Blind is Love

Blind is Love
Mantan Pacar alias Istri



“Bagaimana saksi, sah?” tanya pak penghulu.


“Sah!!!!”


Semua yang hadir berteriak. Yap, akhirnya aku dan Qay resmi menikah. Setelah ijab qabul ini dengan khidmat kami lalui. Sejak semalam rasa gugup tak jua pergi. Beberapa kali aku terbangun, setiap menatap jarum jam jantungku berdesir tak karuan.


Sejak kedatanganku beberapa jam lalu, wajah bunda terlihat sendu. Sebagai orang tua tunggal tentu berat menjalani ini. Menikahkan anak perempuan satu-satunya di usia yang masih sangat muda. Ada bekas aliran air mata di wajah tua bunda, ia memberikanku senyuman saat kami bertemu pandang.


Bunda jangan khawatir. Sejak hari ini, aku yang akan menjaga Qay dan Bunda. Kalian adalah dua orang perempuan penting yang ada di dalam hidupku. Akun memang belum sempurna. Tetapi aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian.


Pandanganku teralihkan saat seseorang bergaun pengantin berwarna merah marun keluar dari kamar. Qay tampak cantik dengan baju pengantin khas bollywood. Rambutnya tertutupi kerudung merah yang juga senada dengan warna bajunya. Ada beberapa hiasan di atas kepala berwarna silver, tangannya dihiasi dengan hena berwarna putih. Semakin dekat Qay berjalan, aku dapat melihat betapa wajahnya terlihat cantik dengan riasan. Aku tidak melihat wajahnya secantik ini, karena dia tipe perempuan yang tidak suka bermake up tebal.


“Mas Afzal, betul ini istrinya!” suara pak penghulu menyadarkanku yang sejak tadi terdiam memandangi perempuan cantik bergaun india di depanku.


Aku pura-pura mendekatkan wajahku ke wajah Qay yang sejak datang hanya menunduk. Kepala aku gelengkan ke kiri dan kanan seolah-olah memperhatikan dengan serius. Mata Qay melirik ke arahku, aku tersenyum, dan Qay memasang wajah cemberutnya. Hal itu justru membuatku semakin merasa gemas. Uh... istri siapa sih yang menggemaskan ini???


“Mas Afzal!” tegur pang penghulu yang membuatku menghentikan keusilanku pada Qay.


“Eh, iya pak! Ini istri saya!”


“waduh, cekatan amat langsung dibilang istri!”


Semua yang hadir tertawa lepas mendengar ucapan pak penghulu, membuatku jadi malu dan salah tingkah.


“untuk kedua pengantin silakan berdiri dan suami menyerahkan mas kawinnya kepada istri. Setelah itu, boleh cium tangan dan cium yang lain!” ucap pak penghulu meleddek kami.


Aku dan Qay saling menatap untuk pertama kalinya setelah resmi menikah. Dengan lembut kami saling memakaikan cincin pernikahan. Qay mencium tanganku perlahan. Kini giliran aku yang akan menciumnya. Tiba-tiba saja suasana jadi canggung. Semua mata menatap kami, rasa malu menjalar disekujur tubuh.


“Lah, ayo mas afzal! Kok malah diam. Sedang pilih bagian mana yang mau dicium ya!”


Lagi-lagi celetukkan pak penghulu membuat tamu dan keluarga yang hadir tertawa.


“Bismillahirohmanirrohim!” ucapku sambil memegang kepala Qay. Kakiku melangkah lebih dekat ke arah Qay.


Cup.


Aku mencium kening Qay perlahan dan lama.


Terdengar suara tepuk tangan dari para undangan.


Kami masih saling menatap dan memberi senyuman. Tangan mungil Qay masih kugenggam. Tangan yang tak akan pernah kulepaskan sampai maut memisahkan kami.


“Terima kasih, suamiku!”


Setengah berbisik kalimat itu keluar dari bibir Qay. Wajahnya terlihat semakin cantik. Kini kupindahkan tangan merangkulnya. Ya, sekarang kamu milikku. Kita bebas melakukan apapun bersama, karena hubungan ini telah halal di hadapan Allah.


Satu persatu orang kami datangi. Dimulai dari bunda yang sejak awal menahan air mata akhirnya pecah tangisnya, saat kami berpelukan.


