
Seminggu sudah berlalu. Karangan bunga duka cita pun telah
mengering, rumah semakin sepi, sanak saudara telah kembali ke rutinitas mereka.
Aku tetap memilih mengurung diri di dalam kamar. Tubuhku yang sulit kurus saat
program diet dilakukan, tirus seketika. Jika bukan Bunda yang rajin menyuapiku
makan walau hanya tertelan 3 – 5 sendok bunda tetap telaten melakukannya.
Dia memilih diam saat menyuapiku. Mungkin bunda tak ingin
membuatku semakin larut dalam duka. Saat ini aku hanya ingin diam. Qayyana yang
dulu menghilang. Jangankan bergerak lincah seperti dulu. Berbicara saja, aku
tidak mau.
Hanya butiran air mata berjatuhan saat aku mengingat
pertengkaran terakhir dengan ayah. Aku mengerang, memukul tanganku ke lantai,
kadang memukul mulutku sendiri. Sebelumnya aku tak pernah bertengkar dengan
ayah. Aku dan ayah begitu dekat. Beliau belahan jiwaku, motivator hidupku, guru
terbaik dalam hidup, pahlawan, dan malaikat untukku. Seandainya aku bisa
memutar waktu ke malam itu. Ayah......
Ranum, arien, wali kelas, dan teman-temanku silih berganti
datang ke rumah. Mengajakku untuk kembali ke kondisiku semula. Semua tak
kuhiraukan. Aku hanya ingin ayah, aku tak mau yang lain.
“Aku ingin sekali memelukmu seperti kau memelukku dulu saat
Umiku pergi ke tempat Allah. Tapi kau tahu betul bahwa kondisi ini memaksaku
hanya bisa menyapamu lewat kata-kata.”
Kalimat-kalimat yang Angga kirim lewat telepon genggam pun
tak memberiku hiburan. Aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Sepanjang malam
aku terjaga. Hanya sesekali tertidur ketika mata telah lelah menangis.
Ayah .... ayah.... ayah....
Kupanggil berulang kali, dari suara yang keras hingga lemah
karena kondisi tubuhku semakin menurun.
“Qay, apakah kamu ingin Bunda mati juga?”
Deg.....
Aku hanya memeluk bunda, maaf bunda, maafkan Qay.
“Bunda pernah seperti ini, ketika kakakmu Bunda kandung
selama 6 bulan dan harus kami relakan karena ada kelainan jantung, sehingga
dokter harus mengeluarkannya sebelum waktunya!”
“Bunda ingin mati ikut bersama kakakmu kala itu. Bunda tahu
“siapa yang bunda harapkan sekarang, Qay? Laki-laki yang
paling bunda pergi tanpa memberi tanda apapun. Tapi bunda tahu, ayahmu pergi
dengan bahagia. Ia pergi dalam sujud shalat tahajudnya. Kematian yang paling
diidamkan setiap manusia.”
Pelukkanku semakin erat. Bunda hanya punya aku. Tapi aku
begitu lemah.
“Besok kamu ikut bunda ya? Kita silahturahmi sebentar!”
Aku hanya mengangguk sambil terus memeluknya.
Pukul 10.00 pagi kami akan berangkat dari rumah. Bunda memberiku
sebuah gamis cantik berwarna pink, bercorak bunga krem di sekeliling bawah
gamis. Ada jilbab berwarna krem yang nampak serasi dengan bunga pada gamis
tersebut. Aku belum memakainya. Hanya menatapnya.
Kata-kata terakhir ayah terngiang di telinga. Rasanya perih.
Seperti disayat-sayat pisau. Seandainya ayah dapat melihatku dengan pakaian
ini. Ayah pasti akan tersenyum bahagia. Ayah, maafkan Qay!
“Oh, Qay sudah gadis ya sekarang! Masha Allah cantiknya kamu
sayang!”
Ucap seorang teman bunda ketika kami bertemu di sebuah
rumah, tempat bunda dan teman-temannya biasa melakukan kajian dan pengajian.
Aku masih tetap diam, sapaan teman-teman bunda aku hanya
jawab dengan senyuman.
Kami duduk bersama ibu-ibu yang lain. Jadi ini kerjaan bunda
di saat aku sekolah dan ayah bekerja. Bunda rutin mengaji dan belajar ilmu
agama.
Kalimat demi kalimat yang disampaikan guru mengaji bunda
begitu mengena di hatiku. Seperti hamparan tanah gersang tersiram air hujan. Perlahan
tapi pasti, rasa hangat menjalar di hatiku. Hati yang kering sejak kepergian
ayah.
“Setiap jiwa pasti akan mati, kembali kepada penciptannya”
Aku harus kuat untuk bunda.
Hai readers! Kira-kira Afzal tahu ngga ya mertuanya
meninggal? Bagaimana kondisi Qay selanjutnya? Kapan ya Afzal dan Qay bertemu? Atau
mereka ngga akan ketemu lagi?