
Tertulis nama Arien pada layar HP-ku. Sudah lama dia tidak menelepon.
“Halo, rien! Ada apa?” ucapku setelah memencet tombol menerima panggilan.
“eh, afzal masih nomor gue toh! Jadi senang deh!” jawabnya centil.
“gue lagi banyak yang dikerjain nih! Kalau mau ngobrol nanti aja ya pas agak senggang!”
“eh tunggu! Tadi pagi lo langsung pergi aja. Gue belum bilang terimakasih atas bantuan lo kemarin!”
“oh, itu mah ngga usah dipikirkan! Allah yang bantu lo!”
“masha Allah, afzal jadi alim kayak bininya!” ucap arien diselingi dengan suara tawanya.
“eh zal! Minta nomor yudha dong!” pinta arien dengan lugas.
“ oh, yudha nomor 44, gue nomor 42!” ucapku meledeknya.
“nomor HP zal, bukan ukuran BH!”
“sialan lo!” balasku sambil terkekeh karena kalimat balasan arien.
“Qay bilang, lo sama yudha ngga boleh kenal!”
“ah, bini lo mah kayak emak tiri! Ngga boleh banget gue bahagia!”
“udah si qay nanti urusan gue, zal! Sekarang gue minta nomornya Yudha aja.”
“oke!” jawabku singkat.
“Terima kasih Afzal ganteng! Muach!”
***
Arien memang perempuan yang sangat aktif. Aktif dalam tanda kutip. Setelah mendapat nomor yudha sepertinya ia langsung gerilya berkomunikasi. Meskipun yudha tidak cerita, namun sikapnya banyak berubah. Ia bukan tipe lelaki yang senang memandang layar gadget terlalu lama. Beberapa hari ini, aku sering memergokinya sedang senyum-senyum di depan HP atau menelepon seseorang. Aku tahu, itu pasti Arien.
Jika Qay diberitahu. Pasti omelannya akan sepanjang kereta pengangkut barang. Aku memilih untuk menutup rapat mulutku, daripada kepala pusing mendengar omelannya. Toh, arien yang meminta terlebih dahulu nomor yudha. Jika Qay marah, akan kukatakan bahwa arien lah yang lebih agresif.
Lagipula ada yang berbeda dari Yudha. Biasanya dia tidak mudah tertarik dengan perempuan selain untuk making a love alias sek*. Apalagi semenjak patah hati dengan nanda, Cinta pertamanya. Perempuan yang sudah disayangi setengah mati namun memilih meninggalkannya untuk menempuh pendidikan di malaysia, mengikuti ibunya yang menikah dengan orang sana.
Yudha patah hati dan menggila. Seminggu bisa tiga kali ia mencari mangsa atau jajan ke tempat-tempat yang tersedia wanita-wanita yang siap menampung pembuangan **. Semua dilakukannya untuk menyembuhkan lukanya. Walau menurutku hal itu justru akan merusak hidupnya. Setiap enam bulan sekali ia akan melakukan uji kesehatan kelaminnya. Agar terjaga dari penyakit-penyakit berbahaya, akibat hobinya yang suka keluar masuk lubang wanita sembarangan.
“Zal!” sapa yudha saat kami bertemu di kelas.
Aku tak menyahut hanya menoleh ke arahnya yang berada di belakangku.
“arien ajak lo dan Qay buat dinner di vilanya, jumat malam sabtu minggu ini!”
“loh, kenapa harus ajak gue dan qay? Lo aja berdua!”
“arien Cuma bilang mau mengucapkan terima kasih. Kalau lo ngga mau Qay marah soal arien yang berkomunikasi sama gue, lo diminta menurut aja. Kecuali lo siap dengan kemarahan qay!”
Aku hanya manggut-manggut, sambil tetus fokus dengan lembar-lembar laporan tugas yang ada di hadapanku.
“jadi, lo bisa kan?”
“ehm....!” jawabku sambil manggut-manggut lagi.
“lagian, bini lo kenapa ngga suka gue sih? Emang gue pernah buat salah ya?” tanya yudha penasaran.
“ngga! Kan dia bini lo, bukan bini gue!” jawab yudha asal dan membuatku kembali menoleh ke arahnya yang sedang duduk bersandar di kursi dengan santai.
