
“De!” panggil afzal saat aku mengangkat panggilan telepon darinya.
“Apa sih, sok imut panggil ‘de’ segala!” jawabku sok judes.
“lagi apa kamu? Sudah luluran belum?”
“buat apa luluran? Sudah malam juga, yang ada aku masuk angin!”
“Besokkan kita jadi pengantin!”
Terdengar suara afzal yang terkekeh.
“bahagia banget ya, seorang afzal akan menikahi Qay!” ucapku dengan nada meledek.
“memangnya kamu ngga bahagia? Kan kamu yang ngajak nikah duluan!”
“Afzal, aku tutup ya teleponnya!” ancamku dan afzal malah semakin tertawa bahagia, itu dapat aku ketahui dari suara tawanya yang semakin keras.
Afzal sangat tahu bahwa aku tidak suka jika kami membahas masalah ini. Pernikahan ini memang terjadi karena aku tidak ingin berstatus pacaran dengannya, sehingga afzal memilih untuk menikah dari pada harus mengakhiri hubungan kami.
“Qay jawab serius ya! Sekarang apa yang sedang kamu rasakan? Besok kita akan menikah dan memulai fase kehidupan yang baru.”
Aku terdiam, sejak kemarin rumahku memang sangat ramai. Semua orang sibuk. Bunda dan beberapa sanak saudara yang datang ikut membantu menyiapkan acara kami. Bahkan arien beberapa menit lalu baru pergi setelah datang mengajak seorang temannya yang dapat memberi hiasan ditanganku dengan hena.
Sejak kecil aku memimpikan pernikahan bernuansa india. Mungkin karena terkontaminasi dengan film-film india yang sering kutonton. Meskipun sederhana, namun pernikahan ini harus berkesan. Aku hanya melakukannya satu kali seumur hidup. Setidaknya, nuansa bollywood harus terasa meskipun hanya lewat hiasan tangan.
“Qay!”
Suara afzal di ujung telepon menyadarkanku yang sesaat larut dalam lamunan.
“ Arien baru saja pulang. Dia datang dan menghadiahi aku dengan mendatangkan seseorang yang bisa menghias tanganku dengan hena. Aku suka gambarnya, simpel tapi indah!”
“sejak kemarin lihat rumah dihiasi tenda dan bunga-bunga, membuat aku seolah ngga percaya. Jika aku akan segera menikah!”
“Besok, aku dan kamu akan disatukan oleh Allah. Hubungan kita akan sah dalam agama. Kita akan melalui setiap waktu bersama tanpa takut akan dosa.”
“jangan kamu tanya lagi perasaan ini! Rasanya kayak mimpi!”
“mulai besok kita janji ya harus bahagia. Kamu jangan galak- galak ya!”
Ucapan singkat afzal membuatku tertawa.
“kok ketawa, Qay!”
“memang aku galak ya?” tanyaku penasaran.
“pakai pura-pura ngga tahu, macan saja kalah galaknya sama kamu!”
Aku semakin tertawa.
“pegang ngga boleh, cium ngga boleh, peluk ngga boleh!” ucap afzal dengan kencang.
“oh....jadi kamu lebih suka kalau aku jadi perempuan gampangan?” Tanyaku balik.
“aku suka kamu yang begini. Aku jadi ikut bisa jaga diri. Inilah salah satu alasan, mengapa aku berani mengambil keputusan untuk menikah di usia muda? Karena buat aku kamu yang paling tepat!”
“bohong kalau sebagai laki-laki aku ngga punya nafsu, tapi bersama kamu semua bisa dikendalikan. Aku ngga bisa bicara janji apapun ke kamu sekarang. Tapi aku akan usaha sampai mati buat bikin kamu selalu bahagia!”
“bukan aku yang bahagia, tapi kita harus bahagia!” ucapku sambil tersenyum.
“iya kita!” balas afzal.
Kami terdiam, telinga kami hanya mendengar suara napas.
Aku berdiri di depan kaca. Menatap sebuah baju berwarna merah Marun yang tergantung didekatnya. Besok untuk afzal, aku akan berhias secantik mungkin.
“Zal, aku tidur ya! Besok kalau mataku kayak mata panda kan jelek!”
“ngga apa, panda juga imut kok!” ucap afzal diselingi suara kekehan menahan tawa.
“Qay, mimpi indah ya! Tapi besok jangan kesiangan!” canda afzal.
Setelah panggilan telepon kami berakhir. Aku duduk di tepi kasur. Melihat wajah papa di dalam sebuah bingkai. Air mata mengalir tanpa aba-aba. Ya, besok akan menjadi permulaan untukku memiliki status baru. Kalau papa ada, hal ini tentu belum tentu terlaksana. Papa selalu berharap aku memiliki pendidikan yang tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat. Papa, menikah tak akan menjadi penghalang untukku tetap sekolah. Aku seperti ini agar papa tenang dan bahagia di sana. Sebab sekecil apapun dosa yang aku perbuat, pasti akan memberikan papa kesulitan menuju surganya Allah.