Blind is Love

Blind is Love
Putih Dominan Abu-abu



Putih abu-abu kini mendominasi warna sekolahku.  Merasa kehidupan yang berbeda, menjalani


masa-masa penuh kejutan,  sesuai


bayanganku di saat SMP. Tiga bulan telah berlalu, aku mulai terbiasa dengan


padatnya jadwal pelajaran,  tumpukan


tugas yang membukit,  serangkaian


kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti dan waktu yang cukup panjang yang


harus kuhabiskan u tuk berangkat dan pulang sekolah.


SMA Negeri 1 Sakura adalah salah satu sekolah favorit di


Bekasi.  Siswa-siswa di sini terkenal


pintar dan aktif.  Setiap hari tak ada


waktu yang terlewati dengan percuma.  Sebab sekali saja tidak masuk,  tugas yang harus dikerjakan seperti seminggu tidak masuk.


Aku memandang keluar kelas.  Melihat kakak kelas yang sedang asyik bermain basket di jam olah


raga.  Mataku tertuju pada sosok


tinggi,  berkulit sawo matang,  berambut cepak,  berhidung mancung dan memiliki alis


tebal.  Sosok yang pernah aku kagumi saat


aku di kelas VII.  Kakak kelas favoritku.  Cowok yang membuatku jatuh hati pertama kali


di SMP, namun cerita cinta ini hanya kasih tak sampai.


Awalnya aku pikir kami berjodoh?  Karena bisa bertemu lagi di SMA. tetapi di


hari pertama kami bertemu saat MOS,  aku


tahu dia sudah punya pacar.  Ya,  mungkin nasibku sejak SMP hanya jadi pengagum


rahasianya.


"lihat siapa sih,  Qay?  Serius banget! "


Pertanyaan Arien, teman baruku di SMA membuyarkan lamunanku.


"Paling dia lihat kak Kenneth, cowok impiannya sejak


zaman penjajahan! " ucap Ranum meledekku.


"buat apa ya kami dipertemukan,  kalau tidak bisa disatukan? " ucapku


sambil berdiri kemudian berputar centil.


"kalau bendera kuning belum berkibar, itu artinya masih


ada harapan,  Qay!" ucap arien


sambil merangkulku.


Aku tak menjawab,  tapi kalimat arien begitu menyeramkan.  Jadi sekalipun dia sudah beristri tetap boleh direbut gitu?  Ah,  aku bukan tipe orang yang suka mengambil milim orang lain.


Seminggu setelah MOS selesai,  aku memotong pendek rambutku.  Potongan rambutku mirip Dao ming Tse dalam


drama China "meteor garden". Aku tampil semakin tomboi, hal ini aku


lakukan agar aku bisa memproteksi diri.  Aku terbiasa dilindungi Angga,  sejak kami beda sekolah aku harus lebih mandiri.   Berpenampilan tomboi akan membantuku Menjaga


diri, sehingga cowok-cowok semacam dewa tidak akan berani padaku.


"Qay,  semenjak


lo ikut ekskul pecinta alam kulit lo jadi tambah hitam!  Tiap minggu lo latihan climbing dan dayung,


emang ngga cape? " tanya ranum ketika kami berjalan kaki sepulang sekolah


menuju jalan besar untuk mendapatkan angkot.


"seru tau, num!  Gue jadi punya pengalaman baru dan seru. "


"akhir semester gue mau naik,  ngga sabar nunggu bulan desember! "


ucapku penuh semangat pada ranum.


"qay! "


"emmm! "


"emang lo ngga mau punya pacar? "


Aku menengok ke arah ranum setelah kalimat itu terlontar


dari bibir mungilnya.


Tiba-tiba wajah afzal yang samar-samar mulai pudar dalam


ingatanku muncul kembali.


Aku tak sungguh- sungguh memintanya untuk jadi pacar, tetapi


berharap pada kenneth,  tetapi aku tak


bisa menerima yang lain.


TIDAK BOLEH!!!!


Ayah tetap tidak mengizinkan aku untuk naik gunung.  Sejak aku pertama kali naik gunung di awal


bulan masuk SMA untuk ikut pelantikan caang (calon anggota)  baru di eskul pecinta alam, ayah tak pernah


setuju.  Baginya itu hanyalah kegiatan


yang sia-sia dan tidak cocok dengan anak perempuan sepertiku.


"satu kali ini aja ya ayah!  Janji ini yang terakhir! " pintaku


dengan nada semanja mungkin agar diizinkan.


"kamu  itu


perempuan,  bukan laki-laki!  Semenjak SMA kamu makin aneh,  harusnya tambah gede tambah dewasa.  Ayah ngga mengajari kamu untuk kayak


gini!"


"ayah mau kamu berhijab, belajar ilmu agama, kalau ayah


ngga ada siapa yang doakan ayah! "


Ayah terus berbicara dengan nada yang tinggi, untuk pertama


kalinya dalam hidup aku melihatnya semarah ini.


"ayah kenapa jadi lebay begini sih!  Ngga usah marah, bilang aja ngga dikasih


izin! " ucapku kesal,  kemudian


berjalan menuju kamar, meninggalkan ayah yang masih dengan ekspresi marahnya


dan bunda yang bingung harus berbuat apa. Sejak awal hanya duduk di sofa,


menggenggam tanganku agar tidak marah dan melawan ayah.


Aku tak mau keluar kamar,  bahkan saat bunda mengajakku untuk makan malam aku tak


mempedulikannya.  Oleh karena itu,  di tengah malam aku terbangun karena rasa


lapar.  Jam di dinding menunjukkan pukul


02.00. Dari tirai di pintu ruang shalat aku melihat ayah sedang bersujud


melaksanakan shalat malam.  Aku percepat


langkah kaki,  segera mengambil beberapa


buah dan membawanya ke kamar,  agar tak


bertemu dengan ayah jika beliau selesai melaksanakan shalat.


Suara azan subuh berkumandang.  Aku keluar kamar setelah berwudhu menuju


ruang shalat. Ketika aku ingin memasuki ruang shalat  ternyata ayah sudah bersujud melaksanakan


shalat  duluan meninggalkan kami.


"aneh,  biasanya


ayah selalu mengajak kami shalat  bersama


kalau tidak ke masjid!" ucapkan dalam hati.


Lebih dari 10 menit, aku kembali lagi ke ruang shalat, dan


ayah masih dengan posisi yang sama.


Ya Tuhan, aku baru tersadar, posisi ini juga kulihat saat


tahajud.


AYAH!!!!


bunda pun berlari menuju ruang shalat, dengan takut aku


menyentuh punggung ayah,  sedikit


mengguncangnya.


"Ayah! " panggilku dengan suara bergetar karena


tangis.


Plekk....


Tubuh ayah terjatuh begitu saja ke pangkuanku.


Aku diam.  Mematung.  Gelap dan menghilang.