“menurut lo cewek mana yang senang melihat cewek lain dipermainkan, sekalipun mereka ngga kenal!”
“maksudnya?” tanya yudha yang belum paham atas jawaban afzal.
“pertama kali qay ketemu lo, di kos-kosan lagi menggarap seorang cewek yang ngga berstatus apapun sama lo, wajarlah kalau Qay menganggap lo itu b*jingan!”
“oh gitu doang! Cowok mah harus punya pengalaman,Zal! Biar lihai diatas ranjang.”
“ah, itu mah emang aja lo yang playboy! Gue ngga ada pengalaman tetap joss di atas ranjang!”
“nah, ceritain dong zal! Dari nikah lo sepi-sepi aja, sudah pakai gaya apa aja?”
Pertanyaan yudha menyadarkanku bahwa pembicaraan kami sudah melenceng dari topik utama.
“kepo lo!” jawabku sambil melemparkannya tutup pulpen.
***
Reaksi Qay di luar ekspetasiku. Dia tidak mengomel malah hampir jatuh karena terlalu kaget. Untungnya aku sigap menopang tubuhnya yang mungil. Aku mendekap dan mengirinya berjalan di sisiku. Langkahnya pelan menuju ke tempat arien dan yudha yang duduk di seberang kami. Matanya dengan tajam menatap kedua makhluk itu.
Aku membantunya duduk di sebelah arien yang tampil sangat sexy dengan gaun malamnya. Selain leher dan bahunya terekspos, belahan dadanya pun menyembul padat, membuat jakun lelaki naik turun karena melihatnya. Arien memang tipe perempuan penggoda. Pantas yudha bisa luluh lantah tak berdaya di hadapannya.
“welcome Qay sayang! Dari tadi loh gue sama yudha menunggu lo dan afzal!” ucap arien santai seperti tak peduli dengan wajah asamnya qay, yang tingkat keasamannya mengalahkan bau keteknya orang kalau ngga mandi seratus abad.
Tiba-tiba yudha membuka jas-nya dan memakaikannya di bahu arien yang sejak tadi terpampang nyata mencakra khatulistiwa. Jas itu berhasil menutup belahan dada yang asyik memperlihatkan kekenyalannya.
Qay tersenyum sinis. Senyumnya lebih menakutkan daripada ketilang pak polisi karena lupa masuk jalur busway padahal belum punya SIM.
“Sok romantis banget lo! Kenapa ngga main drama korea aja lo berdua? Gantiin Song Joong ki dan Song Hye Kyo yang sudah cerai!”
Aku menahan tawa mendengar kemarahan Qay. Kenapa jadi drakor yang dibahasnya?
“loh, emang salah ya qay? Gue Cuma ngga mau aja si afzal jadi ngga fokus karena lihat arien!”
What? Kenpa si Yudha bawa-bawa nama gue! Dan benar saja pandangan Qay pindah kepadaku. Kedua bola matanya membesar hampir keluar. Aku malah menanggapinya dengan cengengesan.
“TERUS KALAU LO BOLEH GITU?” tanya Qay dengan nada suara yang jutek.
“boleh lah, kalau ngga boleh arien ngga mungkin pakai baju model begini!” jawab yudha dengan santai.
Kini giliran arien yang diberi tatapan galak oleh Qay.
“amal dikit Qay! Biar matanya pada segar!” ucap arie dengan genit sambil tersenyum menggoda Qay yang terlihat semakin kesal.
“Kak, ayo kita pulang! Ngga usah dinner-dinner!” ajak Qay sambil berdiri dan mulai melangkahkan kaki untu pergi meninggalkan mereka.
“Bye Qay! Hati-hati ya, gue sama yudha mau nginep di sini. Minggu sore baru kami pulang!”
Mendengar ucapan arien. Langkah kaki qay berhenti. Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah arien dan yudha.
“Ayo kak, kita makan! Habis itu kita ke kamar untuk istirahat!” ucapnya sambil duduk kembali di kursi samping arien.
Aku hanya tersenyum, kemudian melihat ke arah arien yang sedang tersenyum bahagia penuh kemenangan. Ia melihat ke arahku dan mengedipkan satu matanya. Memberitahu bahwa strateginya berhasil.