
Aku kembali aktif di sekolah. Ekskul pecinta alam tidak aku
tinggalkan. Aku justru ingin membuat suatu perubahan, memperlihatkan kepada
orang lain bahwa hijab tak menghalangi aktivitas. Setiap hari aku berlatih
untuk mengikuti seleksi atlet panjat tebing yang mewakili sekolahku.
Bunda tidak melarang, ia ingin aku kembali bangkit seperti
dulu. Ia ingin aku menjalani hidup dengan pilihanku sendiri. Selama itu tidak
bertentangan dengan agama, bunda akan selalu mendukung. Aku juga rajin menemani
bunda ke pengajian. Mendengarkan ilmu-ilmu yang disampaikan ustaz atau ustazah
membuatku semakin merasa tenang. Semakin menyakini bahwa semua yang terjadi
dalam hidupku atas izin Allah. Aku tak pernah sendiri, ada Allah.
Besok adalah hari terakhir kami latihan. Kebetulan bertepatan
juga dengan acara pensi di sekolah. Sudah tiga hari ini aku tidak bertemu
dengan arien dan ranum. Aku sibuk persiapan pertandingan, dan mereka sibuk
menjadi panitia pensi. Berbicara pensi aku jadi mengingat kembali saat aku
menari India di sekolah. Saat itu aku hanya menari dan tak menmikirkan malu
atau tidak. Kira-kira apa yang dipikirkan Afzal ya saat aku menari india? Atau malah
dia tidak tahu kalau aku pernah menari india di sekolah? Ah, mengapa jadi
kembali mengingat Afzal? Kepergian ayah membuatku lupa akan Afzal, Angga, atau
Kak Kenneth.
***
“Qay, tangan lo harus lebih direnggangin, usahakan kaki lo
harus lebih mencekeram saat injak point itu. Pandangan lo jangan sekali-kali ke
bawah, terus lihat atas, lihat puncak papan, bayangkan kepuasan yang lo dapat
kalau bisa sampai sana dengan cepat!” ucap Kak Naufal tanpa henti.
Ia adalah seniorku di pecinta alam. Orangnya sangat lucu dan
ramah, tapi kalau sudah latihan apalagi buat lomba, bisa berubah jadi macan,
galaknya minta ampun.
Point-point ayolah mendekat, mudahkan aku untuk menggapai
kalian dan memenangkan pertandingan besok. Supaya ayah dan bunda bangga. Sekolah
bangga. Teman-teman bangga.
Aku terus mengulang kalimat-kalimat itu dalam hati. Aku harus
memenangkan pertandingan ini. Ini adalah salah satu misiku, membuktikan bahwa
hijab tak mengalangi apapun.
Setelah sampai puncak. Aku memeriksa dulu carabiner antara
harness dan tali karmantel. Setelah kurasa aman, aku memberi kode bahwa aku
siap turun kepada Kak Naufal.
“Qay, waktu lo lebih cepat 0,15 detik dari kemarin. Ini termasuk
lumayan. Tapi gue yakin lo pasti bisa lebih bagus!” ucap Kak naufal setelah aku
sampai bawah.
Ia lalu memegang
kepalaku, mengusapnya seperti biasa. Aku tak mengelak karena mengganggapnya
sebagai kakak dan guru dalam pertandingan yang akan kuhadapi besok.
“ayo gue teraktir lo jajan di stand makanan! Tapi jangan
yang mahal-mahal ya!” kata-kata Kak naufal membuat kami saling tertawa. Hingga tawaku
berhenti ketika aku melihat seseorang yang kukenal. Dari jauh aku lihat dia
bersama arien dan ranum. Tapi tidak mungkin sosok itu dia- kan?
Cowok itu berseragam seperti pilot atau tentara. Berwana biru
muda, celana biru dongker. Lengkap dengan topi dan segala macam atribut di kedua
lengannya. Tubuhnya tinggi, dengan leher yang terlihat kekar. Itu ngga mungkin
Afzal-kan? Mau apa dia ke sini? Untuk apa dia di sini? Lagipula afzal memiliki
tubuh agak kurus, sedangkan dia memiliki dada yang bidang dan otot lengan yang
Mataku tak berkedip, bahkan tak menyadari kalau teman-teman
ekskul yang lain sudah akan pergi mengikuti kak naufal. Ada ranum juga di sana,
siapa ya cowok itu?
Aku melepas harness yang melingkar di pinggang. Merapikan carabinner
dan peralatan climbing yang lainnya. Hingga suara khas itu terdengar lagi di telingaku.
“Apa kabar, Qay?”
Deg ....
Deg ....
Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Aku menoleh ke
arah suara itu datang.
Ya, ini wajah Afzal yang kukenal. Meskipun kulitnya tidak
seputih dulu, tapi masih jauh lebih terang dari kulitku. Matanya masih indah
seperti dulu, alis tebalnya, senyumannya. Aku mundur tanpa disengaja dan hampir
jatuh karena kurang bisa menyeimbangkan tubuh. Afzal meraih tanganku. Menahanku agar
tidak jatuh. Posisi kami saling berhadapan. Begitu dekat. Tinggiku masih tetap
sedadanya.
Serrrr.....
Aliran darahku seperti bisa aku rasakan. Tubuhku menegang
karena rasa gugup. Entah ekspresi apa yang muncul di wajahku. Aku benar-benar tidak
percaya. Laki-laki yang tidak mengabariku selama 6 bulan tiba-tiba muncul di
hadapanku dengan sangat tampan. Seragam pelautnya semakin melengkapi
ketampanannya.
“A...A....Afzal!” ucapku terbata-bata.
Dia tersenyum. Senyuman yang begitu manis. Senyuman yang
begitu aku rindukan. Melihat senyumannya membuatku seakan berada di masa putih
biru.
“KAKAK!!!” Ucapnya sambil mengelus kepalaku yang kini sudah
tertutup hijab.
Dia menatapku. Tak berkedip. Tersenyum kembali. “ADE CANTIK!”.
Kini giliran aku yang tersenyum. Hanya bisa diam mematung. Bingung.
Kaget. Takut ini hanya mimpi.
“eh, sampai kapan mau tatap-tatapannya?”
Pertanyaan ranum membuatku sadar, bahwa cowok ini
benar-benar Afzal.
“kalian dilihatin orang-orang tuh, jangan bikin drama lo zal
di sekolah gue!” ucap ranum dengan nada meledek kami.
Aku mundur sedikit, mengubah posisiku agak menjauh dari
afzal.
Arien mendekat pada kami. Ia menggandeng tangan Afzal. Seketika
aku terkejut melihat pemandangan itu. Namun berusaha untuk mengontrol diri
karena aku tak mau ranum tahu hubunganku dengan afzal saat SMP.
“Arien, Ranum, kenalkan ini pacar gue, Qayyana Aqila!” ucap
Afzal sambil melepaskan tangan arien, dan berpindah mendekatiku dan merangkul
pundakku.
Semua orang membuka mulutnya karena kaget, termasuk aku. Tidak
menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Afzal di hari pertama kami bertemu
kembali setelah 6 bulan.
Hai readers, bagaimana nasib arien ya? Bagaimana juga
kelanjutan hubungan Qay dan Afzal? Jangan bosan baca ya dan ikuti terus setiap
episodenya. Terima kasih.