Blind is Love

Blind is Love
Nafsu dan Cinta ITU Bedanya Tipis!



“Sampai kapan mau bengong di depan pintu gitu Qay?


Menghalangi jalan tahu!”


Ucapan kak naufal menyadarkanku yang sedari tadi melamun.


Hari ini semua guru rapat mendadak. Aku memilih pergi ke ruang sekretariat


ekskul. Meski tak tahu apa yang mau dikerjakan, setidaknya di ruang ini lebih


sepi dari pada ruang kelas.


Sudah hampir satu bulan sejak kejadian cium paksa itu


terjadi, aku dan afzal tidak bertemu. Bahkan kami kembali tidak saling


berkomunikasi. Masa dia yang mencium paksa, dia yang marah? Aku juga punya


harga dirilah, tidak mau menghubunginya duluan.


Qay sudah gila, malam itu aku hampir luluh dan ikut


menikmati ciuman itu. Suara batuk bunda yang menyadarkanku. Aku tidak paham,


mengapa dia berani begitu? Setelah menamparnya, aku berlari masuk ke dalam


kamar. Untungnya afzal tidak nekat mendobrak pintu kamarku.


“Qay, ditegur kok malah lanjut bengongnya!” sapa kak naufal


lagi. “lagi ada masalah?”


“maaf ya kak, ngga kok, Cuma kecapean aja banyak tugas!”


jawabku tidak jujur pada kak naufal.


“kak!”


“iya!”


“kenapa sih, cowok sama cewek kalau punya hubungan harus


ciuman atau yang lainnya?” tanyaku ragu-ragu dan malu.


“ jangan-jangan Qay.....”


“apa deh! Aku tanya aja, kalau ngga mau jawab juga ngga


apa-apa!” ucapku buru-buru memotong kalimat kak naufal.


“Qay, kalau lo punya sesuatu, lo maunya orang-orang tahu


ngga barang milik lo itu? Atau kalau lo memiliki sesuatu hal apa yang akan lo


lakukan supaya lo punya perasaan bahwa barang itu milik lo?”


“ih, ribet banget sih kak, ditanya malah balik tanya!”


“ih si Qay, mikir sedikit kenapa! Gini deh, lo punya buku


kan? Biar orang tau itu buku lo , lo apain tuh buku?”


“kasih nama!” jawabku datang.


“nah, begitu juga dengan pasangan. Kita tuh cenderung ingin


memberi tanda pada barang itu, kalau kita itu pemiliknya!”


“tandanya pakai ciuman gitu?”


“ngga juga, kadang lebih, bisa petting, kissmark, atau


bahkan berhubungan badan!”


Aku hanya melongo mendengar ucapan kak naufal, separah


itukah gaya berpacaran zaman sekarang?


Gantian kak naufal yang melongo mendengar pertanyaanku. Dia tersenyum


kecut dan menatapku.


“tergantung ceweknya mau sampai mana?” jawabnya datar.


“cewek kakak mau semua?” tanyaku tambah penasaran.


“iya, gue bukan penjahat kelamin, Qay! Semua dilakukan atas


dasar mau sama mau. Kalau terpaksa namanya pemerkosaan. Gue masuk penjara


nanti!”


Kami tertawa.


Huh, sebodoh itukah perempuan zaman sekarang? Menyerahkan perhiasannya


kepada laki-laki yang tidak berpikir akan menikahinya. Mereka hanya makhluk


yang membutuhkan alat pemuas nafsunya dengan mengatasnamakan CINTA. Semurah itukah


tubuh yang sudah dijaga dan diperjuangkan oleh orang tua mereka? Ah, Qay! Apa bedanya


kamu dengan perempuan-perempuan bodoh di luar sana? Ketika nafsu yang berbicara


maka si akal sehat menghilang, lenyap tak berjejak.


“Qay, lo jangan aneh-aneh sama pacar lo! Aneh-anehnya sama


gue aja nanti kalau kita sudah ijab qabul!”


“lah, menang banyak dong kakak!” ucapku sambil tersenyum


mendengar pernyataan kak naufal.


“sebajingan apapun seorang laki-laki, dia pasti akan memilih


perempuan baik-baik untuk jadi istri dan ibu dari anak-anaknya!” ucap kak


naufal dengan wajah serius dan menatapku.


“kak, Allah berfirman dalam Alquran, laki-laki yang baik


untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya! Jadi kalau kakak mau dapat


perempuan baik-baik, kakak juga harus jadi laki-laki yang baik!” ucapku tak


kalah seriusnya.


“Gila, makin yakin gue, lo cocok buat jadi mama


sperma-sperma gue nanti!” kata kak naufal sambil menepuk pundakku dan mendengar


kata-katanya aku malah tertawa kencang sekali sampai mengeluarkan air mata,


karena terlalu lucu.


Qay!!!


Arien berteriak. Kemudian berlari menghampiriku yang masih


tertawa bersama kak naufal.


Wajah arien merah, matanya sembab, napasnya juga belum


teratur. Aku langsung berdiri menghampirinya.


“ada apa rien?” tanyaku khawatir. Arien adalah sahabatku


yang paling santai. Baru pertama aku melihat ekspresinya seperti ini.


“Ranum, Qay!” ucapnya sambil mengatur napas.


“Ranum kena kasus video porno, Qay!”