
Dengan tangan yang dipenuhi kantung belanjaan, susah payah kutekan tombol-tombol pada pintu agar terbuka. Apartemen pemberian papa mertua ini benar-benar mewah. Sistem pengamanannya mirip seperti yang sering aku tonton di drama korea.
Bip...bip
Pintu terbuka, langsung saja kaki ini melangkah masuk. Kondisi apartemen tak seperti ku bayangkan, lebih rapi. Afzal berarti rajin membersihkannya atau dia tidak ke sini dan lebih memilih tidur di asrama. Sambil merapikan sayuran yang aku beli, otakku mulai menyusun rencana. Yang pertama aku tidak menghubungi afzal, masak dan beres-beres rumah, siapkan dinner romantis, berdandan cantik dan menunggu dia pulang. Rencana yang kedua tunggu sampai maghrib, jika dia belum pulang juga maka terpaksa aku mengabarinya.
Setelah melepas hijab, aku mulai menyapu dan mengepel ruangan. Sprei dan bad cover pun aku ganti dengan yang baru. Beberapa bunga yang aku bawa, kulepaskan kelopaknya satu persatu. Kususun berbentuk hati di atas kasur. Tak lupa lilin aroma terapi kuletakkan di sisi kiri dan kanan kasur.
Selesai bersih-bersih ruangan, aku langsung menuju dapur lagi. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya aku harus lebih cepat lagi memasak. Untuk bunda sudah mengarahkan semalam. Pilihan menu jatuh pada pembuatan tomyam ayam dan nasi goreng teri medan. Simple tapi rasanya ngga kalah dengan yang dibeli di restoran.
Hanya butuh satu jam untuk memasak. Semuanya diletakkan ditempat anti panas, jadi bisa dipanasi lagi di microwave jika ingin panas saat makan malam nanti. Aku bergegas masuk kamar mandi. Kululuri tubuh dengan lulur terbaik yang aku beli bersama arien beberapa waktu lalu sebelum menikah. Tak ada sedikitpun celah ditubuh yang tidak kubersihkan. Malam ini aku harus cantik dan wangi.
Cukup lama aku terpaku di depan lemari baju. Tubuhku masih berbalut handuk. Pikiranku sedang berdebat. Haruskah baju tidur mini berwarna hitam nan sexy ini langsung kupakai? Atau pakai hijab dan gamis dahulu baru ganti?
Suara soundtrack film kuch-kuch hota hai berbunyi dari Hp-ku. Tertulis Arien yang meneleponku. Huh... sepertinya dia tahu aku sedang kebingungan. Langsung kuangkat teleponnya.
“Qay, bagaimana persiapan? Aman ngga?” tanyanya semangat.
“aman, tapi....”
“kenapa Qay? Afzal sudah datang?”
“i...ini rien, aku bingung, bajunya aku pakai kapan?”
Hahahaha..... arien tertawa geli di ujung telepon. Aku spontan manyun. Sudah kuduga dia pasti akan tertawa.
“kalau aku pakai dari sekarang, apa ngga terkesan agresif? Nanti malah terjadi yang ngga-ngga!”
Hahahahaha...... tawa Arien semakin kencang. Jika aku didekatnya pasti sudah kubekap mulutnya yang rese itu.
“Qay, ya bagus dong kalau terjadi apa-apa!kan lo sama afzal sudah mau 2 minggu menikah! Justru itu kejutannya. Lo tiba-tiba ada di sana dengan kondisi cantik dan sexy! Setelah itu biarkan si afzal yang kerja, lo terima diapain aja!”
“oh...gitu ya!”
“a..o...a...o parah banget sih Qay! pokoknya malam ini harus berhasil ya! Oh iya, ** yang gue kasih sudah lo bawa kan? Jaga-jaga kan lo berdua masih harus konsen sekolah!”
“iya, rien!” jawabku sambil mengeluarkan beberapa bungkus pemberian arien dari tas dan meletakkannya di dalam laci meja rias.
