
Bunda masuk ke dalam kamar, setelah acara lamaran selesai dan
afzal beserta keluarganya pamit pulang. Ia berdiri di depan pintu yang tertutup
dan menatapku dar balik kaca. Saat bunda datang aku sedang merapikan rambut
setelah melepas hijab.
“kenapa bun? Kok malah berdiri aja di situ!” tanyaku dengan
menyunggingkan sebuah senyum.
Bunda melangkah menghampiriku dan aku membalikkan badan ke
arahnya. Ia duduk di tepi kasur dan membelai kepalaku.
“waktu cepat berlalu ya, nak! Hari ini seorang laki-laki
meminta kamu untuk menemani hidupnya ke bunda! Bayi kecil dan mungil bunda
sudah akan pergi!” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“bun! Ngga ada yang akan pergi, sampai kapan pun kita akan
sama-sama!” ucapku dengan suara menahan tangis, dan menggenggam tangan lembut
bunda.
“Nak, seorang perempuan ketika sudah menikah sudah menjadi
tanggungjawab suaminya. Suami berhak membawa, memerintah, dan meminta apapun
dari istrinya. Sebab segala tanggungjawab telah berpindah dari orang tua si perempuan
ke suaminya! Kamu tidak bisa lagi mengambil keputusan sendiri, semua harus atas
izin suami. Walaupun hanya ingin memotong seujung rambut, tetap suamimu harus
tahu dan menyetujui!”
“iya bunda, nanti aku rayu afzal ya! Bunda jangan berpikir
kita akan berpisah!bun, kenapa bunda ngga melarang aku dan afzal yang meminta
dinikahkan padahal lulus sekolah saja belum?” tanyaku sambil berpindah duduk di
tepi kasur sebelah bunda.
“cerita tentang ranum dan ghisa membuat bunda takut sayang! Apalagi
Afzal sudah berniat baik. Bunda harus bersyukur kalau ada yang bersedia
membantu bunda menjaga kamu!”
“kalau ayah masih ada, bunda pasti tidak akan setuju!”
ucapku.
“belum tentu, bisa jadi dari awal afzal berani main ke rumah,
ayah sudah minta dia untuk menikahi kamu!” ucap bunda sambil memencet hidungku
perlahan.
Kami tertawa bersama. Meskipun ayah sudah tidak ada di dunia
ini secara nyata, tapi kami merasa ia ada bersama kami. Ayah aku rindu!
***
Uhuk....uhuk....
Arien batuk-batuk tak berhenti. Setelah mendengar kabar
bahwa aku dan afzal akan menikah, bahkan sudah ada proses lamaran dan aku tidak
mengundangnya.
“GILA LO YA!” teriak arien.
“kalau aku gila, kamu apa? Sahabatnya orang gila dong!”
“terus kapan? Aku ngga boleh datang juga!” tanya arien.
“dua minggu lagi, sayang! Datanglah, tapi diam-diam aja
ya,ngga enak kalau yang lain tahu!” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata.
“pede aja, kalau yang lain tahu juga ngga akan peduli,
memangnya kamu selebriti!”
“Qay, kamu serius mau nikah? Kita masih muda! Kamu ngga mau
sayang qay kalau nikah terlalu cepat!”
“kalau matinya yang lebih cepat, bagaimana?”
“ih, aneh kamu mah! Lagi bicara nikah, tiba-tiba ke mati!”
ucap arien kesal.
“jodoh, maut, rezeki ngga ada yang tahu, rien! Kalau lagi
asyik pacaran terus mati, dosa siapa yang tanggung!”
“noh, nenek-nenek yang lagi Push up suruh tanggung jawab!”
ledek arien.
Aku hanya tersenyum. Aku dan arien melanjutkan langkah kaki
ke depan gerbang sekolah. Hari ini kami pulang lebih awal karena rapat guru. Arien
menghentikan langkah kakinya.
“Qay, itu Afzal kan?” tanya arien dengan pandangan mata ke
depan dan tangannya *** lenganku.
Aku menyipitkan mata, menyelidiki bahwa lelaki berkaos biru
dan celana jeans, lengkap dengan topi berwarna hitam itu adalah afzal.
“iya!” ucapku sesudah memastikannya.
“Qay dia ke sini bawa mobil? Gila mobil siapa itu, keren
parah!” tanya arien penasaran.
Afzal melambaikan tangannya setelah sadar bahwa kami sudah
ada di depannya tak jauh dari tempatnya berdiri. Aku membalas lambaian itu dan
tersenyum.
“cowok itu anak konglomerat rien! Papanya pemilik salah satu
mall di jakarta dan bisnis beberapa hotel di beberapa kota!”
“HAH! Ini lebih GILA LAGI! KOK KAMU....!”
“Aku juga baru tahu!” ucapku memotong amarah arien.
“hai, Rien!” sapa afzal ketika kami sudah dekat dengannya.
“jadi lo mau buat kejutan apalagi, Zal?” tanya arien
“maksudnya?” balas afzal bingung.
“pertama lo datang ke sini, tiba-tiba lo bilang qay adalah
cewek lo, yang kedua lo datang bonyokin si dewa sampai giginya rontok, dan
sekarang lo yang biasanya naik mobil angkutan datang dengan mobil sport edisi
terbatas!”
Afzal tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
“kalian benar-benar ya, bahkan sudah lamaran baru kasih
kabar!” ucap arien sambil berpindah berdiri di samping afzal.
“oke, marah-marahnya berhenti dulu! Gue mau ajak calon istri
gue pergi!” ucap afzal pada arien.
“ya sudah sana pergi, pakai izin lagi lo! Pangeran mah
bebas!” balas arien.
“pangeran....pangeran kodok, maksud lo!” ucap afzal sambil
tertawa.
Afzal membukakan pintu mobil, dan memastikan aku duduk
dengan nyaman. Setelah itu ia membawaku pergi. Dari kaca spion aku melihat
semua mata menatap kami. Mataku berpindah ke arah afzal, dasar pangeran kodok! Gerutuku
dalam hati.