
Tubuh kecilku ikut berdesak-desakan di depan papan pengumuman. Seraya mengangkat setinggi mungkin kesepuluh jari kaki yang tak membuat mata bisa melihat tulisan-tulisan di papan itu. Brakk! Aku terjatuh tanpa aba-aba, kedua tangan menahan tubuh agar kepala tak menyentuh tanah. Sakitnya bokong terbentur tanah berkerikil tak kuhiraukan, berusaha bangkit dan mengeyahkan rasa malu.
Seseorang mengulurkan tangan, celana birunya yang hanya selutut disertai kaki yang penuh bulu menahanku untuk meraih tangannya.
"jadi cewek jangan mesum ya? " ucap si cowok, sambil menyodorkan wajahnya lebih dekat dengan wajahku.
Setengah badannya hampir membungkuk 180 derajat menyesuaikan di ngan posisiku yang jatuh terduduk di tanah.
"mau dibantu, ngga? " ucapnya lagi sambil meniup mataku.
Hal itu menyadarkan aku yang hanya terdiam.
" ngga usah masih bisa! " jawbku ketus seraya mendorong wajahnya agar menjauh dariku.
Aku berdiri dengan sigap dan melarikan diri. Aku harus masuk kelas mana, tak kupedulikan, wajahku sudah memerah karena malu. Hari pertama masuk sekolah di kelas ix sudah menciptakan insiden yang memalukan.
***
"Hai, Qay! Kita sekelas lagi! " teriakan ranum begitu keras, mengalahkan pengeras suara sekolah yang agak "sember" kalau menyampaikan bel dan pengumuman.
Ranum merangkul dan mengajakku mengikuti langkahnya, kami menuju kelas di depan taman sekolah yang cukup rindang. Ternyata di tahun ketiga pun, aku dan ranum tak terpisahkan.
brak!! Untukkedua kalinya Di hari yang sama aku terjatuh lagi, tapi kali ini tak sampai mendarat di tanah. Sepasang tangan mendekapku, hingga aku berada dalam posisi dipeluknya. Wajahku refleks mendongak, melihat siapa yang telah menyelamatkanku dari rasa malu. Aku kenal wajah yang tersenyum ini, dia laki-laki tadi, yang menyebutku "cewek mesum".
"hai....! " sapanya sambil tersenyum jahil kepadaku.
Aku refleks berdiri, mengubah posisi yang kurang pas dipandang mata.
"maaf, maaf ya, maaf banget!! " ucapku sambil berusaha kabur dari hadapannya.
"ya Tuhan, apa maunya? Mengapa harus malu berkali-kali hari ini? Siapa dia? Mau apa menyentuh tanganku?" Gumamku dalam hati.
perlahan kuputar tubuhku ke arahnya, sambil berusaha melepas genggamannya. pelan, kuarahkan mata ke wajahnya, dengan menahan suara detak jantung yang begitu keras agar tak terdengar olehnya.
"bisa minta dilepasin, ngga? " tanyaku
deg.... dia tidak menjawab, mata kami saling bertemu dan aku terdiam, tak dapat melanjutkan satu kata pun.
"kamu, cewek mesum tadi, ya? "
pertanyaannya menyadarkan lamunanku, mesum??? ada juga dia yang mesum, baru ketemu, main peluk, main pegang, dia kira aku boneka?
"mesum? " tanyaku sambil melebarkan pupil-pupil di mata coklatku. "kamu tuh, mesum, sembarangan peluk, sembarangan pegang!! "
ups, laki-laki di hadapanku ini langsung melepas genggamannya. tetapi kedua matanya yang cenderung sipit tak mengalihkan sedikitpun dari pandanganku. seperti harimau yang takut kehilangan kelinci, santapan lezatnya.
"wow, sudah dibantu malah marah!! "
"harusnya aku cuek aja tadi ya, biar kamu jatuh kayak di depan papan pengumuman tadi. "
"mesum, itu cocok buat kamu, kenapa? karena kamu tadi ngga berkedip melihat bulu kakiku tadi." kata-kata panjang itu terlontar begitu saja dengan lancar.
aku diam, bukannya takut, hanya malas berdebat, apalagi ini hari pertama masuk sekolah di kelas akhir seragam putih biru, harus diakhiri cerita indah, dan mengesankan.
tanpa menjawab pertanyaan, aku berjalan meninggalkannya, tak peduli dia terus memanggilku. ah... mudah-mudahan aku tak bertemu dengannya lagi