“Tolong jaga Qay ya, Cuma dia yang bunda miliki saat ini!” ucap bunda dengan suara terbata-bata karena menangis.


“Bunda ngga usah khawatir, aku janji bunda dan qay akan aku jaga selamanya!”


Aku peluk bunda. Meyakinkan bahwa aku sungguh-sungguh menyayangi mereka.


“Kamu sekarang bukan anak-anak lagi. Berani menikahi anak perempuan orang, tandanya kamu siap berjuang dan berusaha. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Jangan sia-siakan kepercayaan orang tuanya yang sudah menyerahkan anak yang mereka cintai untuk dimiliki orang lain.”


Papa menyampaikan nasihat dengan serius. Tidak Seperti biasanya. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Papa pun memelukku erat. Huh.... mulai hari ini aku akan mulai bisa merasakan tanggungjawabmu Selama ini!


Semua tamu kami hampiri satu persatu, banyak doa yang kami dapat dari sanak saudara yang datang. Status kami yang masih pelajar membuat kami tidak ingin acara ini dirayakan dengan mewah. Cukup ijab qabul saja.


***


Allah maha baik, semua berjalan sesuai rencana. Kini ibadahku akan disempurnakan dalam rumah tangga ini. Huft... ayo Qay, berusaha untuk jadi istri sholeha. Agar papa semakin bahagia di surga.


Setelah merasa rambut tidak terlalu basah, aku melangkah keluar kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di tubuh dan rambut, aku mulai melangkah keluar. Namun, Afzal yang duduk di atas kasur dan bersandar ke dinding membuatku kaget dan hampir melompat.


“ Kamu ngapain di sini?” teriakku sambil berlari ke arah lemari untuk mencari sesuatu untuk menutupi tubuh yang hanya berbalut handuk.


Afzal beranjak dari posisinya dan mendekat ke arahku, membuatku semakin panik. Kutarik sehelai kain panjang dan segera kupakai seperti jubah yang menutupi tubuh. Posisiku yang berdiri di depan lemari tak dapat bergerak karena Afzal sudah berada tepat di depanku. Tangannya dengan sengaja ditempelkan ke lemari, membatasi ruang gerakku.


Aku berusaha mendorongnya, tapi tentu tak maksimal karena tanganku yang satunya memegangi kain agar tetap menutupi tubuhku bagian atas.


“Zal, jangan begini ah, aku ngga bisa gerak!” ucapku sambil masih terus mencoba mendorong tubuhnya.


“mantan pacar! Sudah lupa kejadian tadi siang ya?” tanya afzal sambil senyum-senyum melihatku yang panik.


“mantan?”


“iya mantan, kan sekarang ngga pacar lagi tapi istri!” ucap Afzal sambil terus mendekatkan wajahnya padaku.


“Ya bicara aja, tapi posisi ngga harus begini kan?” pintaku pada afzal.


“lagi pula kenapa kamu masuk ngga kasih tahu dulu!”


“sejak kita nikah ini kan kamar aku juga. Kalau ngga di kamar ini, aku istirahat di mana dong?”


“ya, aku kan.....!”


Kalimatku terhenti. Jari telunjuk Afzal dengan sengaja menyentuh bibirku. Aku semakin panik karena canggung. Mata kami beradu. Senyuman yang terkembang di wajah afzal membuatku semakin tak berdaya untuk menolak.


“Rambut kamu bagus dan panjang!” ucap afzal sambil memindahkan jarinya ke rambutku.


“wajah kamu tanpa make up terlihat lebih muda!” lanjut Afzal, kali ini telunjuknya menjalar ke pipiku.


Aku semakin mengejang, terdiam, dan membatu.


Napasnya terasa hangat di kulitku.


Perlahan disingkirkan tanganku, agar afzal dapat memelukku dengan nyaman.


Deg.


Dada kami saling melekat.


Desir darah terasa mengalir lebih cepat. Aroma tubuh Afzal begitu menggodaku untuk membalas pelukkan itu.


Tanpa aba-aba, pipiku dikecup oleh bibir afzal.


Cup.


Pipi kiri.


Cup.


Pipi kanan.


Perlahan sehelai kain itu pun jatuh ke lantai.


Eitsss.... Tahan readers! Adegan selanjutnya mohon bersabar ya.....!


😂😂😂