
Usia kandungan Qay sudah tiga bulan. Masa-masa sulit ujian akhir pun telah berlalu. Qay menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru dan aku menunggu panggilan untuk ujian kompetensi agar dapat izin berlayar. Tentu ini di luar rencana, keadaan Qay sekarang, aku tak bisa meninggalkannya untuk waktu yang lama. Bolak-balik Jakarta Bekasi cukup menguras emosi, ya maklum saja, kota ini sama-sama memiliki tingkat kemacetan yang tinggi.
Morning sicks, ternyata itu bukan mitos, aku saja yang tidak hamil kadang-kadang mengalami. Tiba- tiba mual tapi ngga bisa muntah. Wah, salut buat semua perempuan di dunia ini yang pernah merasakan hamil! Mereka benar-benar berjuang selama 9 bulan dengan segala macam keluhan dan sakit yang dirasakan.
Wajah Qay sejak hamil menjadi pucat, badannya pun tetap kecil. Aku suka tidak tega jika dia sedang mual parah, jadi susah makan, dan berakhir lemas. Waktu awal-awal hamil hobinya marah-marah, sampai membuat telingaku hampir pecah, huh, kalau ngga ingat si bayi rasanya ingin mulut mungilnya itu kusumpal dengan kaos kakinya Davin yang dicuci sebulan hanya satu kali. Sekarang, jangankan untuk marah, bicara saja butuh tenaga, hingga Qay lebih banyak diam.
Untung saja bunda selalu memberi nasihat dan arahan. Qay lebih memilih membaca Alquran atau buku untuk mengalihkan keluhan di kehamilan semester awal. Kalau sudah lelah, dia berbaring sambil mendengarkan murotal. Banyak hal yang berubah dari Qay, kadang manja, kadang juga cuek. Mungkin hal ini yang menyebabkan banyak laki-laki di luar sana suka jajan alis selingkuh kalau istri sedang hamil. Karena perempuan cenderung menyebalkan dan berbeda saat mengandung.
Tetapi, itu hanya untuk laki-laki lain. Sedangkan aku meresa perasaan cinta dan sayangku jadi berlipat ganda semenjak ada dede bayi. Membayangkan kehadiran seorang anak, buah cinta kami selama ini, membuatku semakin semangat dan bersyukur, sebab banyak orang yang berharap untuk menjadi orang tua.
“Qay sudah tidur lagi, Zal?” tanya bunda, setelah keluar dari kamarnya.
“eh, iya bun!” jawabku sedikit kaget.
“sejak hamil, Qay lebih banyak tidur ya? Kamu jadi sering sendirian deh!”
“ya, mungkin Qay lelah, bun! Si bayi ngajakin mamanya muntah-muntah terus!”
“bunda juga dulu begitu, apalagi waktu hamil kakaknya Qay!”
“bun, waktu bunda melahirkan Qay, apa yang bunda pikirkan?” tanyaku antusias.
“ melahirkan itu sakit, zal! Rasanya campur aduk. Ya takut, ya senang, khawatir, marah! Nano-nano deh!”
“kok marah bun?” tanyaku penasaran.
“iya marah! Bikinnya barengan, kok giliran melahirkan bunda sakitnya sendirian!”
Mendengar ucapan bunda, kami pun tertawa bersama. Ngga nyangka, bunda bisa juga bercanda. Jujur, semenjak qay hamil aku memang merasa kesepian, karena jarang bisa bercanda dengannya. Kadang aku yang seperti radio butut sekarang, mengoceh panjang kali lebar, tapi qay diam tak merespon.
“Qay itu, anak kebanggaan papanya! Dulu, bunda suka cemburu melihat kedekatan mereka. Merasa bahwa papanya Qay lebih mencintai qay dari pada bunda.”
“Qay seperti lentera di rumah ini, semua berubah saat ia hadir. Dunia kami menjadi lebih sempurna.”
“Qay tumbuh menjadi gadis yang sehat, kuat, pintar, dan mandiri!”
“kami kadang merasa, waktu berjalan begitu cepat, gadis kecil itu tumbuh dan memiliki dunianya sendiri.”
“bunda bersyukur, setelah papanya tidak ada, afzal yang membantu bunda menjaga, menyayangi, dan mencintai Qay sepenuh hati. Ketika kalian menikah, rasanya sebagian tanggungjawab telah diangkat sehingga bunda merasa jauh lebih ringan. Terima kasih ya, nak!” ucap bunda, kemudian menggenggam tanganku sebagai bentuk terima kasihnya. Aku pun membalas genggaman bunda.
