
Jabat tanganku mungkin
untuk yang terakhir kali, kita berbincang tentang memori di masa itu.
Peluk tubuhku, usapkan
juga air mataku, kita terharu seakan
tiada bertemu lagi.
Bersenang-senanglah
karena waktu ini yang akan kita rindukan, di hari tua, sebuah kisah klasik
untuk masa depan.
Begitulah lirik lagu dari sheila on 7 band yang sedang
hits saat ini bergema di seluruh gedung.
Sambil berpegangan tangan, kami ikut bernyanyi. Liriknya mewakili perasaan kami saat ini. Momen hari wisuda kami. Melepaskan cerita
seragam putih biru yang penuh warna.
Angga tepat di sampingku. Sahabat, teman dan musuh di setiap
momen kami sejak kelas 1 sekolah dasar. Mata kami saling berpandangan,
berkaca-kaca, seolah tahu bahwa kami akan segera berpisah. Sekolah yang kami
pilih berbeda kota. Kondisi keluarga memaksa Angga untuk kembali ke Yogyakarta.
Ke tempat nenek, satu-satunya keluarga yang Angga miliki.
Angga merangkulku, membuat hatiku seakan tak merelakan perpisahan
ini. Bagaimana aku melalui waktu tanpanya? Setelah hampir sembilan tahun kami
tumbuh bersama. Angga yang pertama kali mengajarkan aku bermain sepatu roda di
kelas 2 SD, Angga yang memelukku pertama kali setelah ayah, saat aku menangis
karena di Bully kakak kelas di Kelas 4 SD, Angga yang menjadi patnerku
berpetualang di rawa-rawa dekat sekolah kami sebelum dibangun menjadi
perumahan. Belajar bersama, main air di kolam yang airnya berwarna mirip susu
coklat karena dipakai para sapi dan kerbau untuk mandi, saling bertukar cerita
dari buku yang kami baca. Ah, waktu berlalu begitu cepat.
“Qay, ada hal yang kamu rahasiakan dari aku ya?” tanyanya setelah kami dipersilahkan untuk
duduk kembali setelah lagu selesai.
Aku menggeleng, namun tak yakin, karena aku memang tak
menceritakan tentang aku dan Afzal kepada Angga.
“kamu tahukan? Aku sayang kamu! Sayang sampai kapanpun!”
ucapan angga membuat bulir-bulir air mataku turun di sudut mata. Tak ingin
Cup....
Angga mencium pipiku.
“Selamanya kita sahabat.”
Kalimatnya aku setujui dengan menganggukkan kepala. Hubungan
ini terlalu suci untuk dinodai dengan status pacaran. Masa-masa yang kami lewati
terlalu indah untuk diganti dengan rasa marah jika kami harus putus karena kata
cinta. “aku sayang kamu” terdengar lebih tulus dari pada kata jadian. Angga memiliki
tempat tersendiri di hatiku. Persahabatan kami lebih indah dari sekadar pacaran.
Afzal Putra Setiawan
Putra Bapak Setiawan
Nama itu diulang dua kali namun si punya nama tak juga naik
ke podium. Mantan ketua OSIS, yang banyak disukai adik kelas. Cowok ceria. Cowok
yang punya wajah sedap dipandang mata. Cowok yang menjadi korban keisenganku.
“kayaknya, si afzal ngga datang ya, Qay?” tanya Angga
mengagetkanku.
“emmm... iya...emmm.....ngga tau!” jawabku tak jelas.
“Qay, waktu itu afzal pernah tanya tentang kamu loh! Kalian saling
kenal ya?” tanya angga lagi, sepertinya dia tidak bisa membaca ekspresi wajahku
yang memucat.
“ngg....ngga....ngga kenal....Cuma tahu dia pernah jadi
ketua OSIS!”
Plessshhhh....
Jantungku berdesir. Mana mungkin kami tak saling kenal? Dia laki-laki
yang aku cium pertama kali. Hal gila yang aku lakukan seperti bukan aku. Sejak itu
kami tak bertemu. Aku bahkan tidak mencari tahu berapa nomor HP-nya. Kami tak
saling berkomunikasi. Aku pikir hari ini kami akan bertemu. Tapi perpisahan ini
aku lewati tanpa dia.
Sebenarnya cinta Qay untuk siapa ya? Apakah hubungannya
dengan Afzal akan berlalu begitu saja? Menurut kalian, apakah benar cowok dan
cewek itu bisa sahabatan? Tunggu lanjutannya ya!!!