
Beda kamar beda cerita, arien dan Yudha memilih menikmati alunan musik setelah selesai dinner. Membiarkan aku dan qay masuk ke kamar lebih dulu. Mereka duduk di sebuah balkon yang memiliki pemandangan malam yang indah. Dari sana dapat melihat kerlap kerlip lampu vila-vila yang berjajar tak beraturan di atas bukit-bukit. Mata yudha tak pernah lepas dari arien. Ia semakin mengagumi perempuan cantik nan sexy di hadapannya itu.
“ke kamar yuk! Mulai dingin!” ajak arien denga lembut.
“yuk!” jawab yudha, kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya disertai senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya sejak bertemu arien.
Mereka berjalan sambil merangkul satu sama lain. Tak ada rasa canggung di antara keduanya. Seperti sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan begitu lama. Sesekali saling menatap dan melemparkan senyuman. Yudha benar-benar jatuh hati dengan arien. Semua sangat berbeda dengan kebiasaannya. Dia cenderung bersikap cuek dengan para wanita yang sering dinikmatinya. Mereka seperti tisu, setelah dipakai, dibuang begitu saja ke tempat sampah.
Sesampainya di kamar, arien duduk di tepi kasur dengan pose yang menantang. Melipat kakinya dan membiarkan paha mulusnya show up dengan sempurna. Yudha yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Ia tak berani melakukan apapun dulu, sebab ia tidak mau dianggap brengs*k oleh perempuan yang menaklukkan hatinya sejak awal bertemu.
“mau sampai pagi berdiri di situ?” tanya arien dengan suara yang lembut namun menggoda.
Yudha tak memberi jawaban, hanya tersenyum kemudian melangkah mendekatinya dan duduk tepat di samping arien.
“enaknya ngapain ya?” tanya arien lagi, kali ini tangannya sudah melilit cantik di leher yudha, hingga dada mereka saling menempel.
Sregggghhhhh.....
Desir darah dan detak jantung yudha mulai tak menentu. Perempuan ini benar-benar berbahaya. Lelaki mana yang tak lumpuh jika terus menerus dihunjam dengan tubuh yang sintal, kenyal, dan sexy seperti ini.
“arien maunya apa?”
“arien mau membuat yudha happy!” ucap arien sambil berbisik ditelinga yudha yang mulai memerah.
“caranya?” tanya yudha, tak mau kalah ia pun menanyakan di telinga arien dengan suara yang mendesah.
Membuat arien melepaskan tangannya yang melingkar di leher yudha. Mereka saling tatap dan arien berinisiatif menempelkan bibir padatnya pada bibir yudha.
Cup.
Sebuah ciuman singkat diberikan arien.
“kamu yang mulai ya!” ucap yudha sambil tersenyum dan tangannya menyentuh pipi dan tengkuk leher arien.
Cup.
Cup.
Kini giliran yudha dengan ganas dan panas melahap bibir arien. Keduanya saling berpaut. Tak ingin mengalah satu sama lain. Di dalam kamar yang terdengar hanya bunyi desahan napas dan adu Bibir dan gigi akibat ciuman yang menggairahkan mereka. Tangan arien yang semula memeluk yudha, tiba-tiba berubah posisi. Dengan lihai, ia mulai membuka jas yang yudha kenakan. Kemudian mulai membuka kancing kemeja satu demi satu. Pengalamannya selama ini membuatnya tak ingin mengalah saat beradu bibir dengan yudha.
Setelah semua kancing hampir terlepas, yudha menyudahi ciumannya. Ia menghentikan tangan arien dan mundur beberapa centi agar jarak mereka tidak terlalu dekat. Arien yang sedang menikmati pun sontak kaget dan kehilangan. Ia langsung menggigit bagian bawah bibirnya yang masih haus akan ciuman memabukkan itu.
“sudah, jangan lanjut lagi!” pinta yudha lembut. Meskipun sebenarnya ia tak ingin menyudahinya, namun ia berusaha agar hubungannya dengan arien tak sekadar tentang nafsu saja.
“kenapa? Arien ngga keberatan kok! Dilanjut aja!” ajak arien sambil bergeser mendekati yudha.
“berarti arien mau jadi pacar yudha?”
Arien menganggukkan kepalanya. Membuat wajah yudha sumringah.
“sekarang bisa kita lanjut?” tanya arien dengan centil.
“bagaimana untuk malam ini segini dulu? Nanti biar dilanjut setelah kita saling kenal lagi! aku ngga mau kamu berpikir bahwa aku Cuma lelaki yang memanfaatkan kamu!”
“aku ngga apa-apa kok dimanfaatkan! Kalau itu bisa membuat yudha bahagia. Yudha sudah menolong, dan sudah seharusnya arien membalas budi kan?”