Ceritanya hari ini, membuatku semakin bersyukur. Selain dipertemukan dengan perempuan tepat seperti qay, Allah juga mempercayakan buah hati hadir di keluarga kecil ini. Aku semakin bertekad untuk lebih keras berusaha, berjuang demi orang-orang yang kucintai.
“Zal, bukannya kamu sedang sibuk persiapan ujian ya? Jangan khawatir, biar bunda yang jaga Qay! Kamu juga harus fokus dengan pendidikan. Ini semua demi buah hati kalian!”
“ iya bun, untuk beberapa hari ini aku masih bisa kok lebih banyak waktu di rumah! Aku pasti lebih fokus kalau untuk pendidikan, don’t worry!”
“Alhamdulillah kalau begitu, bunda percaya kalian pasti mampu! Asal jangan lupa ibadah, sedekah, dan berdoa!”
“siap komandan!” jawabku semangat.
***
Cup.
Cup.
Cup.
Aku terbangun, setelah beberapa ciuman mendarat di leherku. Mata yang masih mengantuk dengan paksa kubuka. Samar-samar seorang perempuan berambut panjang sedang asyik menjelajahi dadaku dengan bibir dan lidahnya. Sontak saja, tubuhku yang sedang terlelap menjadi panas.
Qay, kenapa dia pakai lingerie? Mata kukucek-kucek untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan seingatku qay tidak berpakaian seperti ini semalam.
Ahhh...
Tunggu, jangan-jangan ini bukan Qay!
Jangan-jangan......
Kusadarkan diri dari kenikmatan, kudorong tubuh Qay menjauh dan kupaksakan tubuhku untuk bangun dan duduk. Sikapku ini tentu membuat Qay kaget. Itu terlihat dari kerutan di dahinya.
Kupandangi wajah qay di antara remang-remangnya lampu tidur, memastikan bahwa perempuan di hadapanku ini benar-benar adalah istriku.
“Kak!”
Suara panggilannya barulah meyakinkan bahwa perempuan ini benar-benar Qay.
“ngga mau, ya?” tanya Qay dengan suara berbisik.
Serrrrr.....
Jantungku dan aliran darah seolah teromban-ambing. Nyes, bergetar hingga ujung kaki.
Ditambah dengan gundukan padat di dadanya, leher yang terbuka. Glek. Bohong jika aku tak tergoda. Meski perut buncitnya mulai terlihat, justru membuatnya terlihat semakin seksi.
“kok tumben sih? Kenapa?” tanyaku lembut.
“mau ngga?” Qay balik bertanya.
“ya....ya...maulah, rezeki kok ditolak! Cuma, kakak tanya, kamu kenapa? Kok tiba-tiba begini? Apa dede bayi mendadak minta dikunjungi?”
Bukan jawaban yang kudapat, qay malah mencubit pinggangku cukup keras.
“Auwww....!”
“sakit Qay!”
Brukkk.....
Tiba-tiba Qay memelukku, dan tanpa berkomentar aku balas pelukannya dengan penuh kelembutan.
“tadi, aku mimpi! Mimpinya terasa nyata. Kakak pergi meninggalkan aku sambil memeluk perempuan yang cantik dan seksi. Aku menangis, menjerit, tapi kakak tetap pergi bahkan ngga menengok sama sekali!”
Aku melepaskan pelukan dengan lembut, lalu kutatap wajah Qay yang terlihat sedih.
“sekarang aku ada atau ngga ada?” tanyaku lembut, sambil kupegang kedua pipinya.
Qay hanya menjawab dengan anggukan.
“itu Cuma mimpi, dan aku pastikan itu ngga akan pernah terjadi!” ucapku meyakinkan.
“janji ya!” pinta Qay
“ iya sayangku!” ucapku lalu mengecup kening Qay.
“jadi gara-gara mimpi, kamu jadi pakai baju seksi begini, terus bangunin aku tengah malam?”
Lagi-lagi qay hanya mengangguk.
“tiap malam aja Allah kasih kamu mimpi buruk, biar tiap malam aku dipeluk!”
Brukkk.
Qay memukulku pelan, memasang wajah cemberutnya, lalu dengan malu-malu memelukku lagi.
Eitsss.... untuk kejadian selanjutnya disensor ya readers! 😂😂 Cuma untuk yang sudah menikah! Harap bersabar bagi yang jomblo, semoga kuat membaca cerita ini!!