
Takkk....
Alat pendeteksi kehamilan itu terlepas dari genggaman. Aku duduk terdiam di atas kloset, tak bergeming dan hening. Mataku tepaku pada sebuah alat mungil yang tergeletak di lantai.
Garis dua itu begitu nyata, tak ada samar sedikitpun. Itu artinya, dalam perut ini ada makhluk kecil yang dikirim Tuhan atas kehendak-Nya. Berbagai rasa berkecamuk di dalam hati dan pikiranku. Bahagia? Tentu, semua pasangan yang sudah bersatu dalam ikatan pernikahan pasti berharap kehadiran buah hati. Bingung? Iya itu sudah pasti, statusku yang masih pelajar dan sedang melaksanakan ujian serta persiapan untuk kuliah, kehamilan ini tentu bisa menjadi penghalang.
Padahal akhir-akhir ini aku sedang semangat sekali persiapan kuliah. Pantas saja seperti ada yang beda dengan tubuhku belakangan ini, rupanya ada makhluk lain di sini. Makhluk yang dudah fiharapkan papa mertuaku sejak aku dan afzal menikah. Terbayang sudah kegembiraan beliau, jika aku menyampaikan kabar ini. Ah, tanpa sadar aku menghela napas! Lantas, bagaimana dengan kuliahku? Ini gara- gara Afzal, pasti dia sengaja ngga pakai pelindung!
“Qay!!” panggil bunda dari luar.
“ Kamu lagi apa sih? Ini HP bunyi terus masa ngga dengar?”
“i...iya bun, bentar lagi selesai!” jawabku gugup.
Setelah tespack kurapikan, aku keluar menuju HP yang terus berdering. Si tersangka yang membuatku hamil ternyata yang menelepon.
“Qay, kamu kemana aja sih? Kok baru angkat? Jangan bilang kamu baru bangun? Katanya kamu mau ke apartemen? Ayo dong ketemu, aku kangen banget!” cerocos Afzal saat aku menjawab panghilan teleponnya.
“Bawel ih!” jawabku ketus.
Untuk beberapa detik afzal tak bereaksi, hanya terdengar hembusan napas kami masing-masing.
“Qay! Kok gitu?” ucap Afzal dengan nada yang lembut.
“Aku batal ke apartemen. Ketemunya kapan- kapan aja!” ucapku masih dengan nada judes yang pedes, dan tanpa salam panggilan aku putuskan.
Aku tahu Afzal pasti kesal, tapi hasil tes hari ini tiba-tiba membuat mood ku merosot drastis. Hanya rasa kesal yang entah alasannya apa, berkecamuk di dalam hati.
Tanpa kusadari, ternyata sejak tadi bunda berdiri di pintu kamar dan sudah pasti mendengar dan melihat tingkahku tadi. Perlahan ia berjalan mendekatiku. Di tangannya terdapat sebuah gelas berisi susu favoritku. Tanpa bertanya disodorkannya gelas itu padaku, lengkap dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.
Oe....oe.....oe....
Lagi- lagi aku mual. Terlebih saat aroma susu itu tercium di hidungku. Tanpa pedulikan Bunda, aku menuju kamar mandi, namun tetap tak keluar apapun, hanya rasa mual. Setelah yakin, rasa mual menghilang, aku kembali ke kamar dan masih melihat bunda duduk di tepi kasur kamar.
“Lagi kurang sehat ya? Kalau ngga bisa minum susu, bunda siapkan yang lain ya! Qay mau pesan sesuatu?” ucap bunda sambil mengelus punggungku saat duduk di sampingnya.
“ nanti saja bun, aku siapkan sendiri!”
“kamu belum makan apapun dari pagi, tunggu ya bunda buatkan jus aja!”
Aku tak mengeluarkan suara, hanya anggukan sebagai jawaban.
Kurebahkan diri di atas kasur. Rasanya sangat malas untuk menggerakan tubuh. Ku lihat layar HP tak ada tanda pesan masuk dari Afzal. Apakah dia marah? Ah biarkan saja rasa kesal ini muncul begitu saja padanya. Mungkin karena berita mendadak ini dan aku belum mempersiapkan diri.
Bunda kembali, membawa segelas jus.
