
Butir-butir sinar Mentari menembus tirai kamar, kunikmati segarnya semilir angin sejuk dari balik selimut. Seusai subuh, memang tak seharusnya melanjutkan tidur, namun hari ini entah mengapa rasa malas mengalahkan segalanya. Bunda hendak beranjak meninggalkanku, tapi dengan sigap kutahan tubuhnya, agar tetap bersamaku. Sudah hampir tiga bulan kami tidur Bersama, semenjak Afzal memulai pekerjaannya sebagai seorang pelaut, berlayar dari satu negara ke negara yang lain. Bunda selalu menemani hari-hariku.
“jalan yuk, nak!” ajak bunda, sambal memukul lembut pundakku.
“mumpung mataharinya belum terlalu tinggi, belum terlalu panas. Bagus untuk proses
kelahiran kamu!”
“ehm….”
“kok, ehm… doang! Ayo ah, jangan malas. Eh kamu lahiran udah tinggal menghitung minggu kan?”
“ehm…”
“ehm….lagi! dulu waktu bunda mengandung kamu, ayah yang selalu menemani. Ayah kamu itu cerewet banget. Bunda ngga boleh makan ini, minum ini, jangan begini, jangan begitu, ah… sempat dongkol. Tapi kalau bunda ingat-ingat sekarang , rasanya semua yang ayah lakukan itu demi kita. Makanya kamu bisa lahir dan tumbuh sehat!”
Dengan perut yang membuncit, aku mencoba beranjak dari tidurku. Kupeluk lembut tubuh mungil bunda yang kian menua. Terasa kerinduannya pada ayah dipelukkanku, bunda adalah sosok perempuan kuat, tegar, dan lembut. Bahkan Ketika harus berpisah dengan suami tercintanya, malah bunda yang menguatkan aku agar mengikhlaskan kepergian ayah. Kami saling menguatkan dan berbagi kasih sayang agar tidak merasa kesepian karena separuh jiwa kami ikut terkubur saat ayah Kembali pada Illahi.
“Seandainya Ayah kamu masih ada, pasti dia akan lebih cerewet dibanding saat bunda mengandung kamu. Bunda merasa beruntung, karena bisa mendampingi kamu saat menikah dan sekarang bersiap menantikan kelahiran anak pertama.”
“Qay harus banyak bersyukur. Berterima kasih sama Allah, Qay ngga harus menunggu lama untuk memiliki buah hati. Bunda dan ayah harus nunggu cukup lama sampai kamu ada di Rahim bunda. Makanya walau hanya dipercaya Allah mengurus satu anak, bunda tetap bersyukur. Di luar sana banyak orang yang sampai akhir hidupnya belum sempat diberkahi buah hati.”
“Anak dilahirkan dengan membawa anugerah untuk keluarganya. Jangan sampai disia-siakan, diabaikan, dan ditelantarkan. Terkadang orang tua berpikir yang dibutuhkan anaknya adalah materi yang cukup, mereka banting tulang sampai lupa waktu bekerja untuk mengejar itu semua. Mereka lupa bahwa kehadiran orang tua lah yang paling dibutuhkan oleh seorang anak. Harta, materi kekayaan, hanyalah faktor pendukung.”
“waktu yang hilang ngga bisa diputar ulang. Sekali aja anak salah jalan, akan sulit bagi orang tua menariknya ke jalan yang seharusnya. Qay dan Afzal harus ingat itu ya! Anak-anak butuh kebahagiaan batin, mereka butuh tumbuh di kehidupan keluarga yang harmonis, Ketika keluarga sudah membangun pondasi yang baik, maka anak-anak akan tumbuh menjadi baik pula.”
“terima kasih bun, sudah menemani Qay!” ucapku sambal mengecup Pundak bunda.
“ada atau tidak bunda, Qay harus benjanji bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Qay!”
Aku anggukkan kepala. Menyetujui perkataan bunda.
“Ya udah, siap-siap ya! Bunda tunggu di luar. Harus rajin jalan biar lancar lahirannya!”
“siap komandan!” jawabku sambil menaruh telapak tangan di dahi.
***
Genggaman tangan
bunda terasa hangat, seperti sinar matahari yang menghangatkan tubuh kami saat
ini. Sepanjang jalan kami lalui dengan bercanda dan mengobrol santai. Kehadiran
hari dapat dilalui karena bunda tak henti-hentinya memberi perhatian serta
menguatkan aku bahwa harus terbiasa dengan kondisi ini. Sejak awal memutuskan Bersama
Afzal, aku tidak bisa menghalangi impiannya menjadi seorang pelaut.
“bun, melahirkan itu sakit ngga?”
“kalau bunda bilang ngga, kayaknya itu bohong ya, Qay!”
“sakit aja atau sakit banget, bun?”
“hmmm…. Sesakit apapun itu, akan hilang Ketika Qay lihat wajah anak Qay nanti. Rasanya ngga percaya, bahwa ada seorang makhluk Tuhan yang hadir melalui Rahim kita. Tangan mungilnya, suara tangisnya, ah… itu awal kehidupan perempuan yang sesungguhnya!”
“duh… dengar omongan bunda, aku jadi makin antusias lihat Afzal junior!”
Mendengar ucapanku, bunda jadi terkekeh.
“kok ketawa bun?”
“bunda itu dengar Afzal junior jadi geli gitu!”
“kok geli bun, Afzal junior pasti ganteng atau cantik kayak papanya dong!”
“iya lah, cucu bunda pasti bukan hanya cantik atau ganteng, pasti sehat, kuat, pintar, sholeha sholeh, kan punya papa dan mama kayak kalian!”
“ea…ea….ea….!”
“hus…malah ea…ea… kayak tukul arwana!”
Ha…ha…..ha……
Suara tawa kami menyatu, merdu menetramkan hatiku. Terima kasih ya Allah! Karena bunda masih bisa menemani hari-hariku di saat Afzal menempuh jarak, meraih rezeki untuk keluarga kecil kami.
Tin…..tin……tin…..
“Qay!”
Brukkkkkk…….
Terakhir, hanya suara bunda yang kudengar, sakit di sekujur tubuh membuatku kaku, gelap, kemudian sunyi.