“oke Qay, siap-siap sana! Jangan lupa bajunya dipakai atau kalau ngga biar lebih hot, saat afzal datang lo buka pintu ngga pakai apa-apa!” ucap arien sambil cekikikan.
“stress lo rien!” ucapku kemudian menutup telepon darinya.
Langsung saja baju itu kupakai. Rambut kusisir terurai. Memakai pelembab dan minyak wangibdi sekujur tubuh. Beberapa kali berputa-putar di depan kaca. Memastikan tampilan ini tak akan Mengecewakan afzal. Baru pertama kali aku berpakaian se-sexy ini. Canggung rasanya membiarkan perhiasan dada menyembul begitu saja.
Aku menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur, menyiapkan meja dengan menata piring dan beberapa bunga dan lilin-lilin. Saat makanan akan aku ambil dari microwave terdengar pintu rumah terbuka.
Bip...bip....
Ceklek.
Belum jam enam sore, afzal kembali lebih cepat dari perkiraan. Tetapi terdengar suara orang lain, bukan suara afzal, kudengarkan lebih fokus lagi, YUDHA!!!
\*\*\*
Setelah pintu terbuka, aku bergegas masuk. Melihat lampu yang menyala dan ruangan dalam kondisi rapi dan wangi aku mengernyitkan dahi karena heran.
“kok rumah lo lampunya nyala? Seinget gue tadi pagi sudah kita matikan!” ucap yudha yang merasa keheranan juga. Kebetulan semalam ia menginap di sini.
“KAKAK!!!” teriakan seorang perempuan yang suaranya sangat aku kenal terdengar dari dapur.
“Ade!” ucapku sambil bergegas lari menuju dapur.
“yang lain jangan ke sini!” ucapan Qay menghentikan langkahku yang diikuti yudha dan davin dari belakang.
Aku menoleh ke arah yudha dan davin, dengan isyarat meminta mereka untuk diam di tempat. Kakiku melangkah cepat, si sumber suara bersembunyi di balik kursi makan. Badannya yang mungil jongkok, hampir tak terlihat.
“ade lagi apa di situ, kakak Cuma sendiri!”
Kepalanya perlahan terangkat. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang lain selain aku.
“kakak ke sana lagi aja, nanti aku lari ke kamar. Setelah bunyi pintu tertutup baru ajak yang lain masuk!” ucapnya masih dengan posisi jongkok di balik kursi.
“eh, ade ada-ada aja! Ayo kakak tutupin kalau ade malu karena ngga pakai hijab. Kalau lari nanti malah jatuh!”
“janji jangan tertawa ya!”
“ iya janji, lagipula kenapa istri sendiri diketawain!”
Pelan-pelan Qay bangun dan keluar dari persembunyiannya.
Glek.
Jakunku naik turun.
Tubuhku tiba-tiba seperti tersetrum.
Perempuan yang kini telah resmi menjadi istriku, muncul di hadapanku tanpa kabar sebelumnya. Dahsyatnya lagi, ia muncul dengan penampilan yang sangat berbeda. Bukan saja hanya melepas hijabnya, membiarkan rambut indahnya tergerai, tetapi hari ini Qay memakai baju yang sangat minim. Sexy, kulit eksotisnya terpampang nyata, lekukan tubuhnya terlihat sempurna, dan yang lebih wow, perhiasan dadanya begitu membangkitkan gairah.
Aku langsung maju mendekatinya, setengah merangkulnya agar tak terlihat oleh yudha dan davin. Kami masuk ke dalam kamar. Aku masih terpaku dengan keindahan Tuhan yang terpahat pada tubuh istriku. Oh... inilah nikmatnya menikah , semuanya dapat dinikmati tanpa takut dosa.
Glek.
Sekali lagi aku menelan ludah.
“sudah sana! Aku sudah masak. Kalian makan aja, aku Cuma masak dikit, ngga tahu kalau merrka juga ada di sini.” Pinta Qay.
Aku masih terpaku dan terdiam menatapnya.
“Kak!” panggil Qay.
“oh...iya!santai de!”
