Blind is Love

Blind is Love
Cewek Mesum, Ngga Suci lagi



"Mama!!" suara teriakan itu begitu terdengar khas di telingaku.


aku pura-pura tak mendengar, tak pedulikan panggilan yang diulang-ulang itu. mulutku terus mengunyah mie ayam yang kubeli untuk mengisi perut di jam istirahat.


"Qay, itu si Afzal panggil mama ke kamu ya! " tanya ranum pura-pura tidak tahu.


aku hanya melirik sinis padanya dan ranum membalas dengan suara tawa yang renyah, membuatku semakin dongkol.


orang yang kami bicarakan tadi dengan cepat sudah berdiri disampingku.


"mama, makan mie ayam? " tanyanya sok imut.


"lapar ya? sampai lupa sama papa!!" suara kekehnya membuatku menghadapkan wajah ke dekatnya.


"zal, lo kenapa sih? bikin malu tau! sejak kapan gue kawin sama bapak lo?" ucapku kesal.


"loh, kalau kita nikahkan panggilannya mama papa? "


mendengar kalimat itu, aku langsung meletakkan sumpit dan menarik telinganya, Afzal berteriak kesakitan. semua orang di kantin memperhatikan kami, tapi aku tak peduli. sejak pertemuan kami di depan papan pengumuman , Afzal seperti petaka bagiku. tingkahnya membuat aku jadi salah tingkah sendiri.


Beberapa waktu lalu, setelah seminggu kami duduk di kelas IX. Tiba-tiba Ia menghampiriku dan duduk di kursi tepat di depanku. Aku hanya terdiam, mungkin dengan ekspresi wajah yang tak beraturan karena terkejut.


“cewek mesum!ternyata kita seangkatan ya! Hari ini kamu ngga bisa kabur” ucapnya penuh percaya diri.


“Nama aku, Afzal, Ketua OSIS terganteng dan terlucu. Pasti sudah kenalkan? Secara ketua OSIS.”


Aku masih terdiam, wajahnya memang tidak asing, tapi kami tidak saling kenal meskipun seangkatan. Aku juga tidak peduli, malas bergaul dengan manusia yang sok akrab ini.


“Nama kamu Qayyana Aqila, kelas IX A, hobi baca, dan ....”


“Hai, bapak ketua OSIS cukup ya perkenalan lo! Jangan buang waktu gue!”


Afzal hanya tersenyum mendengar kata-kata tak bersahabat yang aku lontarkan. Alis tebal, kulit putih, hidung mancung dan bibir tebalnya tak terlihat jelek di mataku. Ia terus tersenyum, tidak tersinggung dengan kata-kataku.


“cewek mesum, aku tahu kok kamu ngga suci lagi!!”


Kalimat yang afzal ucapkan membuat aku berdiri, menatapnya dengan kesal. Aku mengigit gigi sendiri untuk menahan marah. Bagaimana orang yang baru aku kenal ini bisa berkata yang tidak sopan seperti ini? “ngga suci”, “cewek mesum”, kalau orang mendengarnya, bisa-bisa aku dianggap cewek nggak benar.


“aku sering melihat kamu merangkul si Angga, bahkan kalian terlihat beberapa kali seperti berpelukan. Kalian saling menatap, bergandengan, dan membelai kepala satu sama lain. Apa namanya kalau bukan mesum?” celoteh afzal masih dengan ekspresi tersenyum.


Hmm, aku menghela napas panjang. Mencoba meredakan emosiku tadi, melayani cowok yang satu ini dengan emosi hanya akan menghabiskan energiku. Perlahan aku duduk kembali, kudekatkan wajahku ke wajahnya.


“hei, brengsek! Angga dan gue bersahabat sejak kecil. Semua yang kami lakukan tak ada hubungan dan urusannya dengan lo. Sekarang menyingkir dari sini, sebelum gue memukul lo.”


Afzal tidak merespon, diam dan tetap mengarahkan pandangannya ke wajahku.


Huhh, dia meniup lagi wajahku, seperti waktu kami pertama kali bertemu. Aku hanya mengedipkan mata dan berusaha mempertahankan ekspresi. Agar dia tahu aku benar-benar marah dan serius.


“oke, jadi Cuma sahabatan ya?”


“kalau begitu, sejak saat ini, afzal dan qayyana juga jadi sahabat!” ucap afzal seraya berdiri dan mengulurkan tangannya. Mengajakku untuk bersalaman.


Aku tak menggubrisnya, namun pandanganku tetap tertuju padanya.


“selama tangan ini kamu cuekin, aku ngga akan pergi dari sini!” kata afzal dengan posisi tangan yang sama sejak tadi.


Akhirnya, aku menyentuh tangannya. Semua aku lakukan agar orang ini segera pergi dariku. Perihal yang lain, aku pikirkan nanti saja. Mulai besok harus lebih waspada, sebisa mungkin tidak bertemu dengan cowok yang berkepribadian aneh seperti dia.