
Kak naufal menepati janjinya, tiga hari setelah pertemuan kami di rumah sakit, ia datang ke rumah dan menyampaikan kepada bunda kalau orang tuanya akan datang di hari pernikahan mereka. Setelah surat-surat selesai diurus, dan membutuhkan waktu hampir tiga minggu lamanya, hari yang diharapkan itu pun tiba.
Untuk pertama kalinya orang tua kak naufal bertemu dengan kak ghisa. Ketakutanku dan bunda atas respon negatif mereka pun hilang saat melihat sikap hangat yang mereka tunjukkan pada kak ghisa. Senyuman terus menghiasi wajah kak ghisa, aku tak peduli jika ekspresi yang diperlihatkan kak naufal berbeda 180 derajat. Dia pantas merasakan kehidupan yang tidak bahagia, tidak sesuai dengan harapannya, karena dia pun telah menghancurkan harapan hidup orang lain.
"saya sudah dengar cerita dari naufal, terimakasih ibu sudah membantunya menjaga ghisa dan calon cucu kami. Ini semua adalah kesalahan kami, kami terlalu terlena dengan pekerjaan sehingga lupa mengajarkan moral kepada anak kami! Semoga dengan kejadian ini semua akan menjadi lebih baik! " ucap ayah naufal kepada bunda saat pernikahan telah dilaksanakan.
"saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa pak, saya memposisikan diri, jika hal ini menimpa anak kandung saya sendiri. Seburuk apapun ghisa, dia pasti tidak ingin ada cerita pahit seperti ini dalam hidupnya. Saya titip anak ini pak, kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi yang akan peduli! " ucap bunda sambil merangkul kak ghisa.
Aku meninggalkan mereka dan berjalan ke ruang tamu, rencananya akan duduk sebentar karena lelah menemani bunda melayani tamu yang datang. Tiba-tiba kak naufal mendekatiku.
"Qay, seandainya gue dengan ghisa.... "
"ngga ada seandainya! " ucapku memotong kata-kata kak naufal.
"cerita kita tidak akan pernah dimulai, jadi jangan berharap apapun! Lagian lo sudah tahu siapa laki-laki yang gue cintai!"
"Qay! "
Suaranya yang khas membuat aku langsung menengok ke arahnya.
Afzal berdiri di depan pintu rumah dengan napas yang tersengal-sengal.
"Qay! " ucapnya memanggil ulang namaku.
Aku berjalan menghampirinya, melewati kak naufal yang berdiri mematung di hadapanku.
"kamu kenapa begini sih? Abis dikejar Satpol PP! " ucapku meledeknya.
"siapa yang nikah? Kamu? Kan sudah aku bilang sabar! " ucapnya masih dengan napas yang belum teratur.
Aku hanya tertawa terbahak-bahak. Ya ampun, jadi ini yang membuat Afzal sampai sulit bernapas.
"kok ketawa, ngga lucu, Qay! "
"itu kenapa si senior kamu di sini? " tanya afzal setelah menyadari bahwa sejak tadi kak naufal menatap kami dan belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"kamu pilih dia, Qay! Kamu nikah sama dia! "
Afzal terus bertanya tanpa henti dan aku malah semakin tertawa.
"QAY?!" teriak afzal, yang membuatku sadar bahwa ekspresi wajahnya telah berubah.
"iya hari ini kak naufal menikah, tapi bukan aku pengantinya! "
"tapi kenapa di rumah kamu, ngga mungkin dia nikah sama bunda kan? "
Aku mencubit lengan afzal.
"ngaco kamu! "
"jelaskan dong qay! Jangan buat aku bingung! " ucap afzal tidak sabar.
"oke ayo kita keluar, banyak tamu, ngga enak! " ajakku padanya.
Kami berjalan keluar, di depan pagar kami berhenti.
"kamu kapan pulang, zal? " tanyaku padanya.
"jangan alihkan topik, sebenarnya apa yang terjadi! Jangan bohong, aku bisa nekat kalau kamu bohong! " ucap afzal sambil memegang erat bahuku.
"oke aku jelaskan, tapi ngga usah cari kesempatan untuk pegang-pegang aku! "
Afzal melepaskan cengkeramannya di bahuku.
"Qay, lain kali kamu harus lebih peka dengan sekitar. Jangan membuat sesuatu yang membuat orang lain jatuh cinta sama kamu! "
Kini giliran aku yang mengernyitkan dahi.
"sesuatu apa sih? Kayak syahrini aja! Aku tuh ngga berbuat apa-apa, si naufal aja ngga jelas, bilang kalau dia jatuh cinta sama aku! Sudah deh ngga usah bahas dia lagi!" ucapku kesal
"oke, aku mau bicara sama bunda soal kita! "
"besok aja ya, sekarangkan masih acara, lagipula aku mau ke tempat kos arien, menginap di sana! "
"loh, kok! Malah ke arien! "
"kak ghisa dan kak naufal baru menikah, ngga mungkin mereka langsung pergi dari sini. Supaya suasana aman mending aku yang pergi sementara waktu! " ucapku.
"ya sudah, ayo aku antar! " ucap afzal sambil memegang tanganku.
"ayo sih ayo, ngga usah modus deh! " balasku sambil menarik tangan dari genggaman afzal.
Melihatku, Afzal hanya tertawa.
Setelah berpamitan pada bunda dan mengambil tas, aku dan afzal melaju ke tempat kos arien. Jalanan malam ini tidak terlalu ramai, sehingga kami cepat sampai.
Saat aku turun dan melangkah masuk, afzal ikut di belakangku.
"eh, mau kemana? " tanyaku pada afzal.
"ya, antar kamulah! Masa aku kayak tukang ojek ngga boleh antar ke dalam!" jawab afzal dengan nada manja.
"arien ngga ada, aku cuma sendiri! "
"tuh, apalagi kamu sendiri, kalau terjadi apa-apa! " ucap afzal lagi.
"justru karena ada kamu bisa terjadi apa-apa! Sudah sampai sini saja. Nanti ketemunya lain hari. Lagian sudah malam, bekasi-jakarta lumayan loh! "
"Qay! "
"Apa? "
"malam ini aja nurut sama aku! " pinta afzal dengan nada suara semakin manja.
"mau pulang atau kita putus nih! " ancamku
"ah, kamu bicara begitu terus! Ngga boleh tau! "
"ya sudah, sana pulang! " ucapku, kemudian membalikkan badan mencoba melangkah masuk ke dalam tempat kos.
"oke aku pulang! Tapi cium kek, atau peluk gitu! "
Aku berbalik arah lagi ke afzal dan melototi nya. Jika aku boleh jujur, sebenarnya aku ingin sekali berlari dan memeluknya, tapi sekuat tenaga aku menahan diri.
"Qay, pelit! Awas aja kalau nanti kita nikah! "
"awas apa? " tanyaku pura-pura marah.
"ya, suka-suka aku dong, kan sudah sah! " jawab afzal, sambil berjalan ke arah motornya.
"masuk sana! " pinta afzal. "jangan lupa dikunci pintunya! "
"iya, kamu juga hati-hati! " ucapku sambil melambaikan tangan.
Sabar Qay, setelah menikah, kamu bebas memeluknya. Sekarang tahan dulu, biar disayang Allah.