
Kami keluar setelah shalat subuh. Qay membawakan dua kotak bekal dan dua termos. Satu kotak berisi roti dan buah, satu lagi nasi goreng untuk yudha. Dengan wajah yang kusam dan berkantong mata gelap yudha menyeruput teh hangat dari termos yang dibawakan. Dia tampak menikmatinya.
“istri lo baik banget ya ternyata, padahal biasanya jutek banget sama gue!” ucap yudha setelah menyeruput teh.
“ itu karena lo dah menolong sahabatnya, makanya dia ngga tega kalau gue disiapkan sarapan dan lo ngga!”
“begini rasanya punya istri ya, ada yang kasih perhatian!”
“maksud lo apa nih? Jangan mikir yang aneh-aneh tentang istri gue ya!”
“ya ampun, zal! Bucin amat sih lo! Segitu aja jealous!”
“biarin gue bucin, daripada lo ngga jelas! Tambah tua masih aja msin perempuan!”
“eh, gue mah ngga pernah maksa. Mereka mau dan menawarkan, rugi amat ditolak!”
Aku tak lagi membalas komentar yudha, hanya sudut bibirku tersenyum sinis mendengar jawabannya yang memang sesuai kenyataan. Postur tubuh yudha lebih tinggi dan kekar dariku. Wajahnya sangat lelaki dengan kulit kecoklatan. Selama ini dia tidak pernah bersusah payah merayu perempuan. Mereka yang datang dan menawarkan diri untuk dilahap si jagoan ranjang ini.
“Zal, apa yang membuat lo yakin kalau lo jatuh cinta sama Qay?”
Pertanyaan yudha membuat dahiku mengerut. Tidak biasanya dia bertanya soal cinta begini.
“kenapa sih lo, dha? Kemarin lo kena pukul di bagian kepala ya? Tumben, biasanya lo paling malas kalau bicara soal cinta. Kenapa, udah mulai bosan ya keluar masuk lobang sembarangan?”
“sue ....! Serius nih gue!”
“ini lebih ke hati sih kalau gue! Susah juga dijelasin pakai kata!”
“ah....ribet lo bucin! Susah dijelasin pakai kata, terus pakai apa? Kentut!”
Aku terkekeh melihat sikap yudha yang kesal.
“ya, ngga ada alasan dha! Tiba-tiba selalu mikirin dia, maunya ketemu dia, jantung lo kayak mau loncat kalau di dekat dia. Dia jadi lebih cantik di mata lo, tubuh lo kayak kesetrum ketika menyentuh dia. Ah, pokoknya kayak orang yang kecanduan, ngga bisa tanpa cewek itu.”
Sambil berkata kulirik ekspresi yudha yang manggut-manggut sambil tersenyum.
“nah....lo kenapa dha? Merasakan itu saat ketemu siapa?” tanyaku penuh selidik.
“ ngga ada!”
Kami terdiam. Aku fokus kembali ke jalan.
“lo kenal keluarga arien, zal?”
“nah loh, nah kan! Ada apa nih jadi ke arien?” jawabku meledek.
“serius kek, susah amat!” pinta yudha kesal melihat sikapku.
“arien ya, ehm.... arien!”
“Zal!”
“Arien itu kayaknya anak orang ada deh, tapi dia lebih suka tinggal di kos-kosan karena orang tuanya jarang di rumah. Anak tunggal, ceria, dan pengalaman juga sama cowok!”
Yudha mendengarkan dengan serius. Kepalanya manggut-manggut kayak boneka yang suka di letakkan di atas dashbor mobil.
“cewek ngga benar dong?” tanya yudha serius.
“waduh, gue ngga tau cewek ngga benar versi lo tuh, cewek yang kayak gimana?”
“ya, cewek-cewek yang kayak sering gue pakai!” jawab yudha kurang semangat, sambil menyandarkan kepalanya.
“semalam sih istri gue bilang arien masih perawan!”
Aku tidak menyangka yudha yang semula menyandarkan kepalanya, tiba- tiba bangkit dan semangat kembali mendengar penjelasanku.
“ya, istri gue bilang, meskipun arien suka gonta ganti pacar, kissing, petting, tapi ngga sampai begituan. Dia ngga mau katanya!”
“ah, serius lo?”
“ apa sih dha, dari tadi lo tanya gue serius atau ngga? Lagian emang keperawanan masih penting buat lo? Lo sendiri aja udah bekas pakai!”
“rese lo! Ya, bagaimanapun kita ini laki- laki Zal! Pasti maunya barang baru kan, masih tersegel!”
“terus nasib cewek-cewek yang selama ini sudah lo lahap emang sudah ngga perawan?”
“kepo lo!” jawab yudha sambil cengengesan.
“uuuuu..... sue!” teriakku kesal.
***
Arien berjalan keluar dari kamar. Ia menghampiriku yang duduk di meja makan menikmati nasi goreng dan telur dadar untuk sarapan pagi. Mataku masih mengantuk, karena bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal untuk afzal dan yudha. Bagaimanapun yudha sudah menolong arien? Meskipun aku kurang menyukainya, tetap harus mengucapkan terima kasih meskipun hanya lewat sekotak bekal.
“Bunda mana Qay?” tanyanya sambil menyendok nasi goreng.
“ke pasar.”
“afzal?”
“habis subuh langsung berangkat.”
Arien menganggukkan kepalanya, ku perhatikan seperti memikirkan sesuatu.
“tumben lo ngga tanya cowok yang kemarin sudah menolong lo!”
“oh, yudha!” jawabnya santai.
“nah, kapan ngobrolnya lo? Kok udah kenal aja!”
“semalam, pas gue ke dapur karena haus!”
“jangan dekat-dekat dia, yudha itu playboy! Udah biasa begituan sama cewek!”
“oh!”
“kok oh sih, rien! Udah ya, ini terakhir kalinya lo begini. Gue khawatir cowok yang dekat sama lo brengsek lagi!”
Arien tak menggubris kata-kataku. Ia malah sibuk mengunyah nasi goreng dengan lahap. Aku hanya bisa mendengus kesal. Arien termasuk cewek keras kepala. Dia terbiasa menjalani hidupnya sendiri, segalanya diputuskan sendiri, hidup bebas semaunya.
“rien!” panggilku.
“Qay, gue jadi kepikiran buat balas budi deh ke yudha! Kalau gue ingat-ingat dia itu menghajar habis-habisan tuh cowok maniak sampai KO.”
“balas budi apaan sih?” tanyaku mulai gregetan dengan tingkah arien.
“Apa aja! Hilang perawan juga ngga apa-apa!”
“ Ya Allah, istigfhar lo rien! Bicara asal aja!”
“Gue serius qay, lo bayangkan kalo dia dan afzal ngga bantu gue kemarin!”
“malas gue, terserah ngga mau komentar!”
Arien tertawa cengengesan melihat reaksiku yang marah dan kesal atas tingkahnya. Kutinggalkan dia sendiri di meja makan. Aku memilih merapikan dapur bekas memasak sarapan. Terserah arien mau melakukan apapaun. Toh, dia sudah dewasa. Sebagai teman aku sudah memberitahunya. Tapi, apa dia dan yudha akan berlanjut ya? Bagaimana kalau yudha juga menyukainya? Cowok pemain seperti yudha ngga mungkin ngga tertarik dengan arien yang cantik dan sexy. Apa aku beritahu afzal ya? Ah, sudahlah, ini bukan urusan yang harus kupikirkan.