Blind is Love

Blind is Love
Kissmark



Aku masih duduk termenung di teras masjid sekolah. Di samping


masjid ada kolam ikan yang di atasnya tumbuh beberapa bunga teratai. Tempat ini


menjadi salah satu tempat favoritku untuk menenangkan diri setelah shalat. Kejadian


kemarin masih berkutat di kepalaku. Sampai detik ini, aku dan Afzal tidak


berkomunikasi. Kami terbiasa tak saling menghubungi jika sedang bertengkar.


Arien ikut duduk di sampingku setelah ia selesai shalat. Sebelum


kami pulang ke rumah, selalu melaksanakan shalat Ashar terlebih dahulu. Sejak pagi


bertemu arien, aku belum membahas masalah kemarin dengannya. Pertengkaranku dengan


Afzal membuat suasana hatiku buruk.


Mataku tertuju pada plester di leher arien. Aku tahu pasti


tidak ada luka di balik plester itu, yang ada tanda merah bekas bibir cowok


yang aku sendiri tidak mengenalnya. Aku mengalihkan pandangan ke kolam lagi. Menarik


napas, agar oksigen masuk ke otakku yang terasa penat.


“siapa lagi cowok itu, Rien? Kayaknya bukan anak sini!”


tanyaku memulai pembicaraan.


“Rakha, anak basket SMA Mawar!” jawab arien datar.


“kalian pacaran?”


“ngga, baru seminggu kenal!”


Aku kaget mendengar jawaban arien. Wajah ranum tiba-tiba


melintas dalam pikiranku. Bagaimana dua orang sahabatku ini bisa begitu mudah


memberikan tubuhnya untuk lelaki? Apa mereka bahagia hanya dijadikan objek


seksual lelaki brengsek itu? Seminggu kenal sudah memberi kissmark!


“rien, aku sudah kehilangan ranum.....”


“aku ngga sebego Ranum, Qay!” ucap Arien memotong kalimatku.


“siapa juga yang mau hidup begini!” ucap arien seraya


menutup wajah dengan tangannya.


Hiks.....hiks.....


Tangis arien pecah. Aku menariknya dalam pelukanku.


Aku membiarkannya menangis. Menumpahkan air matanya. Mungkin


dengan cara ini beban dan luka hatinya yang tidak aku ketahui dapat berkurang.


“Namanya Elang, cowok yang membuat aku begini Qay!” ucap


arien memulai lagi pembicaraan setelah ia menangis.


“waktu itu dia kelas 2 SMA dan aku 2 SMP, dia anak dari anak


buah papa. Dia sering ke rumah buat jaga aku. Aku punya orang tua, tapi itu


“awalnya semua berjalan indah, aku nyaman dengan kehadiran


dia. Bisa dibilang dia cinta pertama aku. Tapi semua berubah Qay, dia berubah


sejak punya pacar. Elang, mulai suka memperlihatkan video atau gambar porno


dari grup yang dia ikuti!”


“kami sama-sama terangsang, dia yang ngajarin aku untuk


ciuman, bikin kissmark, petting, tapi ngga pernah lebih dari itu!”


“maksud kamu, rien?” tanyaku ragu-ragu.


“ya...dia mengajari semua hal, tapi dia ngga pernah melakukan


lebih dari itu Qay! Sampai hari ini aku masih virgin!”


“ya, bagus dong, rien! Artinya dia ngga merusak kamu!”


“tapi aku jadi begini Qay! Jadi gila! Haus pelukan, ciuman,


tapi aku maunya sama dia!”


“kemana elang, rien?”


“kabur, ngga tau kemana!bapaknya curi uang perusahaan mama.”


“semua cowok yang brengsek itu, yang maunya Cuma nge-seks,


aku kerjai, Qay! Aku buat mereka nge-fly, setelah mereka eror aku tinggalin!”


“manfaatnya buat kamu apa, rien?”


“ngga ada! Cuma puas aja, lihat muka mesum mereka,


ngemis-ngemis minta dipuaskan!”


Aku melihat senyum sinis di wajah arien. Wajahnya putih


mulus. Cantik. Tubuhnya sangat sexy, untuk seusia kami, siapapun yang


melihatnya pasti tergoda.


“jujur, dulu aku sempat menggoda Afzal, tapi dia tetap cuek,


Qay! Dia setia atau homo, Qay?”


Aku mencubit lengan arien setelah mendengar ucapannya.


Tiba-tiba rasa bersalah menyerbu hatiku. Seharusnya aku


tidak menuduhnya macam-macam. Seharusnya aku paham bahwa selama ini, afzal


menahan diri untuk menjagaku.


“jangan dilepas cowok kayak Afzal, Qay! Tapi kalau kamu


sudah ngga mau di over ke aku aja!”


Aku hanya membalas dengan senyuman. Tanganku mengusap wajah,


dan sejenak terdiam. Kemudian mengambil HP dari dalam tas. Mengetik beberapa


kata dan mengirimkannya pada Afzal.