
“Kita mau ke mana?” tanyaku pada afzal.
“Ke tempat anak-anak kita dibesarkan nanti!” jawab afzal
sambil cengengesan.
“Aku serius ya! Kamu juga ngga kasih kabar mau datang, aku
belum izin Bunda!”
“Sebelum jemput tadi aku mampir ke rumah Bunda, bahkan aku
ajak bunda. Tapi bunda bilang biar anak muda aja yang pergi!”
“kenapa tiba-tiba kamu datang pakai mobil? Mau pamer ya?”
tanyaku sambil pasang wajah cemberut.
“Qay, aku tuh terpaksa begini! Biar papa bantu aka buat
nikah sama kamu. Sebelumnya mana mau aku begini, sejak kelas VII SMP aku
terbiasa mandiri!”
Aku terdiam. Menatap wajah afzal yang kelihatan sedih.
“kamu punya banyak rahasia ya, Zal!” ucapku sambil
mengalihkan pandangan ke depan.
“Bukan rahasia, Qay! Sahabat dekatku tahu kok, kamu ngga
tahu karena kamu orang yang ngga mau ikut campur urusan orang lain. Kamu ngga
pernah tanya, karena kamu berpikir orang itu ngga akan cerita kalau memang dia
tidak mau cerita! Aku justru nyaman dengan sifat kamu itu!” ucap afzal sambil
membelai kepalaku.
“aku ngga tahu itu bagus atau ngga, sikapku yang begitu yang
membuat ranum ngga pernah curhat tentang masalahnya dulu! Kalau ingat itu aku
merasa jahat dan ngga berguna!”
“Qay, itu pilihan ranum! Dia mungkin memilih menyimpannya.
Buktinya ngga ada yang tahu selain dia! Ya udah ya....sedih-sedihannya selesai
sampai di sini, sekarang kita berdua harus saling cerita!”
“terus kenapa kamu memilih hidup mandiri waktu SMP?” tanyaku
hati-hati.
“panjang Qay! Butuh waktu yang lama buat cerita.”
“ya udah disingkat aja!”
“mama mengidap kanker rahim, waktu aku kelas enam SD! Mama
banyak dibantu sama sekretaris papa yang kemarin kamu temui di samping papa!
Ya, aku ngga terima mereka menikah tiga hari sebelum mama pergi!”
“kamu ngga tanya ke mereka?”
“tanya apa?”
“iya, kenapa mereka menikah saat mama kamu masih ada!”
“ngga perlu, mereka Cuma akan bilang aku anak kecil yang
ngga perlu ikut campur urusan mereka!”
Ekspresi dan jawaban sedih afzal membuatku berhenti
bertanya. Dia jarang seperti ini. Setiap kami bertemu hanya ekspresi konyol
saat bercanda dan cemberut saat marah yang ia tunjukan. Selama ini, kami belum
saling mengenal. Eh, bukan kami, tapi aku, aku terlalu cuek dengan kondisi
afzal.
Kami memasuki parkiran sebuah apartemen baru. Lokasi berada
di tengah kota, tidak jauh ke arah sekolahku dan tidak jauh juga ke arah
sekolah afzal. Persis di tengah antara lokasi sekolah kami. Afzal memakirkan
mobil di salah satu basement. Tanpa kata ia menggandengku ke arah lift.
“kita mau ketemu siapa?” tanyaku di dalam lift.
“nanti juga tahu!” jawab afzal.
Lift berhenti di lantai 24. Afzal terus mengenggam tanganku
dan mengarahkan langkah kaki ke salah satu ruang di apartemen tersebut. Nomor
di pintu tertulis 2406. Sebuah kartu ditempel dan pintupun terbuka.
Pintu terbuka, afzal megubah posisinya berada di belakangku.
Ia mendorongku pelan agar aku melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Interiornya
sangat modern dan minimalis. Tapi terlihat sangan elegan dan mewah. Warna ruang
tamunya dominan putih dan hitam. Sebenarnya buka ruang tamu, lebih mirip ruang
serba guna, karena selain televisi besar, sofa besar dan terlihat nyaman, ada
juga beberapa lemari yang diisi dengan buku dan meja kecil serta sofa panjang
Aku juga melihat sebuah dapur kecil nan cantik, lengkap
dengan perabot masak yang modern. Kini afzal manarikku ke sebuah kamar dengan
nuansa pink pastel, sebuah tempat tidur besar dengan cover bad bercorak bunga
tulip merah. Di sisi sebelah kiri ada kamar mandi yang hanya dibatasi dengan
sebuah kaca yang diberi lapisan senhingga pemandangan di dalamnya tetap
terlihat meskipun samar-samar. Kamar mandi itu dilengkapi dengan bath up yang
besar dan cantik. Nuansa alamnya sanagt terasa karena disekitarnya dihiasi
tumbuh-tumbuhan liar namun cantik.
Afzal menarikku kembali ke arah balkon dari kamar kami. Ya
Allah, semua terlihat dari atas sini. Di sisi kiri ada sebuah ayunan gantung
berwarna putih. Pemandangan malam hari pasti sangat indah jika di lihat dari
sisni.
“Suka, Qay?” tanya Afzal sambil memelukku dari belakang.
Aku cukup kaget, dan berusaha melepaskan pelukkannya.
“Sebentar aja, Qay! Jangan berontak!” pintanya.
“Ini rumah siapa?” tanyaku.
“rumah kita!” jawab afzal masih dengan posisi memeluk.
“Kamu yang beli?”
“papa Qay!”
“berarti rumah papa, bukan kita!” ucapku tegas.
“iya...iya! sementara setelah menikah kita tingga di sini
ya, jarak tempuh juga ngga terlalu jauh!”
“bunda bagaimana? Memang kita ngga bisa bersama bunda aja!”
“kan di sini ada dua kamar. Bunda harus sama kita!” ucap
afzal sambil terus memelukku.
“Qay, papa kasih syarat harus terima rumah ini buat kamu. Rumah
ini punya kamu dari papa!”
“apa?” ucapku kaget dan melepaskan pelukan afzal.
“iya, ini hadiah ulang tahun dan pernikahan dari papa buat
kamu. Kalau kamu tolak artinya kamu menolak menikah!” ucap afzal menjelaskan
sambil memegang bahuku.
“tapi ini.....!”
“sudah terima ya!jangan diperpanjang!” ucap afzal memotong
kata-kataku.
“ini terlalu mahal, aku ngga mau jadi cinderella! Aku lebih
suka membangun semuanya bersama dari nol! Rasanya terbebani!” ucapku sambil
melangkah dan duduk di sofa.
“iya paham! Sekarang terima saja dulu. Yang lain diurus
nanti, ya!” ucap afzal kemudian ikut duduk di samping dan merangkulku.
“paham...paham, tapi tangan jangan gentayangan sih!” ucapku sambil
mendorong afzal.
Afzal tertawa dan menarikku lagi ke pelukkannya.
“pelitnya istriku ini!” ledeknya sambil mencoba mencium
pipiku.
Aku pura-pura menghindar sambil tertawa juga. Tangan afzal
berpindah dari pinggang ke wajahku. Aku tak dapat menghindar.
Cup.
Cup.
Cup.
Kening dan pipiku diciumnya.
“buatku kamu paling cantik. Paling spesial. Selamanya aku
mau ada kamu di hidupku. Selamat 17 tahun, sayang!” ucap afzal dengan posisi
tangan masih memegang wajahku.
Aku hanya tersenyum. Menganggukan wajah semampuku.
“cium bibir bolehkan?” tanya afzal sambil berusaha mencium
lagi.
Aku langsung mendorongnya dan kami tertawa bersama.