
Heh... Heh... Heh....
Aku mengatur napas yang kelelahan
diajak berlari. Di ujung koridor lantai
2, afzal menunggu dengan senyumannya.
"gila" teriakku dalam
hati. Kenapa harus lari sih? Kenapa juga
aku malah menemui dia? Saat napas sudah mulai teratur dan kaki akan
melangkah. Terdengar bunyi bel yang
sember, pertanda jam istirahat telah
berakhir. Afzal mulai berjalan
menghampiriku. Begitu pun aku, tak
membuang waktu untuk segera mendekat kepadanya.
"ada apa Qay? biasanya kabur kalau ketemu, kok sekarang malah sampai lari buat ketemu!
" tanya afzal dengan nada yang terdengar penasaran.
"gue cuma bilang satu
kali, lo harus dengar baik-baik!"
"mau ngga lo jadi pacar
gue"
What? Apa? Naon? Kenapa mulutku malah bicara begitu. Kok nembak afzal begitu aja. Bagaimana kalau
ditolak? Mau aku taruh mana muka ini!
"Qay? Kamu... " jawab afzal masih bingung.
"cepat, iya atau ngga? Nanti guru datang loh, istirahat sudah selesai nih! " kataku lagi, dan lagi-lagi kata yang dipikirkan dengan yang diucapkan berbeda.
Seorang guru melewati kami dengan
tatapan aneh. Kemudian mengisyaratkan
bahwa kami harus masuk kelas masing-masing hanya dengan jari telunjuknya.
"oke, Qay. Aku terima. Kita pacaran ya!
" jawab afzal kemudian berlari menuju kelasnya dan meninggalkan aku sendiri yang masih terdiam, kaget mendengar ucapan afzal.
Aku terus terdiam, bagaimana bisa dia bilang begitu? Ya Tuhan, kenapa harus afzal? Kegilaan macam apa ini? Ah, sudah jadi bubur tuh
nasi, lanjutkan saja rencana ini. Toh, sekarang aku punya pacar di sisa waktu
putih biru. Meskipun cowok aneh, rese bin ajaib itu yang jadi pacarku. Kulanjutkan
dengan melangkah menuruni anak tangga dan menuju ke kelas.
Sesampainya di kelas, aku
langsung duduk di samping Ranum. Guru matematika kami, Bu Dian, sepertinya
datang terlambat.
“Dari mana sih, Qay? Tadi di
kantin ngga kelihatan!” tanya ranum sambil terus memakan camilannya.
Aku hanya menjawab dengan
menggelengkan kepala.
Sepertinya aku lebih memilih
merahasiakan kelakuanku tadi. Biar ini menjadi cerita rahasia di masa akhir
putih biruku. Malu, kalau Ranum dan yang lainnya harus tahu. Lagi pula, ini
bukan perasaan yang sebenarnya. Hanya keisengan yang produktif saja.
“Woi, ada kabar gembira!” teriak
Dewa. “Bu Dian ngga masuk, kita disuruh belajar buat persiapan UN aja!”
Setelah menyampaikan pengumuman,
dewa berjalan ke arahku. Duduk di sampingku. Setelah mendengar Bu Dian tidak
masuk kelas, Ranum langsung meninggalkan bangkunya dan bergeser ke tempat Stela
dan Irma. Mereka asyik mengobrol tentang Boy Band Korea yang mereka sukai.
“Qay....setelah aku pikir ulang,
em... kayaknya kita bisa jadian!” ucap Dewa denga nada suara yang begitu
percaya diri.
Glek.
Tenggorokkanku terasa kering. Aku
langsung menunduk. Harus jawab apa ini? Ucapku dalam hati.
“Begini Wa, jadi ceritanya. Waktu...tadi
kita berpisah di koridor. Tiba-tiba ada cowok yang datang ke aku, terus
bilang...”
“Bilang apa, Qay?”
“Dia minta aku buat jadi pacarnya
dan aku langsung terima!”
Deg. Hening!
“kok bisa langsung diterima, kan
tadi kamu nembak aku!”
“ya, aku ngga tega aja wa, lagi
pula kan kamu tolak aku tadi! Maaf ya!” ucapku kemudian memegang tangan Dewa.
Tidak diduga, dewa malah membalas
memegang tangan disertai dengan tatapan mata yang sering membuat aku merasa
jijik. Pelan-pelan aku melepaskan pegangan tangannya. Dewa kembali menarik
tanganku dengan paksa.
“Ya sudah, ngga apa-apa, nanti
kalau kamu putus dari cowok itu, kasih kabar aja. Aku bisa kok pacaran sama
kamu!”
What? Sakit kayaknya nih orang. Dia
pikir aku cewek macam apa? Dasar cowok sakit. Ketahuan banget Cuma mau
memanfaatkan aku saja. Aku terus menggerutu dalam hati. Tidak mau mengeluarkan
secara langsung kepada cowok maniak di depanku ini. Hmm....rasanya mau aku
pukul kepalanya itu.
“oke!” jawabku singkat sambil
menarik tangan dan menggeser bangku menjauh darinya.
Mendengar jawabanku, Dewa hanya
senyum-senyum centil. Kemudian dia berjalan bergabung dengan teman-teman yang
lain. Aku menarik napas lega, hampir saja masuk ke kandang singa. Bagaimana kalau
tadi ceritanya kami sampai jadian? Tidak sampai seminggu, habis sudah aku
dimangsanya.
