
“Ka....kamu mau apa?” tanyaku saat kain yang kupakai seperti jubah itu telah terlepas.
“Aku....lagi datang bulan!” ucapku malu-malu.
Afzal menghentikan tangannya yang sejak tadi menjelajah setiap lekuk tubuhku. Ia mundur selangkah, namun tetap menatapku dengan matanya yang seperti ingin menyantapku.
“kok kamu semalam ngga bilang apa-apa!”
“ya, baru tadi pagi dapatnya. Saat aku selesai mandi!”
Afzal kembali mendekatkan tubuhnya. Kali ini kedua tanganku menahannya.
“mau ngapain?” tanyaku panik. “aku lagi datang bulan, loh!”
Cup.
Afzal mencium bibirku. Aku kembali membatu.
Ku biarkan ia menjelajahinya. Aku pun menikmatinya. Bukankah kami telah halal? Maka dia berhak atas diriku seutuhnya.
Kami saling berpautan. Tak ada suara. Hening. Namun aku refleks menepis tangan Afzal, saat dia akan akan melepaskan handukku. Aku mendorongnya kembali dan segera memegang erat handuk yang hampir terlepas.
“Qay!” ucapnya dengan suara yang cukup bernada tinggi.
“Afzal, aku sedang menstruasi!”
“Terus kenapa?” tanya afzal dengan ekspresi wajah yang terlihat tidak suka.
“kok kenapa? Ngga boleh!” jawabku sambil berpindah ke depan kasur.
“ya, aku juga paham Qay! Kamu nurut Saja susah banget sih! Bilang aja kalau ngga mau!”
“kok kamu jadi marah, aku bukannya ngga mau, tapi.....!”
“Alasan aja!” ucap afzal memotkng kalimatku. Setelah itu tanpa menoleh ia berjalan keluar kamar.
Aku tak sempat menahan atau memanggilnya. Kujatuhkan diri ke atas kasur. Tanganku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Aku mengingat kembali sikap dan kalimatku tadi. Mencari-cari apakah ada yang salah hingga afzal menjadi kesal.
Tok..tok...
“Qay, ini bunda!”
Panggilan bunda membuatku bergegas mengganti handuk dengan pakaian. Segera kubukakan pintu untuk bunda. Terlihat bunda membawakan aku segelas teh hangat. Sebuah senyum tersungging di wajah teduhnya. Senyum bunda selalu membuatku merasa tenang.
“masuk, bun!” ucapku mempersilakan bunda.
“baru selesai mandi, nak! Tadi bunda sudah berikan afzal segelas teh juga.”
“iya bun, terima kasih!”
“Afzal sedang ngobrol dengan om dan tante kamu di teras. Dia itu cepat banget ya akrab sama orang! Anaknya juga ramah dan penyayang. Qay dan afzal pasti punya rumah tangga yang bahagia!”
Kalimat bunda membuatku terdiam. Merasa semakin bersalah, tetapi tidak tahu melakukan kesalahan apa!
“Bun, bagaimana supaya aku bisa buat suami bahagia?”
Tanpa sadar pertanyaan itu keluar begitu saja. Bunda tersenyum. Kemudian membelai kepalaku.
“sebagai seorang istri. Kita harus menghilangkan ego. Terkadang semua harus dikalahkan untuk kepentingan keluarga. Kamu tetap harus tampil rapi dan cantik sesibuk apapun mengurus anak dan suami. Ya minimal wangi dan berbaju bagus saat di tempat tidur. Usahakan suami makan dari masakan yang kamu siapkan. Layani semua kebutuhannya baik lahir maupun batin.”
“bun, kalau istrinya sedang datang bulan. E....ehm....bagaimana melayani suaminya?” tanyaku malu-malu dan ragu-ragu.
Bunda tertawa pelan dan mencubit pipiku.
“beri pijitan saja! Afzal juga pasti lelah. Qay harus ingat, nurut sama suami, ya!” jawab bunda.
“Ya sudah istirahat! Jangan lupa diminum teh-nya!”
“iya bun, terima kasih.”
Setelah bunda keluar dari kamar, aku segera menyisir rambut dan memakai wewangian. Sesekali memperhatikan diri di cermin. Memastikan daster yang kupakai masih enak dilihat. Setelah menyeruput teh hangat bunda, aku mengambil sebuah buku dan duduk bersandar di tepi kasur.
Beberapa menit telah berlalu. Tetapi pintu kamar yang kupandang tak juga terbuka. Afzal masih berada di luar kamar. Terlalu agresif jika aku harus keluar dan memanggilnya masuk. Kuputuskan untuk menunggunya saja. Hingga tanpa sadar aku tertidur.
Tubuhku merasakan sentuhan. Aku kaget dan membuaka mata. Entah berapa menit aku tertidur. Rupanya afzal sedang membaringkan tubuhku yang tertidur bersandar ke dinding.
“kamu baru masuk? Jam berapa sekarang?” tanyaku.
“jam 1 pagi, sudah tidur lagi!” jawab afzal datar.
Ia berjalan menuju kamar mandi.
“jangan mandi!ngga baik sudah malam!” ucapku sebelum afzal masuk kamar mandi. Nsmun ia tak menjawab atau pun menoleh ke arahku.
Aku beranjak dari kasur dan berjalan menuju dapur. Kubuatkan afzal segelas susu hangat. Pintu kamar kubuka perlahan, takut om dan tante yang menginap dan tertidur di ruang tamu terbangun.
Glek.....
Tanpa sadar aku menelan air ludah sendiri. Di depanku afzal hanya memakai handuk untuk menutupi bagian pusar hingga lututnya. Dada dan punggungnya yang atletis membuatku tak berkedip. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya. Padahal tanpa sadar tubuhku gemetar karena gugup.
“dari mana?” tanya afzal memecahkan keheningan.
“ini buatin kamu susu! Biar tidurnya lebih nyenyak!” jawabku dengan wajah yang berusaha untuk tidak melihat ke arah afzal.
“aku disuruh minum susu itu biar ngga ganggu kamu!”
“maksudnya?” tanyaku bingung.
“iya, kamu suruh aku minum susu itu supaya ngga ganggu kamu kan?”
“kok ganggu sih! Aku ngga terganggu kok! Malah kalau kamu minta dipijit aku mau mijitin! Kamu pasti capekkan?” ucapku sambil berusaha menahan emosi karena merasa disudutkan.
Aku beranikan diri menoleh ke arah afzal. Ia sudah memakai kaos oblong dan celana di atas lutut. Afzal belum menjawab apakah dia bersedia untuk dipijit. Dia berjalan ke tepi kasur di seberangku dan duduk. Kemudian, ia meminum susu yang aku berikan langsung habis tanpa sisa.
“sini, aku pijit!” ucapku sambil bergeser mendekati afzal. Tanganku dipegangnya. Ia menarikku ke dalam dekapannya.
Aku tak berani berbicara, takut kalimat yang keluar hanya akan menimbulkan salah paham. Ku biarkan tubuh kami saling memberi kehangatan. Berada di dadanya dan mendengar detak jantungnya membuatku merasa nyaman.
“berapa lama biasanya kamu menstruasi?” tanya afzal masih dengan memelukku.
“seminggu paling lama.”
“oke, selama seminggu kita begini ya posisi tidurnya! Jangan melawan!”
Aku tak menjawab. Hanya menganggukan kepala.
Tak ada suara. Nampaknya afzal telah tertidur. Kueratkan pegangan tangan di pinggang afzal. Ehm... rasanya sangat nyaman.