Blind is Love

Blind is Love
Pangeran Kodok



Bunda masuk ke dalam kamar, setelah acara lamaran selesai dan


afzal beserta keluarganya pamit pulang. Ia berdiri di depan pintu yang tertutup


dan menatapku dar balik kaca. Saat bunda datang aku sedang merapikan rambut


setelah melepas hijab.


“kenapa bun? Kok malah berdiri aja di situ!” tanyaku dengan


menyunggingkan sebuah senyum.


Bunda melangkah menghampiriku dan aku membalikkan badan ke


arahnya. Ia duduk di tepi kasur dan membelai kepalaku.


“waktu cepat berlalu ya, nak! Hari ini seorang laki-laki


meminta kamu untuk menemani hidupnya ke bunda! Bayi kecil dan mungil bunda


sudah akan pergi!” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“bun! Ngga ada yang akan pergi, sampai kapan pun kita akan


sama-sama!” ucapku dengan suara menahan tangis, dan menggenggam tangan lembut


bunda.


“Nak, seorang perempuan ketika sudah menikah sudah menjadi


tanggungjawab suaminya. Suami berhak membawa, memerintah, dan meminta apapun


dari istrinya. Sebab segala tanggungjawab telah berpindah dari orang tua si perempuan


ke suaminya! Kamu tidak bisa lagi mengambil keputusan sendiri, semua harus atas


izin suami. Walaupun hanya ingin memotong seujung rambut, tetap suamimu harus


tahu dan menyetujui!”


“iya bunda, nanti aku rayu afzal ya! Bunda jangan berpikir


kita akan berpisah!bun, kenapa bunda ngga melarang aku dan afzal yang meminta


dinikahkan padahal lulus sekolah saja belum?” tanyaku sambil berpindah duduk di


tepi kasur sebelah bunda.


“cerita tentang ranum dan ghisa membuat bunda takut sayang! Apalagi


Afzal sudah berniat baik. Bunda harus bersyukur kalau ada yang bersedia


membantu bunda menjaga kamu!”


“kalau ayah masih ada, bunda pasti tidak akan setuju!”


ucapku.


“belum tentu, bisa jadi dari awal afzal berani main ke rumah,


ayah sudah minta dia untuk menikahi kamu!” ucap bunda sambil memencet hidungku


perlahan.


Kami tertawa bersama. Meskipun ayah sudah tidak ada di dunia


ini secara nyata, tapi kami merasa ia ada bersama kami. Ayah aku rindu!


***


Uhuk....uhuk....


Arien batuk-batuk tak berhenti. Setelah mendengar kabar


bahwa aku dan afzal akan menikah, bahkan sudah ada proses lamaran dan aku tidak


mengundangnya.


“GILA LO YA!” teriak arien.


“kalau aku gila, kamu apa? Sahabatnya orang gila dong!”


“terus kapan? Aku ngga boleh datang juga!” tanya arien.


“dua minggu lagi, sayang! Datanglah, tapi diam-diam aja


ya,ngga enak kalau yang lain tahu!” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.


“pede aja, kalau yang lain tahu juga ngga akan peduli,


memangnya kamu selebriti!”


“Qay, kamu serius mau nikah? Kita masih muda! Kamu ngga mau


sayang qay kalau nikah terlalu cepat!”


“kalau matinya yang lebih cepat, bagaimana?”


“ih, aneh kamu mah! Lagi bicara nikah, tiba-tiba ke mati!”


ucap arien kesal.


“jodoh, maut, rezeki ngga ada yang tahu, rien! Kalau lagi


asyik pacaran terus mati, dosa siapa yang tanggung!”


“noh, nenek-nenek yang lagi Push up suruh tanggung jawab!”


ledek  arien.


Aku hanya tersenyum. Aku dan arien melanjutkan langkah kaki


ke depan gerbang sekolah. Hari ini kami pulang lebih awal karena rapat guru. Arien


menghentikan langkah kakinya.


“Qay, itu Afzal kan?” tanya arien dengan pandangan mata ke


depan dan tangannya *** lenganku.


Aku menyipitkan mata, menyelidiki bahwa lelaki berkaos biru


dan celana jeans, lengkap dengan topi berwarna hitam itu adalah afzal.


“iya!” ucapku sesudah memastikannya.


“Qay dia ke sini bawa mobil? Gila mobil siapa itu, keren


parah!” tanya arien penasaran.


Afzal melambaikan tangannya setelah sadar bahwa kami sudah


ada di depannya tak jauh dari tempatnya berdiri. Aku membalas lambaian itu dan


tersenyum.


“cowok itu anak konglomerat rien! Papanya pemilik salah satu


mall di jakarta dan bisnis beberapa hotel di beberapa kota!”


“HAH! Ini lebih GILA LAGI! KOK KAMU....!”


“Aku juga baru tahu!” ucapku memotong amarah arien.


“hai, Rien!” sapa afzal ketika kami sudah dekat dengannya.


“jadi lo mau buat kejutan apalagi, Zal?” tanya arien


“maksudnya?” balas afzal bingung.


“pertama lo datang ke sini, tiba-tiba lo bilang qay adalah


cewek lo, yang kedua lo datang bonyokin si dewa sampai giginya rontok, dan


sekarang lo yang biasanya naik mobil angkutan datang dengan mobil sport edisi


terbatas!”


Afzal tidak menjawab, dia hanya tersenyum.


“kalian benar-benar ya, bahkan sudah lamaran baru kasih


kabar!” ucap arien sambil berpindah berdiri di samping afzal.


“oke, marah-marahnya berhenti dulu! Gue mau ajak calon istri


gue pergi!” ucap afzal pada arien.


“ya sudah sana pergi, pakai izin lagi lo! Pangeran mah


bebas!” balas arien.


“pangeran....pangeran kodok, maksud lo!” ucap afzal sambil


tertawa.


Afzal membukakan pintu mobil, dan memastikan aku duduk


dengan nyaman. Setelah itu ia membawaku pergi. Dari kaca spion aku melihat


semua mata menatap kami. Mataku berpindah ke arah afzal, dasar pangeran kodok! Gerutuku


dalam hati.