
"Qay!" panggil papanya afzal.
"oh iya om, maaf! " balasku gugup
"kok masih om saja? Ngga mau kayak afzal panggilnya papa? "
Aku hanya tersenyum ketir. Ada rasa kesal karena kaget dengan semua ini.
"kamu kenal afzal di mana? " tanya papanya dengan
wajah penasaran.
"satu sekolah waktu SMP! " jawabku pelan.
"selama ini kamu tahu keluarga Afzal?"
"maaf om, ngga!"
"afzal ngga pernah cerita? "
"ng... Ngga om, saya juga tidak bertanya! "
"terus alasannya apa kalian harus menikah? "
Tiba-tiba nada suara papa afzal menjadi lebih tinggi.
Seketika tubuhku jadi kaku karena semakin gugup.
"papa biasa aja dong! Kok jadi lebay gitu! " ucap afzal kesal
Aku memegang tangan afzal memberi isyarat bahwa aku tidak
suka, ia berkata seperti itu pada papanya.
"maaf om, saya
seorang muslimah. Saya sedang mencoba
untuk menjalankan syariat agama saya. Dalam islam tidak ada pacaran. Maka saya memberi pilihan kepada afzal untuk putus atau menikah?"
ucapku berusaha menjelaskan meskipun dengan suara bergetar karena gugup.
"ah.... Jangan-jangan kamu hamil! " ucap papa
afzal dengan nada terdengar meledek.
"papa apa sih, kok ngaco! "
"maaf om! Apa saya terlihat seperti perempuan murahan?
" tanyaku cepat, berusaha memotong amarah afzal yang mulai muncul.
"zaman sekarang, penampilan tidak menjamin! " ucap papa afzal dengan tenang.
"ya benar om, termasuk kekayaan dan pendidikan, tidak menjamin seseorang bisa menghargai orang lain!" ucapku tegas.
"hahahaha! "
Papa afzal tertawa. aku dan afzal saling melihat. Kami bingung mengapa papa afzal malah tertawa.
"zal, jadi kamu
memilih untuk menikah daripada putus? " tanya papa setelah menghentikan
tawanya.
"iya, Qay
memiliki semua hal yang saya mau di diri seorang perempuan! "
"ketika dia meminta untuk berpisah daripada berbuat
dosa, itu membuat saya semakin
mencintainya! "
Papa afzal terdiam, termasuk perempuan di sebelahnya.
"papa bilang saja, setuju atau tidak? Tidak usah
bicara ke sana dan kemari!"
"oke, dengan
syarat secepatnya papa diberi cucu! " ucap papa afzal santai.
APA? CUCU? aku dan
afzal saling memandang.
"maksud om? " tanyaku ragu-ragu.
"iya, setelah
kalian menikah, langsung beri saya cucu!"
"tapi kami baru naik ke kelas xii om dan saya juga baru
bulan depan punya KTP! "
"loh terus menikahnya bagaimana? KTP saja belum ada! "
"maaf om, yang
"saya baru ketemu perempuan kayak kamu! Dimana-mana mereka ngga mau dinikahi secara
agama saja, tapi kamu malah minta nikah
agama dulu. Kalau nanti setelah menikah, afzal meninggalkan kamu karena sudah
dapat yang dia mau, kamu bagaimana?
" ucap papa afzal dengan tatapan berusaha meyakinkanku.
"Allah akan melindungi saya dari orang-orang yang akan
berbuat dzalim! Sekalipun saya akan
tersakiti, itu sudah ketentuan Allah!
Lagipula kami bisa menikah bulan depan setelah saya punya KTP! " ucapku
tegas.
"oke terserah kalian, yang pasti saya minta cucu! "
"iya pa! Kami siap! " ucap afzal cepat-cepat
mendahului aku yang ingin bicara.
Tangannya *** tanganku, memintaku untuk diam.
"oke minggu depan saya akan ke rumah kamu, dan kita urus surat-surat baru setelah itu
menikah! " ucap papa afzal
"terima kasih pa! " ucap afzal sambil menyandarkan
diri ke sofa, menandakan dia sudah
tenang.
"maaf om, saya
boleh minta tolong! " pintaku dengan agak ragu.
"iya silakan Qay, tapi tolong jangan panggil saya om! "
"oh iya maaf, saya ingin menikah secara sederhana di rumah, tidak ada resepsi mewah! " ucapku pelan-pelan.
"itu terserah kalian! Walaupun sebenarnya saya berharap pernikahan diadakan secara
besar-besaran karena kolega saya banyak! Tapi saya juga tidak ingin memaksa, toh kalian yang menjalani!"
"sederhana saja, om, eh... Pa! " ucapku
malu-malu karena belum terbiasa memanggil papa.
"oke silakan lanjutkan, saya harus langsung ke bandara, ada meeting di surabaya besok pagi! See you, Qay! "
"o... Iya pa, hati-hati, terimakasih!" ucapku kebingungan karena canggung.
Setelah papa afzal dan istrinya pergi. Aku langsung mencubit pinggang afzal keras
sekali sampai dia menjerit kesakitan.
"Auwww.....! Ampun Qay! " teriak afzal.
"rahasia apa lagi yang masih kamu simpan!! Kamu bikin aku kayak orang bego, tau ngga! " ucapku dengan kencang.
"kamu ngga pernah tanya Qay! Ya, apa pentingnya aku cerita! "
"mulai hari ini jangan rahasiakan apapun, kalau aku ngga tanya, kamu tetap wajib cerita! " ucapku sambil
menjewer telinga afzal.
Tanganku ditarik ke belakang punggungku. Wajah kami sangat
dekat. Membuat aku seketika terdiam.
"berani cubit, atau jewer aku lagi, aku balas
dengan ciuman! " ancam afzal dengan nada suara yang berbisik di telingaku.
Aku terdiam karena tubuhku seketika menjadi kaku karena geli. Saat afzal maju dan ingin menciumku, aku
langsung menarik mundur kepalaku agar menjauh darinya. Afzal tersenyum. Melepaskan tanganku yang ia genggam di
belakang punggungku. Lalu berdiri dan
tanpa izin mencium keningku.
"kalau sudah nikah, kamu nolak aku, aku ngambek
loh! Untuk sekarang kamu aku maafkan!
" ucapnya sambil berjalan meninggalkan aku yang masih duduk dengan tubuh
kaku di sofa nyaman di rumahnya.
Tiba-tiba aku merasa pusing. Apakah semua pilihan ini benar?
Jika memang Allah merestui semua akan dipermudahkan?