan kalau memang lo gak mau mengakui ini anak lo, maka gua juga akan bilang, ia memang benar ini bukan anak lo, puas !


kalau lo sudah selesai ngomong sebaiknya cepat pergi !" ucap Yaya yang membuat Alvin gelagapan.


"O-oh baguslah kalau memang itu bukan anak gua, gua tau itu sebenarnya anak Felix, kan ? atau bisa jadi itu anak laki-laki lain yang lo bawa menginap diasrama lo ?


tapi itu bukan urusan gua juga mau bapaknya siapa,


Yang harus lo tau, gara-gara Felix datang dan menuduh gua sekarang orangtua gua percaya kalau itu adalah anak gua, dan dia gak mau tau,gua harus tetap menikahi lo !


dan rencananya besok mereka akan menemui orangtua lo.


dan satu hal lagi inti dan tujuan gua datang kesini mau membuat perjanjian sama lo kalau seandainya kita benar-benar dinikahkan !" ucap Alvin.


"Perjanjian ?


apa maksudnya ?" tanya Yaya.


"Lo dengar baik-baik.


Yang pertama setelah anak itu lahir nanti, gua mau melakukan tes DNA, kalau memang anak itu terbukti anak gua, gua bakal menerima dia dengan tangan terbuka, tapi kalau ternyata anak itu bukan anak gua, lo dan anak itu harus bersiap pergi dari hidup gua.


Yang kedua, saat lo pergi nanti jangan pernah berharap dapat uang sepeserpun dari gua atau orangtua gua !


dan yang ketiga, walaupun nanti lo sudah berstatus sebagai nyonya Alvin, jangan pernah berfikir lo berhak ikut campur dengan hidup gua !" ucap Alvin menjelaskan secara rinci persyaratannya setuju menikahi Yaya.


"Setuju !" jawab Yaya singkat tanpa berfikir panjang.


Alvin tercengang dengan jawaban Yaya yang secara spontan tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Lo yakin setuju, lo gak akan memikirkannya dulu atau mencoba mempertimbangkannya ?" tanya Alvin tidak percaya.


yang pertama, diakui ataupun tidak diakui sama lo anak ini tetap anak gua, dan dia tidak butuh ayah yang tidak menginginkannya dan ibunya.


Yang kedua, gua bersumpah gak akan pernah membawa uang sepeserpun dari harta lo,


dan yang ketiga, walaupun gua berstatus nyonya Alvin, gua gak akan menganggap diri gua sebagai bagian dari keluarga lo !


apa lagi mencampuri urusan lo !


dan satu lagi buktikan saja nanti semua tuduhan lo itu setelah lo dapat hasil tes DNA yang lo butuhkan.


Kalau gak ada yang perlu dibahas lagi lebih baik lo pergi !" jawaban Yaya menjabarkan alasannya menyetujui syarat yang diberikan Alvin.


"Ok kalau begitu, kita sepakat dengan ini gua bakal ceraikan lo,saat anak itu lahir jadi saat waktunya tiba lo jangan lagi banyak bertanya ! " ucap Alvin sebelum pergi dari hadapan Yaya.


Yaya mengangguk dan membiarkan Alvin pergi, tanpa beranjak dari tempatnya berdiri Yaya duduk bersimpuh.


"Alvin, tanpa kamu ceraikan, aku akan tetap akan pergi setelah anak ini lahir," gumam Yaya.


#Alvin


Aku pergi dari asramanya, seharusnya aku merasa puas sudah mengatakan maksud dan tujuanku padanya, tapi kenapa yang aku rasakan berbeda saat mendengar jawaban darinya.


Apa aku berharap dia bilang anak yang dia kandung memang benar anakku,


tapi kenapa aku berharap begitu.


Ini semua masih belum dimulai, dan aku merasa seakan semuanya sudah berakhir.


"Akh !!!" aku berteriak didalam mobilku,aku melihatnya menangis didepan mataku sementara aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, karena setiap kata yang keluar dari mulutku hanya cacian untuknya.


"Alvin Alvin lo benar-benar bodoh, lo selalu merasa sakit setiap melihatnya menangis, lo selalu merasa hancur setiap dia bersikap acuh sama, dan bodohnya lo Vin, kenapa juga lo harus selalu buat sakit sampai dia terus menangis yang itu jadi penyebab lo merasa sakit juga, " gumamku memaki diriku sendiri.


"Dan lo Yaya, kenapa lo gak pernah tersenyum sedikit saja untuk gua, gua juga ingin jadi alasan lo tersenyum walaupun cuma satu kali, gua gak mengerti kenapa gua bisa jadi seperti ini !" gumamku.


#Author


Alvin akhirnya pergi melajukan mobilnya tak lama setelah Yaya dibawa masuk oleh Ocha,


sementara Ocha memandang iba kearah Yaya seraya bertanya.


"Ya, kenapa kamu melakukan semua ini ?


kenapa kamu menyetujui semua syarat gila yang Alvin ucapkan tadi ?" tanya Ocha memprotes keputusan Yaya.


"Cha, aku tau kamu pasti sudah mendengar semuanya, alasan aku setuju cuma ingin Alvin tau kalau selama ini aku gak pernah tidur sama orang lain selain dia, dan aku juga ingin tau apa benar dia akan mengakui anak ini anak dia setelah dia melakukan tes yang dia maksud," jawab Yaya.


"Terus apa untungnya semua ini buat kamu Yaya ?


dan masalah cerai apa yang akan kamu lakukan ?" tanya Ocha yang semakin tidak faham dengan cara Yaya berfikir.


"Aku gak perduli Cha !


untuk saat ini aku sudah merasa cukup dengan keluarganya mau bertanggung jawab karena selain aku menjaga nama baikku sendiri, aku juga harus menjaga nama baik keluargaku dan intinya aku gak mau anakku terlahir tanpa seorang ayah, masalah perasaanku aku sudah tidak perduli lagi," jelas Yaya.


Ocha mati kata mendengar ucapan Yaya,sudah tidak ada lagi yang bisa dia katakan pada Yaya, selain mendukung keputusan Yaya, karena mau bagaimanapun juga yang akan menjalani semuanya adalah Yaya sendiri.