Blind is Love

Blind is Love
Ampas Permen Karet



brakkk .....


Pintu kamar kos arien tak terkunci. Napas yang masih tersengal kucoba atur agar hembusannya kembali teratur. Entah berapa kali lampu merah kuterobos untuk cepat sampai di sini, untungnya tak ada polisi yang mengejar. Namun melihat kondisi kamar yang sepi membuat kakiku menjadi lemas. Apa arien ngga ada di sini? Ya, Tuhan ada di mana dia? Tanpa sadar, tanganku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Bingung, khawatir, dan resah menjadi satu.


Saat berbalik badan, bergegas pergi meninggalkan kamar, kudapati Arien berada di belakangku. Mata ini terbelalak, di siang hari yang mulai terik, Arien hanya menggunakan sebuah kemeja putih dengan kancing yang terbuka, memperlihatkan belahan dadanya, dan aku yakin hanya kemeja itu yang dikenakannya, tak ada pelengkap celana atau rok di bawahnya. Wajahnya tampak manis, dengan senyumannya yang begitu menggoda. Tak ada tanda-tanda habis menangis atau kesedihan di wajah cantiknya. Belum sempat mulutku bersuara, lengan Arien bergelayut manja di leher, yang membuat tubuh kami semakin menempel.


“Ini maksudnya apa sih?” tanyaku sambil berusaha mengatur jarak kami. Namun, arien seperti lem yang tak mau lepas, semakin aku berusaha mengatur jarak, semakin dia mendekat padaku.


“Kamu, kok baik banget sih? Aku ngga menyangka, seorang Yudha bisa secepat ini menemui aku?” ucap arien sambil dengan sengaja semakin menekan dadanya mendekat ke tubuhku.


“Rien!” nadaku mulai meninggi. Sikap arien membuat jantungku semakin tak beraturan. Bohong jika aku tidak tergoda, namun sikapnya tak bisa aku pahami.


“ Ayo kita bicara, tapi ngga begini caranya! Aku bisa marah kalau sikap kamu begini.” Ucapku dengan wajah serius. Hingga membuat arien melepaskan lengannya dari leherku.


Arien melangkah ke arah tempat tidur, ia berjalan tanpa menoleh dan bersuara. Ku kira kewarasannya kembali, tetapi pikiranku salah. Arien malah berbaring di atas kasur, dengan posisi agak miring, membuat paha dan kaki indahnya tampak menggoda dan semakin menyiksaku. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba tidak peduli, berjalan mendekatinya dan duduk membelakanginya di tepi kasur.


“kenapa ngga mau melihat aku?”


“Kamu bisa duduk yang benar dan kita bisa bicara baik-baik? Atau kamu lebih suka sekarang juga aku keluar kamar?”


“Kamu normal kan?”


Pertanyaan arien membuatku beranjak dari kasur, sontak tangannya menahanku untuk pergi. Aku menoleh ke arahnya, sengaja memperlihatkan bahwa aku tidak suka dengan keadaan ini. Berharap kami bisa bicara dengan kondisi yang lebih wajar.


“Kalau kamu bisa diajak kerja sama, aku ngga akan pergi! Aku ngga ngerti, maksud kamu apa teriak minta tolong, bikin panik, terus kelakuan kamu ini, benar-benar bikin aku ngga paham!”


Arien mengubah posisi tubuhnya, dia duduk tepat di sampingku. Tangannya masih menggenggamku.


Sejenak kami saling terdiam, aku memberinya ruang untuk menenangkan diri, bersabar menunggu penjelasannya.


“Bukannya semua cowok suka lihat tubuh cewek ya? Kulit yang mulus, payudara yang besar, body yang semok. Semua cowok Cuma butuh itukan dari ceweknya. Tempat melampiaskan nafsu yang jika bosan bisa dibuang, diganti, atau bahkan dilupakan.”


Arien tetap tertunduk, aku tak mengomentari ucapannya, bisa-bisanya kondisi seperti ini, aku malah teringat ucapan Afzal, kalau terkadang perempuan butuh didengarkan.


“Cewek itu seperti permen karet, awalnya manis, siapapun suka rasa manisnya. Ketika rasa manisnya mulai memudar, masih ada tekstur kenyalnya yang unik, dimainkan di dalam mulut dengan lincah, kadang menimbulkan bunyi, kadang sengaja digelembungkan, menyenangkan hati siapapun yang memakannya. Namun, makin lama makin hambar. Ngga ada rasa dan kenyalnya berubah menjadi lengket. Itu seperti sinyal, sudah saatnya permen itu dibuang. Karena kenikmatannya sudah habis.”


Wajah arien terangkat, matanya yang berkaca-kaca menatapku.


Nyessss....


Kesedihan itu memenuhi hatiku. Ya.... dibalik sikapnya yang agresif, centil, dan nakal, tersembunyi luka yang dalam. Kuusap buliran air mata yang mengalir di sudut matanya.


“Kenapa kamu ngga seperti mereka, dha? Jangan jadi laki-laki baik buat aku! Kamu bisa kok brengsek, jangan baik sama aku. Jangan buat aku bermimpi bahwa akan ada laki-laki baik yang ngga akan menganggap aku seperti permen karet, ketika jadi ampas tinggal dibuang.”


“Ayo kita melakukan ini, karena kamu aku rela melepas keperawanan ini! Anggap aja hadiah buat kamu. Aku ngga akan minta tanggungjawab!”


Aku hanya menatapnya dengan senyuman, membelai rambutnya lembut.


“Apa aku kurang sexy, sampai kamu ngga tergoda?”


Untuk kesekian kalinya aku tersenyum.


“Nikah yuk, Rien!” ucapku serius


Kini giliran arien yang menepis tanganku yang ingin memegang pipinya. Tubuh arien bergeser mundur agak menjauh dariku. Wajahnya berubah murung.


“ Ya ngga sekarang rien! Aku kerja dulu, baru kita nikah. Aku ngga sekaya Afzal sampai berani nikahin anak orang padahal masih sekolah.”


Arien masih diam tak merespon kata-kataku.


“Dari awal aku bilang, aku memang brengsek, tapi khusus buat kamu, aku ngga mau jadi brengsek! Kita akan melakukan hal itu setelah menikah, dan itu hadiah terindah dari kamu buat aku!”


“Kalau aku ngga mau nikah, gimana?”


“Kenapa ngga mau? Bisa kasih alasan?”


“Buat apa nikah, buat punya anak? Terus anaknya bisa ditelantari, ngga perlu dipedulikan, yang penting dikasih duit!”


Oh...


Ini masalahnya.


“Ngga semua keluarga begitu sayang! Justru dengan rasa kecewa kamu, kita bisa buktikan bahwa kita mampu membahagiakan diri kita sendiri dan anak-anak kita nanti!”


Arien menatapku, wajahnya tak berekspresi.


“Oke, ngga apa-apa kalau kamu masih belum yakin. Tapi kita harus tetap saling menghargai. Jangan memaksakan keinginan.”


“Apa kamu ngga ikut bahagia melihat hubungan Qay dan Afzal? Kamu juga tahu, bagaimana harmonisnya keluarga Qay? Terkadang kita jangan terpaku dengan cerita buruk, karena ngga selamanya akan buruk. Pasti akan ada bahagia untuk kita!”


Gantian, Arien tak berkata apapun.


Aku memeluknya, berharap rasa sayangku tersampaikan lewat pelukan ini. Arien tak sekuat yang kukira. Ada sisi rapuh dalam dirinya. Kerapuhan yang tersimpan terlalu lama. Hingga butuh waktu untuk menguatkannya kembali.