Blind is Love

Blind is Love
Berani Sebar Benih, Berani Panen!



Sejak pagi aku memandangi layar HP. Panggilan yang aku


tunggu tak juga ada. Sudah hampir satu bulan berlalu, aku sangat merindukannya.


Berbagai rutinitas kulakukan, tetap saja rasa rindu tak hilang. Semakin hari


membuatku tersadar, bahwa aku benar-benar menyayangi afzal. Laki-laki konyol


yang mencintaiku dengan segala sikap burukku.


Aku berjalan menuju ruang sekretariat ekskul pecinta alam. Ingin


melihat jadwal latihan dayung di hari sabtu. Lebih baik berlatih dayung, siapa tau


bisa ikut seleksi untuk pertandingan dayung. Dari pada aku merana , ngga jelas


memikirkan Afzal, lebih baik memanfaatkan waktu supaya berguna buat orang


sekitar.


Saat akan membuka pintu ruang sekret, tanganku ditahan oleh


seseorang. Refleks aku membalik badan ke arah orang yang menahan tanagnku. Seorang


cewek berwajah cantik, rambutnya dicat kecoklatan, tingginya lebih dari


tinggiku. Dia tidak berseragam sepertiku. Sepertinya bukan satu sekolah


denganku.


“Qay?” tanyanya padaku.


“Iya, maaf siapa ya?” jawabku dan balik bertanya.


“Gue Ghisa, pacarnya Naufal.”


“Naufal? Oh...kak Naufal! Ada yang bisa dibantu, kak?”


tanyaku.


“bisa kita bicara, tapi jangan di sini!”


“oh, iya kak! Ayo!” ucapku sambil mengajak cewek ini


mengikuti ke arah masjid yang kebetulan letaknya tidak jauh dari ruang sekret.


Kami duduk di teras masjid dekat kolam ikan favoritku. Saat ini


sedang istirahat panjang, makanya kondisinya agak ramai.


“langsung aja ya, Qay!gue mau minta tolong sama lo untuk


jauhi Naufal!” ucap kak ghisa membuatku kaget.


“maaf ya kak, ghisa! Jauhi? Maksudnya apa ya? Aku ngga


paham!”


“gue hamil sudah 7 minggu, tapi Naufal terus menghindar!”


Deg.


“Hamil? Terus hubungannya denganku apa?” gumamku dalam hati.


“tapi kak, aku dan kak naufal ngga ada hubungan apapun. Bahkan


kami sudah jarang komunikasi setelah pertandingan panjat tebing selesai!”


“gue tahu, tapi naufal pernah cerita kalau dia suka banget


tipe cewek kayak, lo!”


Aku tersenyum. Makin tidak paham.


“kak naufal ngga pernah nembak aku, Kak! Dia tahu kok aku


punya pacar!” ucapku bingung, karena selama ini memang hanya menganggap Kak


naufal seperti kakak sendiri.


“gue bingung Qay, harus dengan cara apa supaya dia mau


ketemu gue!”


Mata kak Ghisa mulai berkaca-kaca. Aku semakin bingung


menghadapinya. Tidak tahu harus berkata apalagi.


“GHISA!” suara kak naufal memanggil dengan kencang.


Kak naufal langsung menghampiri kami dan menarik tangan kak


Ghisa dengan kasar. Aku hanya terdiam, bingung dan salah tingkah. Harus berbuat


apa untuk kedua orang ini!


“lo baru mau menemui gue, setelah gue menemui Qay! Kemarin-kemarin


lo ke mana?”


“TUTUP MULUT LO!”


Kak naufal menarik paksa kak ghisa pergi dari masjid. Ia bahkan


tak menoleh sedikit pun kepadaku.


Setelah mereka pergi, kakiku terasa lemas. Kenapa aku ada di


hubungan mereka? Selama ini aku dan kak naufal hanya teman, senior dan junior


di ekskul. Hamil? Akhirnya tabungan sperma kak naufal membuahkan hasil. Kenapa anak


muda zaman sekarang sangat suka bermain api? Apa mereka pikir dengan memakai


baju besi tidak akan terbakar? Mereka lupa Allah itu maha berkuasa. Kapanpun Allah


mau, dan apapun itu bisa terjadi.


Aku bangun dari tempatku duduk, saat akan melangkahkan kaki


pergi ke kelas, langkahku terhenti. Saat aku mengangkat kepala, kak naufal


sudah kembali ke hadapanku. Aku mencoba melanjutkan lagi langkah kaki, dan ia


memegang tanganku. Segera aku tarik genggaman tangannya. Mundur beberapa


langkah agar tidak terlalu dekat dengannya.


“gue bisa jelasin, Qay!” ucapnya maju selangkah lebih dekat


denganku.


“ngga perlu kak, itu masalah kalian! Lagi pula sudah masuk


jam belajar!”


“sebentar Qay! 10 menit!” pintanya.


“gue suka dan sayang lo, Qay!”


Aku terdiam. Menatapnya dengan tajam dan sinis. Bagaimana bisa


seorang yang sudah menghamili seorang cewek menyatakan cinta ke cewek lain? Mungkin


akal sehatnya ikut keluar bersama sperma yang ia sebar ke berbagai cewek bodoh


yang memujanya.


“terus, kakak mau apa?” tanyaku kesal menahan emosi.


“gue ngga sengaja Qay, cewek itu.....!”


“CEWEK ITU KENAPA? BEGO? CEWEK BEGO YANG SERING KAKAK


SEBUT-SEBUT! CEWEK YANG TANPA PAKSAAN MAU MENYERAHKAN APAPUN KE KAKAK!”


“QAY!”


“KAKAK MAU BILANG, ITU BUKAN TANGGUNGJAWAB KAKAK?” tanpa


sadar aku berteriak.


Kak naufal terdiam, matanya memerah. Ia hanya berdiri


melihatku yang ada di seberangnya.


“kakak, sudah menebar benih! Maka ketika benih itu tumbuh


maka kakak harus bertanggung jawab untuk menjaga dan mengurusinya!” suaraku


mulai pelan.


“inilah yang kakak tanam, maka nikmati, dan petik hasilnya!”


“waktu itu gue mabuk Qay, gue patah hati lihat lo dengan


cowok lain!”


“gue mau sama lo Qay, gue harus sama lo!”


“GILA!” Ucapku sambil berjalan meninggalkan kak naufal. Ia tak


lagi menghalangiku. Aku membiarkannya sendiri, agar dia berpikir bahwa dia


sudah salah dan harus menanggung risiko atas perbuatannya.


Ah.....dunia semakin gila. Allah lindungilah aku!