Blind is Love

Blind is Love
Menikah Ternyata Enak!



Parkiran motor masih sepi. Untuk menghindar kemacetan, terpaksa habis shalat subuh langsung berangkat. Ternyata malah kepagian. Hari pertama kembali ke sekolah setelah menikah di hari sabtu kemarin. Kulangkahkan kaki menuju kelas. Tidak terasa dalam hitungan bulan, aku akan segera lulus dari sekolah ini. Sekolah yang kubanggakan karena telah membentukku menjadi seseorang yang lebih disiplin.


Saat menikah kemarin aku hanya mengundang tidak lebih dari sepuluh orang teman terdekatku. Aku rasa merahasiakan dari pihak sekolah jauh lebih aman. Makanya hari sekolah ku mulai seperti biasa saja, tak ada yang berbeda, kecuali seragam sekolah yang sudah tertata rapi di atas kasur saat aku keluar dari kamar mandi dan dibawakan bekal sarapan oleh istri. Hi...hi..hi....aku malah terkekeh sendiri, kondisi ini sangat aneh, lucu, namun menyenangkan.


Di dalam kelas sudah ada beberapa teman yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Melihatku yang memasuki kelas mereka hanya melambaikan tangan dan tersenyum. Kemudian melanjutkan kembali aktivitas mereka. Setelah meletakkan tas dan mengambil kotak makan, akun memilih keluar ruangan dan duduk di bangku yang ada di depan kelas.


Kotak makan berwarna hitam lengkap dengan termos kecil berwarna abu-abu dimasukkan Qay ke dalam tas-ku. Terlihat dua tumpukkan roti sandwich dan beberapa potong buah melon di dalam kotak makan ini. Saat tutup termos kubuka, aroma susu coklat menyeruak ke dalam hidung. Ehm...yummy! Istriku ini benar-benar tahu selera suaminya.aku memang jarang sarapan pagi. Kalaupun sarapan, makanan yang kumakan hanya yang ringan saja. Jarang sekali makan nasi. Makanya waktu Qay bilang menyiapkan sarapan aku tidak terlalu antusias, tapi rupanya ia tahu kesukaanku saat pagi.


“Woi!!” sapa yudha sambil menepuk pundakku.


Hampir saja tempat makanku terjatuh. Untung aku sigap, sehingga tempat makan kembali aman.


“dari tadi gue perhatiin lo cengar-cengir sendiri! Mentang-mentang sudah melepas keperjakaan ya!” ucap yudha meledekku.


“cie...sudah punya istri mah beda, sarapan aja disiapkan!” ledeknya lagi.


“diam lo, dha! Ngga enak gue kalau ada yang dengar!” ucapku sambil memukul lengannya pelan.


Yudha semakin terkekeh.


“berapa ronde nih malam pertama lo? Ngga lemaskan dengkul lo?”


“belum!” ucapku datar.


Yudha menghentikan tawanya dan serius menatapku.


“lo impoten, zal? Atau si Qay kurang menggairahkan!”


Aku kembali memukulnya, kali ini pundaknya yang kupukul cukup keras. Yudha malah tertawa geli melihat sikapku.


“istri gue lagi datang bulan! Lagian tuh tamu bulanan datang kok tepat banget di hari gue nikah!”


Yudha semakin tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu sampai dia seperti itu.


“terus...terus....lo ngapain aja!” tanyanya lagi masih dengan tawanya.


“Kepo lo, urusan rumah tangga orang!” jawabku sambil berdiri, dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kelas lagi. Kuurungkan niat untuk sarapan. Mendadak rasa laparku menghilang.


“Zal!” panggilan yudha menghentikan langkahku.


“Besok kalau istri lo sudah bisa dipakai, jangan lupa pakai pelindung. Kecuali memang lo pengen cepat punya anak!”


“maksudnya?” tanyaku serius dan memutar balik mendekati yudha yang masih duduk.