“aku ngga keluar menemui mereka ya, aku nunggu di kamar aja!” pinta qay.
“oiya, jangan! Kamu tunggu di sini aja,jangan keluar dan jangan ganti baju!”
Qay hanya tersenyum malu mendengar ucapanku.
Hem.... imutnya istriku, rasanya ingin kugigit sekujur tubuhnya, gemas.
Kutemui kembali yudha dan davin. Mengajak mereka ke meja makan untuk menyantap masakan yang telah Qay siapkan.
“tadi istri lo kenapa?ngga apa-apakan?” tanya yudha.
“ngga, tadi pas kita datang dia lagi ngga berhijab!” jawabku sambil menuangkan tomyam ke dalam mangkuk yudha dan davin.
“lah emang kenapa kalau ngga berhijab, ngga boleh lihat!”
“ dulu masih jadi pacar aja, dia ngga kasih lihat gue. Apalagi lo? Saudara bukan, suami bukan!” ucapku setelah itu memukul pelan kepala davin.
“Sholeha emang dia ya! Ini yang masak Qay juga, Zal?”
“ya, iya masa gue! Tapindia minta maaf ngga banyak, ngga tahu kalau gue pulang bawa lo berdua!”
“pantes lo buru-buru banget kawin! Gue juga mau punya istri sholeha, pintar masak kayak Qay. Dha, gimana kalau kita cari cewek berhijab terus kita nikahin juga!” ucap davin sambil mengunyah makanan dengan lahapnya.
“lo aja sendiri, nikah? Masih lama gue mah! Masih mau berpetualang masuk dari lubang yang satu ke lubang yang lain!”
Ocehan yudha hanya ditanggapi davin dengan tertawa. Sedangkan aku hanya geleng-geleng kepala. Bingung dengan cara berpikir yudha yang terlalu bebas. Apa hidup seperti itu membuat dia merasa nyaman? Sambil makan aku terus membayangkan wajah Qay. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Kalau tidak ingat tugas sekolah yang menumpuk sudah kuusir dua orang di hadapanku ini, dan berlari ke dalam kamar untuk menghabiskan malam yang indah.
Selesai makan kami langsung mengerjakan tugas. Jika tidak ada Qay, mungkin kami bermain game dulu. Sepertinya kedua temanku ini sangat pengertian. Tingkah mereka tidak bar-bar selama istriku ada di rumah. Tanpa kusadari sejak tadi mataku selalu tertuju pada pintu kamar.
“ngga sabar banget sih, zal! Sampai pintu dari tadi lo pandangin terus!” ledek yudha, yang sejak tadi ternyata memperhatikanku.
“ apaan sih, biasa aja!” balasku pura-pura tak peduli.
“jangan malu-maluin gue lo ya malam ini! Jangan kasih ampun, hajar terus!”
Ucapan yudha malah membuatku cengengesan.
“lo berdua, ngomongin game apaan sih?” tanya davin dengan ekspresi wajah bingung.
Sekarang aku dan yudha yang cengengesan karena melihat wajah davin seperti orang bingung.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Tugas akhirnya selesai. Rencana semula, yudha dan davin akan menginap, tapi untungnya tanpa aku minta, mereka sendiri yang membatalkan niat itu. Setelah mereka keluar dari rumah. Aku segera merapikan bekas makan dan kursi ruang tamu. Kasihan kalau besok Qay harus mengerjakannya sendiri. Setelah yakin semua rapi aku berjalan menuju kamar. Hal yang sejak tadi membuatku tidak fokus. Jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.
Huft.... aku tarik napas dalam-dalam. Tanganku meraih gagang pintu dan saat pintu terbuka mataku membesar dari biasanya, pandanganku tertuju pada sosok yang ada di dalam kamar.
Deg.
Deg.
Ayo, lagi membayangkan apa? Kira-kira qay lagi ngapain ya? Sampai-sampai membuat suaminya melotot dan deg-degan!
Penasaran? Ikuti kisah selanjutnya ya! Jangan lupa klik like dan beri komentarnya!