Blind is Love

Blind is Love
Cari Pacar, tapi Ngasal! (Season 2)



Lupakan tentang Bagas, dia terlalu baik untuk jadi mainanku.


Aku bisa merasakan perasaannya terlalu tulus. Otakku terus melanjutkan


rencananya. Lanjut ke target kedua. Teman sekelasku, Namanya Dewa. Atlet basket


di sekolah, penggemar manga, wajahnya cukup lumayan untuk lolos SNI, tinggi


badannya 180 cm, sangat tinggi dibanding denganku yang hanya 150 cm. Namun hanya


satu kekurangannya, “maniak”. Di usia kami yang masih kelas akhir di sekolah


menengah pertama tentu tidak cocok. Seorang siswa berseragam putih biru tapi


selalu membicarakan tentang seks dengan teman-teman  cowok di kelas. Aku yang sering mendengarnya


tanpa sengaja saja merasa jijik.


Dewa selalu menatapku dengan tidak sopan. Aku memang


bertubuh pendek. Tapi ukuran cewek seusiaku, bisa dibilang aku ini “montok”. Karena


memiliki ukuran bra yang cukup besar. Bukan karena sengaja, ini sudah keturunan


perempuan dalam keluargaku, memiliki buah dada yang besar. Hal itulah yang


membuatku risih, ketika Dewa dengan sengaja menatapnya tanpa berkedip. Dia sering


mendekatiku, mencari cara untuk menggodaku. Mencuri kesempatan untuk memuaskan


hasratnya, meskipun hanya lewat mata.


Brukk


Aku menabrak dada seseorang. Terlalu serius berpikir jadi


tidak fokus.


“Qay, sendirian aja!”


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Orang yang sedari tadi aku


pikirkan muncul tanpa diminta.


“Eh, iya wa! Kok kamu sendirian juga, yang lainnya ke mana?”


tanyaku pada dewa.


“udah duluan ke kantin. Kamu mau ke mana, Qay? Udah jajannya?”


tanya dewa dengan tatapan mata nakal yang tidak aku sukai.


“Iya! Emmm....dew, bisa ganggu bentar ngga?” tanyaku


ragu-ragu. Sebaiknya aku tanya sekarang saja, mumpung dia sendirian. Toh, ini


tidak serius. Hanya ingin mengisi kekosongan setelah ujian. Kalaupun ditolak


aku tidak akan marah dan kalau diterima, lalu aku memutuskannya dia pasti tidak


akan sedih, karena cowok seperti dea, hanya akan memanfaatkan cewek sebagai


pelampiasan hasrat saja, tidak akan benar-benar jatuh cinta.


“Aku ngga tau, mungkin ini terdengar aneh, tapi....aku harus


“Mau ngga, Dewa jadi pacar aku?” tanyaku dengan setengah


berbisik ke dewa. Aku tidak berani terdengar lebih keras, karena saat ini kami


ada di koridor sekolah. Banyak orang yang lalu lalang.


Dewa terlihat kaget, diam mematung, sambil terus melihatku.


“Maaf ya, Qay! Kayaknya aku ngga bisa deh, kok, bisa sih


kamu....!”


“Oke dewa, terima kasih ya jawabannya. Cuek aja, aku ngga


apa-apa kok! Kalau sudah ngomongkan jadi lebih lega!” ucapku cepat memotong


jawaban Dewa.


“lanjut gih, ke kantin. Nanti keburu masuk loh!” kataku


lagi, seraya berjalan meninggalkan Dewa yang masih diam mematung.


Aku langkahkan kaki secepat mungkin. Tak menoleh lagi, tak


peduli apa yang terjadi pada Dewa. Sejak awal aku memang tidak serius


menyatakan persaan padanya. Jadi, ditolak pun tidak membuat aku marah atau


sakit hati. Malah merasa beruntung, karena jika kami jadian, aku pasti hanya


akan jadi objek pemenuh hasratnya yang kotor itu.


“Mama!”


Mendengar panggilan khas itu langkahku terhenti. Kuarahkan mata


ke seluruh penjuru sisi di halaman sekolah. Tidak terlihat yang punya panggilan


khas itu.


“Mama, Papa di atas!”


Refleks aku menengok  kepala, mengarahkan mata ke lantai 2, ke deretan ruangan kelas tepat di


belakang aku berdiri. Terlihat Afzal yang bersandar pada tembok pembatas,


melambaikan tangan kepadaku dengan senyum seperti biasanya. Aku hanya memberi isyarat


lewat wajah, bertanya mengapa dia berteriak memanggilku.


“sendirian aja, jomblo ya!” ledek afzal


“sini papa temani!”


Deg.....


Aku tak menjawab. Tapi jantungku berdesir seketika. Aku menemukan


rencana baru. Apa ini target selanjutnya?


“Zal, tunggu di situ! Gue naik.” Teriakku tanpa pikir


panjang lagi. Setengah berlari aku menuju kelas Afzal.