“cewek itu kalau abis datang bulan mengalami masa subur. Kalau ngga pakai pelindung, istri lo bisa hamil!”


“kondom maksud lo?”


“Iya zal, **! Ya kali helm yang mau lo pakai, ngga ngaruh malah ribet lo begituan sama istri lo!” jawab yudha kemudian berdiri, memukul pelan kepalaku, dan berjalan meninggalkanku.


Ya Allah, aku belum kepikiran sampai situ. Harus sering cari info nih, biar ngga bego banget masalah beginian. Sebenarnya sih aku mau punya anak secepatnya, lagi pula itu juga permintaan papa. Tapi niat itu kuurungkan sampai kami berdua lulus dari sekolah menengah.


Qay!!!


Aku menoleh ke arah suara khas milik arien yang memanggilku.


“Nyonya Afzal cerah banget pagi ini!” sapanya sambil merangkulku.


“Bagaimana cerita hot-nya malam pertama seorang Qayyana dan Afzal? Ranjang ngga sampai robohkan?”


Aku hanya tersenyum mendengar deretan pertanyaan arien yang membuatku malu sendiri.


“bagaimana Afzal, sexy ngga? Haduh, kepo gue!jawab kek Qay, malah senyum doang!”


“pokoknya nikah itu enak! Susah menjelaskan dengan kata-kata!” ucapku dengan nada centil.


“ waduh, enak sih enak! Tapi gue nanti aja Qay nikahnya. Hidup hanya dengan satu laki-laki, membayangkannya saja ngga enak!” ucap arien tak kalah centil.


Kami tertawa bersama. Menikmati suasana pagi di sekolah. Melangkah ke kelas masih dengan rasa semangat.


“Qay, lo butuh referensi toko lingerie yang bagus ngga? Atau mau gue temani cari CD dan Bra yang sexy di mall”


Lagi-lagi arien menanyakan hal yang membuatku jadi malu dan senyum-senyum.


“buat apa rien? Lo tuh ada-ada aja!”


“lah, lo kan sudan menikah! Jadi harus membuat suami bahagia. Nanti kalau dia jajan di luar bagaimana? Tiap malam lo harus tampil sexy, biar suami lo ngga melirik cewek lain!”


“kok malah lo sih yang tahu banyak? Udah nikah aja kali, rien!”


“ nikah mah masih lama Qay! Tapi pengalaman itu penting!” ucap arien kemudian kami tertawa lagi.


Temanku ini memang paling ahli masalah begini. Sepertinya kalau arien bertemu dengan yudha mereka akan cocok.


“eh, rien!kemarin waktu acara kamu sempat ketemu yudha ngga?” tanyaku penasaran.


“ehm....yudha siapa?”


“teman sekolahnya Afzal. Ngga ketemu?”


“Ngga!” jawab arien singkat. “emang kenapa, Qay?”


“ngga apa-apa Cuma tanya!” jawabku tanpa ekspresi.


Baguslah kalau mereka ngga ketemu. Takut terjadi skandal karena kecocokan pemikiran mereka. Sepertinya aku harus memberitahu Afzal agar jangan sampai mempertemukan mereka berdua.


Pembelajaran belum dimulai tapi aku merasa kantuk. Setelah shalat tahajud tak tidur lagi. Aku ke dapur menyiapkan sarapan yang akan dibawa afzal. Saat adzan subuh berkumandang, aku membangunkan afzal dan membantu menyiapkan keperluan sekolahnya. Semua kulakukan sesuai arahan bunda. Aku harus melakukan sesuatu, agar afzal merasa ada perbedaan ketika ia sendiri dan sesudah menikah.


Rasanya lelah, tetapi lama kelamaan pasti akan terbiasa. Ayo Qay, semangat! Beberapa bulan lagi masa sekolah menengah atas akan segera berakhir. Lakukan yang terbaik agar mendapatkan hasil yang terbaik juga.