Blind is Love

Blind is Love
Demi Kamu, ngga apa-apa Mama Menjadi Galak!



“I...ini artinya positif kan, de? Kamu hamil sayang?” ujarku dengan gagap karena bahagia.


Ketika aku memeluk Qay, ia berusaha melepasnya. Tetapi tenagaku berkali lipat lebih kuat datinya, hingga akhirnya ia pasrah menerima dekapanku.


“terima kasih, sayang! Alhamdulillah ya Allah!”


Kukecup keningnya berkali-kali. Tak kupedulikan reaksi penolakannya. Karena terlalu senang, wajah cemberut Qay pun terlihat cantik.


“Kamu tuh ngga peka banget ya! Kenapa kamu sesenang ini di saat aku merasa kebingungan?”


Ucapan Qay membuatku terdiam, mungkin dia dapat melihat perubahan pada ekspresi wajahku.


Hah... kutarik napas, sekali lagi berusaha memahami kondisinya. Mungkin ini salah satu hal yang terjadi pada seorang perempuan yang sedang hamil. Sabar...sabar.... gumamku dalam hati.


“apa yang buat kamu bingung, de?”


“kamu punya suami! Hamil kok bingung?” ucapku lagi setelah pertanyaanku tak dijawabnya.


“kuliahku nanti bagaimana?aku ngga mau kalau harus ngga kuliah! Aku mau kerja juga, ngga mau jadi ibu rumah tangga aja! Aku harus sekolah!”


Aku mencoba tersenyum, kutarik tangannya agar lebih mendekat. Qay aku dudukkan di tepi kasur, dan aku berpindah membungkuk di depannya. Kuangkat wajah Qay yang tertunduk, terdapat air yang menggenang di matanya, yang siap turun hanya dengan satu kedipan mata. Satu kali lagi kuberikan senyimsn terbaik yang kumiliki.


“siapa yang bilang kamu ngga bisa kuliah, kerja seperti yang kamu mau? Apa selama ini aku pernah bilang kalau kamu ngga boleh kuliah dan kerja?”


Qay tak menjawab, hanya menggeleng tanpa berani menatapku.


“kenapa kamu ngga pakai pelindung?kalau kamu tertib pasti ngga akan begini?!”


Mendengar ocehan Qay seketika aku tertawa terbahak- bahak. Melupakan bahwa saat ini aku menghadapi macan yang sedang ngambek. Tanpa kata, Qay memukul pundakku cukup keras, dan menyadarkan bahwa sikapku semakin menyulut amarah istriku tersayang.


“o...oke, maaf....maaf! Habisnya kamu lucu sih, tertib? Sudah kayak sopir angkutan aja disuruh tertib!” ucapku terbata-bata berusaha menghentikan tawa.


“ya...namanya juga hasrat sayang, kadang suka lupa! Lagian kamu juga masa ngga bisa bedain rasanya!”


“tuh, sekarang malah balik salahin aku!” ucap Qay semakin marah.


“ haha...haha...iya...iya ini salah aku, maaf ya!” ucapku masih berusaha menahan tawaku yang siap meledak lagi. Ya Allah, terima kasih! Kau hadirkan perempuan baik-baik sepertinya. Polos, lugu, dan menggemaskan.


Kutarik tangannya, hingga tubuhnya jatuh di atas pangkuanku. Secepat kilat kuikat tubuhnya dalam dekapanku. Kali ini Qay tidak melawan. Untuk beberapa detik, kami saling terdiam dengan pemikiran masing-masing.


“Qay, hilangkan semua kekhawatiran kamu ya! Ngga baik marah-marah, kasihan nanti dede bayinya ngga punya rambut!”


Qay melepaskan dekapan dan beranjak berdiri dihadapanku.


“kok ngga punya rambut?” ucapnya sambil tolak pinggang.


“ iya, mamanya suka marah-marah, kepala bayinya jadi panas, jadi rontok deh rambutnya!”


“ ngga lucu!” ucap qay, ketika ia berbalik dan akan melangkah pergi. Aku segera bangun dan memeluknya dari belakang. Sengaja dekapan tanganku ke arah perutnya. Kuelus pelan-pelan perut qay.


“hai bayi, ini papa! Kamu sudah sebesar apa di sana? Jangan nakal ya, biar mama ngga galak lagi!” ucapku pelan.