“menolong orang itu harus, rien! Apalagi yang ditolong perempuan cantik kayak kamu!”
“ya sudah, ayo kita lanjut! Arien ngga keberatan kok!”
“arien mau nikah sama yudha?”
Pertanyaan yudha berhasil menghentikan tangan arien yang sejak tadi menjelajah di dada yudha. Kini arien yang mundur beberapa centi. Wajahnya tampak bingung dan terkejut.
“kita nikah, baru arien boleh berbuat apa aja!” ucap yudha menegaskan kembali.
“Qay bilang yudha sudah biasa begituan sama cewek! Kenapa sama arien harus nikah dulu?”
“yang qay bilang itu benar, tapi cewek-cewek itu ngga membuat yudha sayang sama mereka. Kalau arien beda!”
“arien juga sayang sama yudha, makanya arien mau yudha jadi yang pertama!”
“setelah jadi yang pertama, terus mau apa?”
“ya, kita jalani hubungan layaknya pasangan kekasih pada umumnya!”
“terus?”
“terus apa?”
“kalau bosan arien minta putus gitu? Yudha ngga bisa! Aku harus tanggung jawab!” ucap yudha, kemudian berdiri dan berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela.
“ngga akan, Arien janji ngga akan bosan dan minta putus!”
Kali ini yudha tersenyum kecut mendengar kalimat arien. Hatinya terusik, mengapa saat dia ingin kehidupan percintaan yang normal,perempuan yang dicintainya justru menolak.
“arien ngga ada rencana nikah?” tanya yudha untuk memastikan.
Arien mengambil selimut dan menutup dadanya. Ia tertunduk dan terdiam. Yudha yang ada di seberangnya hanya menatap dan menunggu jawabannya.
“buat apa nikah? Pernikahan hanyalah perjanjian yang menyebalkan!”
Jawaban arien membuat yudha terkejut. Ia bahkan mendengar suara arien yang berbeda. Suaranya bergetar menahan tangis.
“buat apa menikah? Jika hanya ingin melegalkan segala perbuatan sesuka hati. Memukul pasangan, memaksanya melakukan adegan ranjang yang aneh-aneh, mencaci makinya jika pekerjaan rumah yang dilakukan salah!”
“pernikahan untuk mendapatkan anak, setelah dapat, anak hanya jadi hiasan. Ngga diurus, ngga dipedulikan!”
Suara tangis arien pecah. Yudha akhirnya berjalan mendekati kemudian memeluknya. Arien menangis, ada kesedihan mendalam dari suara tangisannya. Membuat yudha merasa bersalah. Ia merasa tidak seharusnya memaksakan pemikiran kepada arien, toh mereka baru saja kenal.
“uang mereka ngga buat aku bahagia, dha! Uang mereka ngga bisa meluk aku di saat aku kesepian dan butuh motivasi. Aku bukan boneka, yang mereka lakukan hanya menghias aku tapi ngga peduli hati aku kayak gimana!”
“maafin aku rien! Aku Cuma ngga mau kalau kamu anggap aku cowok brengsek!”
“aku benar-benar sayang kamu!”
Isak tangis arien mulai mereda. Yudha mengecup kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa arien hanyalah seorang anak yang kesepian. Semua yang dilakukannya selama ini hanyalah pelampiasan dari rasa kesepian. Dia bahkan takut dengan pernikahan, setelah menjadi saksi pernikahan yang tidak normal yang dijalani orang tuanya.
“arien mau yudha, arien rela memberikan jiwa dan raga buat yudha. Kenapa? Karena yudha adalah lelaki pertama yang membuat arien merasa dilindungi. Semuanya brengsek, mereka Cuma mau tubuh arien. Tapi yudha ngga! Jadi biarin malam ini arien buat yudha ya?”
Glekkk.
Yudha menelan ludah. 100 persen ia tidak ingin menolak arien. Tetapi, apakah benar jika ia menyetujui keinginan arien? Bagaimana kalau qay marah? Yudha benar-benar menyayangi arien, dan ingin menjaganya sepenuh hati.
Ayo....bagaimana nih readers? Yudha akan bertahan atau menyerah sama keinginan arien? Kira-kira hubungan mereka akan seperti apa ya? Terus nasibnya si afzal gimana ya? Pasti badannya sakit tuh tidur di Sofa sambil terikat begitu.
By the way terima kasih buat yang sudah setia membaca Blind is Love ya! Terima kasih juga atas like dan komentarnya yang membuat author jadi semangat terus buat up! Semoga ceritanya memberikan manfaat dan pelajaran ya! Dan jangan lupa share ke teman-teman ya biar makin banyak yang baca 🥰🙏 ditunggu ya kelanjutannya!