“bun, aku minumnya nanti saja ya? Taruh di meja saja dulu!” pintaku pada bunda.
“minum ya, sedikit aja dulu! Biar bunda tenang karena perut kamu masih kosong, nanti kalau sakit malah repot!”
Untuk menenangkan hati bunda, aku segera bangun dan mencicipi segelas jus tomat yang bunda bawa. Anehnya, jus itu terasa enak dan lahap masuk ke dalam kerongkonganku.
“nah, gitu dong!” ucap bunda.
“ sekarang istirahat saja dulu, biar lebih fresh ya!” pinta bunda.
Seperti anak kecil semua arahan bunda aku turuti. Entah ini sugesti atau apa, setelah melihat si garis dua, tubuhku terasa lemas, tenggorokan terasa hambar, dan mual. Dengan merebahkan diri, berharap semua akan kembali pulih.
***
“Qay di kamar.” Ucap bunda, beliau seakan tahu apa yang aku cari.
“Sejak tadi hanya berbaring di kasur,baru minum segelas jus, itu pun bunda yang paksa!”
Mendengar penjelasan bunda, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 10.00.
“Sakit ya bun?” tanyaku penasaran.
“mungkin!”
Aku langsung menuju kamar. Qay masih berbaring ditutupi selimut. Kupegang dahinya, suhunya terasa normal. Tidak demam. Tanganku yang mrnyentuh dahinya, menyadarkan dia bahwa aku telah pulang.
Plakk.
Tanganku ditepisnya. Aku kaget, tidak biasanya qay begini. Kutarik napas panjang agar tidak terbawa emosi. Terkadang sikapnya saat badmood membuatku sangat jengkel. Aku yakin, Qay sudah mengetahui kehadiranku, tetapi ia tetap memunggungiku. Bersikap seolah-olah aku tak ada.
Aku mencoba mengingat-ngingat pertemuan terakhir kami atau perkataan terakhirku di telepon, ada tidak yang salah, sehingga Qay bersikap begini. Semakin kuingat, aku semakin bingung.
“ke rumah sakit yuk!kalau Qay sakit, biar bunda ngga khawatir.” Ajakku pelan.
Qay tetap diam pada posisinya. Membuatku semakin bingung.
“Dosa besar loh suami pulang dicuekkin!”
Ucapanku kali ini didengarnya. Ia membalikkan tubuhnya ke arahku, tetapi matanya masih tertutup.
“ih, istri aku, tidur aja cantik!” ucapku menggodanya.
Namun yang digoda tetap tak merespon.
“Qay suami kamu itu sekolahnya jurusan pelayaran, bukan dukun. Mana aku tahu kamu lagi kenapa, kalau kamu diam aja kayak sekarang!”
“hari ini tuh aku masih harus ketemu teman-teman buat uji kompetensi besok! Aku bela-belain datang eh kamunya malah cuek!”
Entah kata yang mana mampu membuat Qay membuka matanya. Namun kedua mata itu melihatku dengan sinis.
“kamu Cuma mikirin pendidikan kamu, tapi ngga mikirin pendidikan aku!” ucap Qay ketus.
“loh, kan kita sama-sama sibuk untuk kelulusan dan persiapan kuliah. Aku ngga pernah larang kamu kan selama ini?”
“bahkan terakhir kita ketemu, aku dukung kamu kok kalau kamu mau jadi chef!”
“gimana mau jadi chef, kalau cium bau makanan aja aku mual!”
“Ya ampun qay, itukan sementara karena kamu lagi sakit!”
Qay langsung beranjak dari kasur dan menuju sebuah meja rias. Dibukannya sebuah laci, tiba-tiba aku dilemparkan sebuah benda.
Takkk.....
Sebuah benda kecil berbentuk panjang tipis berwarna dominan putih tergeletak di depanku.
Deg
Benda ini agak asing, namun lumayan familiar. Iya benda putih itu ... tespack???
Haii readers..... terima kasih masih setia menanti kisah Qay dan Afzal 🙏 mohon maaf sempat hiatus. Doakan author sehat selalu ya, dan jangan berhenti beri dukungan supaya author semangat terus mengisahkan kebucinan Qay dan Afzal. Jangan lupa klik tombol like dan tinggalkan komentar 😘