Tet....tet....tet.....
Bel pulang sekolah berbunyi. Kami
semua segera berhamburan keluar kelas. Ini adalah hari terakhir kami sebelum
ujian. Rasanya tiga tahun memakai seragam putih biru cepat sekali berlalu. Afzal
duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan kelasku. Sepertinya dia sengaja
duduk di bangku itu untuk menungguku. Setelah beralasan pada Ranum bahwa aku
“hai mama!” ucapnya sambil
tersenyum.
“lo mau apa sih di sini?” tanyaku
tidak suka.
“menunggu pacar!” jawabnya masih
dengan tersenyum.
Aku langsung menengok kiri dan
kanan, takut ada yang mendengar.
“sssttt! Bisa diam ngga sih, Zal!
Kalau ada yang dengar bagaimana?” kataku sambil mengarahkan jari telunjuk ke
bibir sebagai isyarat agar Afzal tidak bicara lagi.
“loh, kenapa yang lain ngga boleh
tahu? Biar dong mereka tahu, kalau sekarang kita sudah beneran jadi mama papa!”
Haduh, lepas dari Dewa, ternyata
sama Afzal ngga jauh beda. Ini tuh ngga sungguhan afzal, Cuma iseng.
Sayangnya, kata-kata itu hanya
terucap dalam hati.
“besok kita kan ujian. Jadi biar
kita ujian dulu, baru deh berita ini boleh tersebar!” ucapku hati-hati,
berharap Afzal menerima alasanku.
“Mama memang the best,
mementingkan masa depan kita!” ucapnya sambil cengengesan.
Ya Tuhan, cowok macam apa lagi
ini? Ah, sudahlah yang penting sekarang aman, setelah ujian urusan belakangan.
“sekarang papa antar mama pulang
ya!”
Jeggger......
Terasa disambar petir di siang
bolong.
“bisa ngga sih, lo ngga panggil
mama? Kayak agak aneh ya didengarnya?” ucapku mengalihkan permintaan yang
sebelumnya.
Afzal berdiri, kemudian membungkuk,
mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badanku yang hanya sedada-nya. Kemudian meniup
wajahku seperti yang sering dia lakukan. Huh.....
Deg....
Jantungku kok deg-degan, wajah
afzal sepertinya terlalu dekat. Dengan sigap aku mendorong bahunya agar menjauh
dariku.
“kalau kamu, bisa ngga bicaranya,
ngga pakai lo dan gue? Kan, sekarang kita pacaran!” afzal berbalik bertanya
padaku.
“panggil aku kakak dan aku
panggil kamu, Ade!”
“Ade kakak dari mana? Kita kan
seangkatan?” jawabku dengan ketus.
“kamu lahir bulan agustus dan aku
lahir bulan februari, jadi aku kakak dan kamu ade!”
“ya, sudah terserah lo!”
tiba-tiba telunjuk afzal menempel di bibirku, memberi tanda bahwa aku tak boleh
bicara lagi.
“KAKAK bukan LO” ucapnya tegas
“Iya, KAKAK! Puas?” ucapku,
kemudian berjalan meninggalkannya. Dia berjalan mengikutiku. Tidak berusaha
menyamakan posisi denganku. Setelah beberapa meter berjalan keluar dari gerbang
sekolah aku berhenti dan membalikkan tubuh, sehingga kami saling berhadapan.
“CUKUP SAMPAI SINI AJA!” pintaku.
“ Rumah ade di depan gerbang
sekolah? Baru tahu!” ucapnya sambil terkekeh.
“NGGA LUCU!” jawabku setengah
kesal melihat ekspresi wajahnya yang entah mengapa jadi terlihat tampan di mataku.
“kamu bukan tukang ojeg yang
harus antar aku pulang. Lagi pula ayah dan bunda belum mengizinkan aku untuk
punya pacar!”
“bukannya, antar dan jemput pacar
itu wajar ya? Teman-teman kita banyak kok yang begitu!” ucap afzal dengan
ekspresi serius.
“oh, jadi menurut kamu, kalau
sudah berstatus pacar, terus berubah gitu jadi tukang ojeg juga? Kalau cewek
lain begitu. Aku beda. Jadi, kalau mau status ini berlanjut, kamu menurut
dengan permintaan aku!"
“Ya ampun, kenapa sih ngga dari
dulu kita jadian? ADE KEREN DEH!” ucap Afzal sambil mencubit pipiku.
“LEPAS NGGA?” ucapku kesal dengan
cubitan pipinya
“minta dengan baik-baik!” ucap
Afzal.
“Afzal tolong lepas ya!” pintaku
dengan suara sok lembut.
“Panggil KAKAK!”
“KAKAK LEPAS YA, KALAU ORANG
LIHAT BAGAIMANA?” pintaku lagi sambil menggigit gigi menahan kesal.
Afzal melepasnya, tersenyum
dengan sangat manis. Tapa kata-kata aku berjalan meninggalkannya. Sambil menunduk
tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Marasa hari ini begitu seru. Hahaha, hari
ini aku punya pacar. Walau sekadar iseng dapatnya si mantan ketua OSIS.
Tanpa disadari keduanya, ada sepasang
mata yang menatap kejadian mereka sejak keluar gerbang dengan kesal dari
belakang mobil yang terparkir.