
Aku masih duduk termenung di teras masjid sekolah. Di samping
masjid ada kolam ikan yang di atasnya tumbuh beberapa bunga teratai. Tempat ini
menjadi salah satu tempat favoritku untuk menenangkan diri setelah shalat. Kejadian
kemarin masih berkutat di kepalaku. Sampai detik ini, aku dan Afzal tidak
berkomunikasi. Kami terbiasa tak saling menghubungi jika sedang bertengkar.
Arien ikut duduk di sampingku setelah ia selesai shalat. Sebelum
kami pulang ke rumah, selalu melaksanakan shalat Ashar terlebih dahulu. Sejak pagi
bertemu arien, aku belum membahas masalah kemarin dengannya. Pertengkaranku dengan
Afzal membuat suasana hatiku buruk.
Mataku tertuju pada plester di leher arien. Aku tahu pasti
tidak ada luka di balik plester itu, yang ada tanda merah bekas bibir cowok
yang aku sendiri tidak mengenalnya. Aku mengalihkan pandangan ke kolam lagi. Menarik
napas, agar oksigen masuk ke otakku yang terasa penat.
“siapa lagi cowok itu, Rien? Kayaknya bukan anak sini!”
tanyaku memulai pembicaraan.
“Rakha, anak basket SMA Mawar!” jawab arien datar.
“kalian pacaran?”
“ngga, baru seminggu kenal!”
Aku kaget mendengar jawaban arien. Wajah ranum tiba-tiba
melintas dalam pikiranku. Bagaimana dua orang sahabatku ini bisa begitu mudah
memberikan tubuhnya untuk lelaki? Apa mereka bahagia hanya dijadikan objek
seksual lelaki brengsek itu? Seminggu kenal sudah memberi kissmark!
“rien, aku sudah kehilangan ranum.....”
“aku ngga sebego Ranum, Qay!” ucap Arien memotong kalimatku.
“siapa juga yang mau hidup begini!” ucap arien seraya
menutup wajah dengan tangannya.
Hiks.....hiks.....
Tangis arien pecah. Aku menariknya dalam pelukanku.
Aku membiarkannya menangis. Menumpahkan air matanya. Mungkin
dengan cara ini beban dan luka hatinya yang tidak aku ketahui dapat berkurang.
“Namanya Elang, cowok yang membuat aku begini Qay!” ucap
arien memulai lagi pembicaraan setelah ia menangis.
“waktu itu dia kelas 2 SMA dan aku 2 SMP, dia anak dari anak
buah papa. Dia sering ke rumah buat jaga aku. Aku punya orang tua, tapi itu
“awalnya semua berjalan indah, aku nyaman dengan kehadiran
dia. Bisa dibilang dia cinta pertama aku. Tapi semua berubah Qay, dia berubah
sejak punya pacar. Elang, mulai suka memperlihatkan video atau gambar porno
dari grup yang dia ikuti!”
“kami sama-sama terangsang, dia yang ngajarin aku untuk
ciuman, bikin kissmark, petting, tapi ngga pernah lebih dari itu!”
“maksud kamu, rien?” tanyaku ragu-ragu.
“ya...dia mengajari semua hal, tapi dia ngga pernah melakukan
lebih dari itu Qay! Sampai hari ini aku masih virgin!”
“ya, bagus dong, rien! Artinya dia ngga merusak kamu!”
“tapi aku jadi begini Qay! Jadi gila! Haus pelukan, ciuman,
tapi aku maunya sama dia!”
“kemana elang, rien?”
“kabur, ngga tau kemana!bapaknya curi uang perusahaan mama.”
“semua cowok yang brengsek itu, yang maunya Cuma nge-seks,
aku kerjai, Qay! Aku buat mereka nge-fly, setelah mereka eror aku tinggalin!”
“manfaatnya buat kamu apa, rien?”
“ngga ada! Cuma puas aja, lihat muka mesum mereka,
ngemis-ngemis minta dipuaskan!”
Aku melihat senyum sinis di wajah arien. Wajahnya putih
mulus. Cantik. Tubuhnya sangat sexy, untuk seusia kami, siapapun yang
melihatnya pasti tergoda.
“jujur, dulu aku sempat menggoda Afzal, tapi dia tetap cuek,
Qay! Dia setia atau homo, Qay?”
Aku mencubit lengan arien setelah mendengar ucapannya.
Tiba-tiba rasa bersalah menyerbu hatiku. Seharusnya aku
tidak menuduhnya macam-macam. Seharusnya aku paham bahwa selama ini, afzal
menahan diri untuk menjagaku.
“jangan dilepas cowok kayak Afzal, Qay! Tapi kalau kamu
sudah ngga mau di over ke aku aja!”
Aku hanya membalas dengan senyuman. Tanganku mengusap wajah,
dan sejenak terdiam. Kemudian mengambil HP dari dalam tas. Mengetik beberapa
kata dan mengirimkannya pada Afzal.