
Aroma parfum afzal aku suka, tidak terlalu menyengat dan
membuat nyaman hidung. Aku pikir karena seragam sekolah pelayarannya makanya
dia tambah ganteng. Tapi hari ini bertemu dengan dia memakai baju biasa, tetap
saja terlihat ganteng. Kaos putih polos, celana berbahan jeans berwarna hitam,
jaket hitam dan topi hitam, semuanya sangat cocok di tubuhnya.
Punggung afzal sangat lebar, pasti nyaman bersandar di sana.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak memeluknya selama kami di
motor. Kalau boleh jujur sih aku ingin sekali memeluknya. Memperlihatkan pada
orang-orang kalau cowok ganteng ini pacarku. Tapi, aku tidak mau orang-orang
menganggap negatif perempuan berhijab. Aku harus menjaga hijab ini.
Tanganku hanya berani berpegangan pada bahunya yang lebar,
begini saja sudah membuat jantungku seakan mau loncat keluar melompati
tulang-tulang rusuk. Laki-laki ini membuatku semakin tidak berdaya untuk
menyukainya. Dia suka sekali memberi kejutan. Seperti hari ini, lagi-lagi dia
datang tanpa memberi kabar.
Hari ini kebahagiaanku seakan lengkap. Menjuarai pertandingan
dan bisa bertemu lagi dengan afzal. Aku menurut saja, tak banyak bertanya ke
mana roda motor ini melaju mambawaku.
Motor afzal berhenti di depan sebuah rumah yang nampak
seperti kos-kosan. Dia membantuku turun dari motor yang tinggi ini. Tak sengaja
pundak kami saling beradu. Ser.... hanya aliran darah yang mengalir cepat yang
bisa aku rasakan. Tahan Qay, malu sama hijab, jerit suara hatiku.
Tanpa minta izin afzal menggandeng tanganku, aku jadi
semakin salah tingkah. Kami melewati gerbang dan masuk ke bagian rumah yang ada
gang kecilnya.
Deg....
Bau rokok mulai kucium, udaranya juga sedikit lembab karena
terlalu tertutup. Kami terus berjalan melewati beberapa pintu kamar yang mirip
kosan.
Krekkk.....
Tanpa aba-aba afzal langsung membuka pintu yang letaknya
paling pojok. Mataku langsung melotot setelah pintu itu terbuka. Bagaimana tidak?
Kehadiranku disambut dengan pemandangan sepasang laki-laki dan perempuan
setengah telanjang bagian atas sedang saling memautkan bibir mereka satu sama
lain. Si tangan lelaki pun sedang asyik memainkan bagian dada si perempuan. Aku
“sialan lo dha! Informasi dulu kek kalau mau bawa cewek! Gue
tunggu lo di depan” teriak afzal sambil menarik tanganku dari sana, kami
berjalan kembali menyusuri gang sempit tadi tanpa berkata-kata.
Sesampainya kami di sebuah teras yang di lengkapi beberapa
bangku plastik, afzal mempersilahkanku untuk duduk. Dia masih terdiam, dan aku
pun terdiam.
“jangan pikir aku sama kayak yang tadi!aku ngga pernah
aneh-aneh sama cewek lain!” ucap afzal memulai pembicaraan.
“kita ke sini ngapain sih? Aneh tau!” jawabku masih dengan
kondisi jantung yang berdetak kencang.
Susah payah aku menahan diri agar tidak melakukan hal-hal
yang aneh dengan afzal, melihat hal tadi justru membuat aku semakin gelisah.
“namanya Yudha, sahabat aku! Dia mau kenal kamu. Ini tempat
nongkrong kami kalau lagi libur! Ngga ada maksud aneh kok, de! Cuma kebetulan......”
“kebetulan kalian melihat gue lagi atraksi!” ucap orang yang
bernama yudha memotong kata-kata afzal.
“maaf ya Qay, afzal ngga bilang mau ajak lo ke sini! Kalau tau
afzal mau ajak lo, gue ngga mungkin bawa cewek ke sini!”
“iya, ngga apa-apa! Terus pacar kamu mana ?” tanyaku
berusaha mencairkan suasana.
“pacar? Oh cewek tadi, dia Cuma teman! Masih di dalam lagi
bersih-bersih!”
What? Teman? Pertemanan macam apa sampai bisa ciuman dan
petting begitu? Aduh, lingkungan macam apa sih ini! Masa iya afzal ngga
ikut-kutan! teriakku dalam hati.
“lo mau nginep di sini zal sama Qay?” tanya yudha
“ngga, ngga kok! Aku mau pulang!” jawabku agak takut.
“iya dha, gue titip motornya si Davin ya, tadi gue pinjam
buat jemput Qay. Sekarang gue mau antar Qay.”
“oke!”
Aku tak begitu peduli dengan yudha, aku ingin segera keluar
dari tempat ini. Awas ya afzal, kita harus bahas masalah ini! Kamu harus jujur,
kehidupan macam apa yang kamu jalani di sini?