
Lupakan tentang Bagas, dia terlalu baik untuk jadi mainanku.
Aku bisa merasakan perasaannya terlalu tulus. Otakku terus melanjutkan
rencananya. Lanjut ke target kedua. Teman sekelasku, Namanya Dewa. Atlet basket
di sekolah, penggemar manga, wajahnya cukup lumayan untuk lolos SNI, tinggi
badannya 180 cm, sangat tinggi dibanding denganku yang hanya 150 cm. Namun hanya
satu kekurangannya, “maniak”. Di usia kami yang masih kelas akhir di sekolah
menengah pertama tentu tidak cocok. Seorang siswa berseragam putih biru tapi
selalu membicarakan tentang seks dengan teman-teman cowok di kelas. Aku yang sering mendengarnya
tanpa sengaja saja merasa jijik.
Dewa selalu menatapku dengan tidak sopan. Aku memang
bertubuh pendek. Tapi ukuran cewek seusiaku, bisa dibilang aku ini “montok”. Karena
memiliki ukuran bra yang cukup besar. Bukan karena sengaja, ini sudah keturunan
perempuan dalam keluargaku, memiliki buah dada yang besar. Hal itulah yang
membuatku risih, ketika Dewa dengan sengaja menatapnya tanpa berkedip. Dia sering
mendekatiku, mencari cara untuk menggodaku. Mencuri kesempatan untuk memuaskan
hasratnya, meskipun hanya lewat mata.
Brukk
Aku menabrak dada seseorang. Terlalu serius berpikir jadi
tidak fokus.
“Qay, sendirian aja!”
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Orang yang sedari tadi aku
pikirkan muncul tanpa diminta.
“Eh, iya wa! Kok kamu sendirian juga, yang lainnya ke mana?”
tanyaku pada dewa.
“udah duluan ke kantin. Kamu mau ke mana, Qay? Udah jajannya?”
tanya dewa dengan tatapan mata nakal yang tidak aku sukai.
“Iya! Emmm....dew, bisa ganggu bentar ngga?” tanyaku
ragu-ragu. Sebaiknya aku tanya sekarang saja, mumpung dia sendirian. Toh, ini
tidak serius. Hanya ingin mengisi kekosongan setelah ujian. Kalaupun ditolak
aku tidak akan marah dan kalau diterima, lalu aku memutuskannya dia pasti tidak
akan sedih, karena cowok seperti dea, hanya akan memanfaatkan cewek sebagai
pelampiasan hasrat saja, tidak akan benar-benar jatuh cinta.
“Aku ngga tau, mungkin ini terdengar aneh, tapi....aku harus
“Mau ngga, Dewa jadi pacar aku?” tanyaku dengan setengah
berbisik ke dewa. Aku tidak berani terdengar lebih keras, karena saat ini kami
ada di koridor sekolah. Banyak orang yang lalu lalang.
Dewa terlihat kaget, diam mematung, sambil terus melihatku.
“Maaf ya, Qay! Kayaknya aku ngga bisa deh, kok, bisa sih
kamu....!”
“Oke dewa, terima kasih ya jawabannya. Cuek aja, aku ngga
apa-apa kok! Kalau sudah ngomongkan jadi lebih lega!” ucapku cepat memotong
jawaban Dewa.
“lanjut gih, ke kantin. Nanti keburu masuk loh!” kataku
lagi, seraya berjalan meninggalkan Dewa yang masih diam mematung.
Aku langkahkan kaki secepat mungkin. Tak menoleh lagi, tak
peduli apa yang terjadi pada Dewa. Sejak awal aku memang tidak serius
menyatakan persaan padanya. Jadi, ditolak pun tidak membuat aku marah atau
sakit hati. Malah merasa beruntung, karena jika kami jadian, aku pasti hanya
akan jadi objek pemenuh hasratnya yang kotor itu.
“Mama!”
Mendengar panggilan khas itu langkahku terhenti. Kuarahkan mata
ke seluruh penjuru sisi di halaman sekolah. Tidak terlihat yang punya panggilan
khas itu.
“Mama, Papa di atas!”
Refleks aku menengok kepala, mengarahkan mata ke lantai 2, ke deretan ruangan kelas tepat di
belakang aku berdiri. Terlihat Afzal yang bersandar pada tembok pembatas,
melambaikan tangan kepadaku dengan senyum seperti biasanya. Aku hanya memberi isyarat
lewat wajah, bertanya mengapa dia berteriak memanggilku.
“sendirian aja, jomblo ya!” ledek afzal
“sini papa temani!”
Deg.....
Aku tak menjawab. Tapi jantungku berdesir seketika. Aku menemukan
rencana baru. Apa ini target selanjutnya?
“Zal, tunggu di situ! Gue naik.” Teriakku tanpa pikir
panjang lagi. Setengah berlari aku menuju kelas Afzal.