
Sejak menjabat tangannya, bukan menyelesaikan masalah di
antara kami. justru Afzal semakin giat menemuiku. Awalnya risih, tapi semakin
lama jadi terbiasa. Aku dan afzal sama-sama menyukai salah satu drama jepang
yang sama, judulnya “Long Vacation”. Kami saling bertukar cerita setelah drama
tersebut tayang di televisi setiap malam selasa dan jumat. Ternyata Afzal memiliki
karakter yang menyenangkan, meskipun terkadang tingkahnya masih belum aku
mengerti.
Ia tak lagi memanggilku cewek mesum. Sekarang panggilannya
lebih ektrem. Sudah dilarang, tetap berbuat sesukanya. “Mama” begitulah ia
memanggilku. Setiap aku tanya alasan mengapa ia bisa menyebutkan kata itu. Ia
malah menjawab dengan kalimat yang lebih ngaco dan aneh lagi. “kalau kita
nikah, panggilnya mama papa, kan?” jadi aku tak ingin tahu lagi alasannya.
Biarlah dia bahagia dengan caranya.
“sebentar lagi kita lulus, Qay! Kamu ngga minat cari pacar?
Biar ada cerita gitu, di masa putih biru punya tambatan hati.” Tanya Ranum saat
kami berada di bawah pohon rindang, duduk saling bersadar di punggung kami
sambil membaca komik yang kami bawa dari rumah.
“siang-siang panas begini malah memikirkan hal yang ngga
penting, num! Enak tidur kayaknya!”
Setiap siang sehabis pulang sekolah kami diberi waktu dua
jam untuk beristirahat, kemudian dilanjutkan dengan jam tambahan belajar untuk
persiapan Ujian kelulusan sampai pukul 5 sore. Tapi aku juga sempat terpikir
untuk memiliki pacar, rasanya hambar jika tak memiliki kenangan tentang itu.
Tanpa kuutarakan pada ranum, otakku mulai menyusun rencana.
***
Target yang pertama, Bagas, teman seangkatan yang punya
penampilan dikategori sedang, ngga terlalu tinggi, ngga terlalu putih, ngga
terlalu modis, tapi punya otak yang brilian. Sejak kelas VII, dia bilang naksir
aku. Beberapakali berusaha nembak, tapi usahanya aku gagalkan. Sebelum dia
ungkapkan, aku selalu berusaha mengganti topik pembicaraan, sebab aku akan jadi
bingung, karena tidak tega menolaknya. Sekali saja aku bilang “Iya” pasti sejak
masuk sekolah menengah pertama kami sudah jadian.
Saat jam istirahat, dengan ragu aku ajak kedua kaki
melangkah ke kelas Bagas di lantai dua. Sambil jalan aku berusaha menyusun
kalimat seperti apa yang akan aku sampaokan agar dia mau jadi pacarku. Tanpa sadar
sekeliling kelas untuk menemukan sosok yang sedang aku pikirkan sejak tadi
malam. Akhirnya, mataku tertuju pada cowok yang sedang asyik bercanda dengan
temannya. Dari kejauhan aku melihat barisan giginya yang rapi dan putih tertawa
dengan sangat riang, entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga membuat
Bagas tertawa seceria itu.
“Qay, masa lo tega mainin perasaan cowok sebaik Bagas? Tawa dia
yang seperti ini bisa lenyap karena ulah usil lo ini. Apa bisa lo menjalani
hubungan dengan dia? Kalau bisa, kenapa ngga dari dulu lo setujui jadi
pacarnya?” suara dalam hati perang. Pikiran dan perasaan tidak kompak.
Akhirnya si perasaan yang menang, aku langsung memutar
tubuhku untuk segera pergi dari kelas itu. Aku tak akan tega mengatakan “End”
ketika nanti kami sudah berada di SMA, karena pacaran ini hanya akan aku jalani
untuk menghabiskan masa SMP –ku yang hampir berakhir.
“Qay!” suara yang ku kenali menghentikan langkahku.
Suara langkah kaki itu seperti dentuman drum yang menjadi
pengiring dalam cerita sinetron yang kulihat. Makin lama makin cepat dan keras.
“Qay, tumben ke kelas ini? Siapa yang kamu cari?” tanya
bagas setengah terengah-engah setelah berlari mengejarku.
“Ng..ngga kok, tadi Cuma salah kelas!” jawabku agak terbata.
“Oh, BTW lulus nanti kamu rencana mau masuk SMA mana?” tanya
bagas.
“belun tahu gas, masih bingung” jawabku tenang berusaha
menutupi kegugupan.
“Bagas, masih ada yang mau ditanya? Kalau ngga, aku pamit
ya!”
“Ups, Sorry ya, karena terlalu senang lihat kamu, aku sampai
lupa. Oke deh, bye!” ucap Bagas dengan wajah polosnya dan berjalan meninggalkan
aku.
Aku menarik napas lega, hampir saja mengambil keputusan yang
salah. Sekali saja aku dan bagas jadian, pasti akan sulit diakhiri. Sambil memikirkan
cowok target kedua, aku berjalan menjauh dari kelas bagas.
“Kurasa dia cukup tepat, dilibatkan dalam usahaku, menemukan
pacar di akhir masa putih biru.” Gumamku dalam hati. Dia? Iya dia si target
kedua.