Blind is Love

Blind is Love
Cari Pacar, tapi Ngasal! (season 1)



Sejak menjabat tangannya, bukan menyelesaikan masalah di


antara kami. justru Afzal semakin giat menemuiku. Awalnya risih, tapi semakin


lama jadi terbiasa. Aku dan afzal sama-sama menyukai salah satu drama jepang


yang sama, judulnya “Long Vacation”. Kami saling bertukar cerita setelah drama


tersebut tayang di televisi setiap malam selasa dan jumat. Ternyata Afzal memiliki


karakter yang menyenangkan, meskipun terkadang tingkahnya masih belum aku


mengerti.


Ia tak lagi memanggilku cewek mesum. Sekarang panggilannya


lebih ektrem. Sudah dilarang, tetap berbuat sesukanya. “Mama” begitulah ia


memanggilku. Setiap aku tanya alasan mengapa ia bisa menyebutkan kata itu. Ia


malah menjawab dengan kalimat yang lebih ngaco dan aneh lagi. “kalau kita


nikah, panggilnya mama papa, kan?” jadi aku tak ingin tahu lagi alasannya.


Biarlah dia bahagia dengan caranya.


“sebentar lagi kita lulus, Qay! Kamu ngga minat cari pacar?


Biar ada cerita gitu, di masa putih biru punya tambatan hati.” Tanya Ranum saat


kami berada di bawah pohon rindang, duduk saling bersadar di punggung kami


sambil membaca komik yang kami bawa dari rumah.


“siang-siang panas begini malah memikirkan hal yang ngga


penting, num! Enak tidur kayaknya!”


Setiap siang sehabis pulang sekolah kami diberi waktu dua


jam untuk beristirahat, kemudian dilanjutkan dengan jam tambahan belajar untuk


persiapan Ujian kelulusan sampai pukul 5 sore. Tapi aku juga sempat terpikir


untuk memiliki pacar, rasanya hambar jika tak memiliki kenangan tentang itu.


Tanpa kuutarakan pada ranum, otakku mulai menyusun rencana.


***


Target yang pertama, Bagas, teman seangkatan yang punya


penampilan dikategori sedang, ngga terlalu tinggi, ngga terlalu putih, ngga


terlalu modis, tapi punya otak yang brilian. Sejak kelas VII, dia bilang naksir


aku. Beberapakali berusaha nembak, tapi usahanya aku gagalkan. Sebelum dia


ungkapkan, aku selalu berusaha mengganti topik pembicaraan, sebab aku akan jadi


bingung, karena tidak tega menolaknya. Sekali saja aku bilang “Iya” pasti sejak


masuk sekolah menengah pertama kami sudah jadian.


Saat jam istirahat, dengan ragu aku ajak kedua kaki


melangkah ke kelas Bagas di lantai dua. Sambil jalan aku berusaha menyusun


kalimat seperti apa yang akan aku sampaokan agar dia mau jadi pacarku. Tanpa sadar


sekeliling kelas untuk menemukan sosok yang sedang aku pikirkan sejak tadi


malam. Akhirnya, mataku tertuju pada cowok yang sedang asyik bercanda dengan


temannya. Dari kejauhan aku melihat barisan giginya yang rapi dan putih tertawa


dengan sangat riang, entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga membuat


Bagas tertawa seceria itu.


“Qay, masa lo tega mainin perasaan cowok sebaik Bagas? Tawa dia


yang seperti ini bisa lenyap karena ulah usil lo ini. Apa bisa lo menjalani


hubungan dengan dia? Kalau bisa, kenapa ngga dari dulu lo setujui jadi


pacarnya?” suara dalam hati perang. Pikiran dan perasaan tidak kompak.


Akhirnya si perasaan yang menang, aku langsung memutar


tubuhku untuk segera pergi dari kelas itu. Aku tak akan tega mengatakan “End”


ketika nanti kami sudah berada di SMA, karena pacaran ini hanya akan aku jalani


untuk menghabiskan masa SMP –ku yang hampir berakhir.


“Qay!” suara yang ku kenali menghentikan langkahku.


Suara langkah kaki itu seperti dentuman drum yang menjadi


pengiring dalam cerita sinetron yang kulihat. Makin lama makin cepat dan keras.


“Qay, tumben ke kelas ini? Siapa yang kamu cari?” tanya


bagas setengah terengah-engah setelah berlari mengejarku.


“Ng..ngga kok, tadi Cuma salah kelas!” jawabku agak terbata.


“Oh, BTW lulus nanti kamu rencana mau masuk SMA mana?” tanya


bagas.


“belun tahu gas, masih bingung” jawabku tenang berusaha


menutupi kegugupan.


“Bagas, masih ada yang mau ditanya? Kalau ngga, aku pamit


ya!”


“Ups, Sorry ya, karena terlalu senang lihat kamu, aku sampai


lupa. Oke deh, bye!” ucap Bagas dengan wajah polosnya dan berjalan meninggalkan


aku.


Aku menarik napas lega, hampir saja mengambil keputusan yang


salah. Sekali saja aku dan bagas jadian, pasti akan sulit diakhiri. Sambil memikirkan


cowok target kedua, aku berjalan menjauh dari kelas bagas.


“Kurasa dia cukup tepat, dilibatkan dalam usahaku, menemukan


pacar di akhir masa putih biru.” Gumamku dalam hati. Dia? Iya dia si target


kedua.