Blind is Love

Blind is Love
Tahan Qay, Mohon Bersabar ini Ujian!



Aroma parfum afzal aku suka, tidak terlalu menyengat dan


membuat nyaman hidung. Aku pikir karena seragam sekolah pelayarannya makanya


dia tambah ganteng. Tapi hari ini bertemu dengan dia memakai baju biasa, tetap


saja terlihat ganteng. Kaos putih polos, celana berbahan jeans berwarna hitam,


jaket hitam dan topi hitam, semuanya sangat cocok di tubuhnya.


Punggung afzal sangat lebar, pasti nyaman bersandar di sana.


Aku berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak memeluknya selama kami di


motor. Kalau boleh jujur sih aku ingin sekali memeluknya. Memperlihatkan pada


orang-orang kalau cowok ganteng ini pacarku. Tapi, aku tidak mau orang-orang


menganggap negatif perempuan berhijab. Aku harus menjaga hijab ini.


Tanganku hanya berani berpegangan pada bahunya yang lebar,


begini saja sudah membuat jantungku seakan mau loncat keluar melompati


tulang-tulang rusuk. Laki-laki ini membuatku semakin tidak berdaya untuk


menyukainya. Dia suka sekali memberi kejutan. Seperti hari ini, lagi-lagi dia


datang tanpa memberi kabar.


Hari ini kebahagiaanku seakan lengkap. Menjuarai pertandingan


dan bisa bertemu lagi dengan afzal. Aku menurut saja, tak banyak bertanya ke


mana roda motor ini melaju mambawaku.


Motor afzal berhenti di depan sebuah rumah yang nampak


seperti kos-kosan. Dia membantuku turun dari motor yang tinggi ini. Tak sengaja


pundak kami saling beradu. Ser.... hanya aliran darah yang mengalir cepat yang


bisa aku rasakan. Tahan Qay, malu sama hijab, jerit suara hatiku.


Tanpa minta izin afzal menggandeng tanganku, aku jadi


semakin salah tingkah. Kami melewati gerbang dan masuk ke bagian rumah yang ada


gang kecilnya.


Deg....


Bau rokok mulai kucium, udaranya juga sedikit lembab karena


terlalu tertutup. Kami terus berjalan melewati beberapa pintu kamar yang mirip


kosan.


Krekkk.....


Tanpa aba-aba afzal langsung membuka pintu yang letaknya


paling pojok. Mataku langsung melotot setelah pintu itu terbuka. Bagaimana tidak?


Kehadiranku disambut dengan pemandangan sepasang laki-laki dan perempuan


setengah telanjang bagian atas sedang saling memautkan bibir mereka satu sama


lain. Si tangan lelaki pun sedang asyik memainkan bagian dada si perempuan. Aku


“sialan lo dha! Informasi dulu kek kalau mau bawa cewek! Gue


tunggu lo di depan” teriak afzal sambil menarik tanganku dari sana, kami


berjalan kembali menyusuri gang sempit tadi tanpa berkata-kata.


Sesampainya kami di sebuah teras yang di lengkapi beberapa


bangku plastik, afzal mempersilahkanku untuk duduk. Dia masih terdiam, dan aku


pun terdiam.


“jangan pikir aku sama kayak yang tadi!aku ngga pernah


aneh-aneh sama cewek lain!” ucap afzal memulai pembicaraan.


“kita ke sini ngapain sih? Aneh tau!” jawabku masih dengan


kondisi jantung yang berdetak kencang.


Susah payah aku menahan diri agar tidak melakukan hal-hal


yang aneh dengan afzal, melihat hal tadi justru membuat aku semakin gelisah.


“namanya Yudha, sahabat aku! Dia mau kenal kamu. Ini tempat


nongkrong kami kalau lagi libur! Ngga ada maksud aneh kok, de! Cuma kebetulan......”


“kebetulan kalian melihat gue lagi atraksi!” ucap orang yang


bernama yudha memotong kata-kata afzal.


“maaf ya Qay, afzal ngga bilang mau ajak lo ke sini! Kalau tau


afzal mau ajak lo, gue ngga mungkin bawa cewek ke sini!”


“iya, ngga apa-apa! Terus pacar kamu mana ?” tanyaku


berusaha mencairkan suasana.


“pacar? Oh cewek tadi, dia Cuma teman! Masih di dalam lagi


bersih-bersih!”


What? Teman? Pertemanan macam apa sampai bisa ciuman dan


petting begitu? Aduh, lingkungan macam apa sih ini! Masa iya afzal ngga


ikut-kutan! teriakku dalam hati.


“lo mau nginep di sini zal sama Qay?” tanya yudha


“ngga, ngga kok! Aku mau pulang!” jawabku agak takut.


“iya dha, gue titip motornya si Davin ya, tadi gue pinjam


buat jemput Qay. Sekarang gue mau antar Qay.”


“oke!”


Aku tak begitu peduli dengan yudha, aku ingin segera keluar


dari tempat ini. Awas ya afzal, kita harus bahas masalah ini! Kamu harus jujur,


kehidupan macam apa yang kamu jalani di sini?