Qay terdiam membiarkan aku berkomunikasi dengan si bayi.


“mama itu senang kok ada kamu! Cuma mama bingung, nanti kamu capek ngga kalau mama sibuk kuliah?”


“makanya bayi, harus sehat dan kuat ya! Biar mama ngga kerepotan!”


Qay berbalik dan kami saling berpelukan. Ku elus punggungnya perlahan.


“kakak, bahagia ya? Aku juga senang, tapi....!”


Telunjuk yang menempel di bibir qay, membuatnya menghentikan kata-katanya.


Lagi-lagi Qay hanya mengangguk. Ia kembali mendekapku dengan erat.


***


“Apa??? QAY HAMIL!!!”


Teriak Arien setelah aku memberitahunya.


“ngga usah teriak kali sayang, iya bagus dong Qay hamil, berarti usaha si Afzal ngga sia-sia! Spermanya sudah teruji berarti!”


Arien menncubit lenganku dengan keras, hingga aku berteriak kesakitan.


Awwww......


Bukannya menghentikan cubitan, ia malah menyerangku dengan banyak cubitan. Kutangkap tangannya dan menarik ke dalam dekapanku, meskipun di kafe yang kami datangi banyak pengunjung, aku tak peduli. Setiap bertemu dengan arien hasratku sulit diajak kompromi.


Kami memang klop, bukannya melepaskan dekapan, arien justru menciumi pipiku berkali-kali, hingga membuatku melepaskan dekapan. Bukannya menyerah, hanya saja kami sedang di tempat umum, sejak tadi saja kami sudah menjadi tontonan.


Melihat ekspresiku, arien malah menjulurkan lidahnya, meledekku dan seolah mengatakan bahwa dia menang dan aku kalah.


“kapan kamu tahu Qay hamil? Kok lebih tahu kamu dibandingkan aku! Qay belum cerita apa-apa! Tapi aku sudah yakin terakhir kami ketemu kalau dia itu hamil, mual, pusing ngga berhenti-henti.” Ucap arien dengan sikap yang biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa dengan kami.


Aku pun ikut kembali duduk di sebelahnya.


“ harusnya, hari ini aku dan afzal ketemu buat tugas. Tapi tiba-tiba dia membatalkan dan bilang mau antar Qay cek ke dokter kandungan!”


“seru ya mereka, masih muda punya anak! Nanti kalau anak mereka gede, umurnya ngga akan terpaut jauh.”


“ arien mau kayak Qay?” tanyaku dengan nada meledek.


Arien menatapku serius.


“AM...BI...GU!” jawabnya dengan wajah kesal.


“loh kok ambigu? Tinggal jawab aja!” ucapku tak peduli wajah arien yang kesal.


Arien mendekatkan wajahnya, diadunya kepala kami, hingga aku spontan teriak kesakitan.


“makanya janga rese!” ucap arien, kemudian berdiri dan melangkah pergi meninggalkan aku yang sedang mengelus dahi yang terasa sakit.


“rien! Tunggu!” panggilku menahan sakit.


Aku mengikutinya yang berjalan cepat ke arah mobil. Sebelum ia membuka pintu, aku menghadangnya hingga ia tak bisa membukanya.


“kenapa ambigu?” tanyaku to the point.


“mau yang kamu maksud apa? Hamil atau nikah?” tanya arien tak kalah to the point.


“Aku terserah kamu, mau yang mana?” jawabku cepat.


“Aku....Ngga keduanya!”


Deg.


Aku terdiam, mulutku yang menganga sekejap menutup sendiri. Pantas arien marah, dia paling tidak suka membicarakan pernikahan, apalagi kehamilan. Aduh...aku lupa.


“oke maaf, aku bercanda! Ngga akan lagi bicara yang begini! Janji!” ucapku sambil mengangkat jari kelingking dan memasang wajah tersenyum sekuat tenaga. Untungnya amarah arien tidak besar. Sehingga permasalahan ini langsung selesai.


Tetapi kejadian ini membuatku semakin penasaran, kenapa arien begitu benci dengan pernikahan? Apa itu pertanda hubungan kami tak akan bisa ke hal yang lebih serius? Masa seumur hidup pacaran?