
Tubuh kak Ghisa semakin melemah, sudah tiga hari ia di
rumahku. Aku tak mau berurusan dengan Kak
Naufal, kalau aku memberitahunya bahwa
Kak Ghisa ada bersamaku, aku takut
justru kondisi semakin rumit.
"Qay, tolong
nak! " teriak bunda dari dalam kamarku.
Aku segera berlari dan membuka pintu kamar.
"Darah nak, Ghisa harus kita bawa ke dokter! "
"i... Iya bun! " jawabku gugup dan panik.
Aku segera keluar memanggil tetangga yang memiliki mobil
untuk mengantar kami ke rumah sakit. Semakin hari kondisi kak ghisa memang memburuk, tetapi ia selalu menolak diajak ke rumah
sakit.
Sesampainya di rumah sakit kami menunggu di luar ruangan
atas permintaan suster. Dengan terpaksa
aku mengirim pesan pada kak naufal, bagamanapun ia harus tahu kondisi ini. Tidak sampai 20 menit kak naufal sudah tiba, ia kelihatan bingung, mungkin dia heran
alasan apa yang membuatku mengajaknya bertemu di rumah sakit.
"siapa yang sakit, Qay?" tanya kak naufal setelah
melihatku dan bunda.
"tiga hari yang lalu kak ghisa datang ke rumah dengan
kondisi yang lemas. Dia bercerita bahwa sejak lahir dia adalah yatim piatu. Dengan kondisi dia, bagaimana aku bisa membiarkan dia
pergi?"
Kak naufal terdiam. Tanpa respon. Wajahnya tertunduk, sehingga aku tak dapat melihat ekspresinya.
"sejak awal, bunda dan aku mengajak untuk ke rumah sakit, tapi dia tidak mau. Dan sore ini, banyak
darah keluar dari tubuhnya. Sekarang ada
di dalam sedang ditangani dokter! "
Kak naufal masih terdiam. Membuat kepalaku terasa
mendidih, dadaku bergetar menahan
marah. Laki-laki macam apa makhluk di
depanku ini? Hanya diam seeperti patung.
"kak naufal, jawab
dong! "
Dia mulai mengangkat wajahnya. Matanya merah dan berkaca-kaca.
"gue ngga ada hubungannya sama masalah ini? "
Ucapan kak naufal membuatku ingin memukulnya, jika bukan di
rumah sakit, kata-kata cacian dan makian
akan kuteriakkan padanya.
"maaf! Siapa
keluarga nona ghisa? " tanya seorang suster yang keluar dari ruang
tindakan.
"saya suster! " jawab bunda.
"ibu, maaf
kondisi bayi lemah, ada kelainan
plasenta. Kehamilan ini bisa saja kita lanjutkan tapi berisiko terhadap kondisi
ibunya yang memang memiliki anemia akut! "
"apa saya bisa bicara dengan anak saya?" tanya
bunda
"silakan ibu ikut saya! " ajak suster.
Ketika mereka pergi, aku langsung tidak peduli.
Plak.....
Aku daratkan telapak tanganku ke pipi kak naufal. Berharap
dia akan segera sadar, dan bersikap
seperti lelaki sejati, yaitu
bertanggungjawab.
"lo dengar? Kondisi mereka bagaimana? Oke kalau lo masih mau bilang itu bukan urusan
lo, mulai hari ini jangan pernah muncul
di hadapan gue lagi! "
Aku tak lagi menggunakan aku kamu. Lelaki brengsek seperti dia tidak pantas
dihormati.
"seandainya perempuan yang lagi di dalam itu adik
lo, atau kakak lo, atau bahkan anak
perempuan lo bagaimana? Ingat ya
naufal, Allah itu adil! "
Air mata kak naufal berjatuhan, tiba-tiba ia jatuh berlutut di
intim dengan banyak perempuan? Ke mana
akal sehatnya saat banyak sperma ia sumbangkan? dia selalu bilang cewek-cewek itu yang bodoh dan mau melakukan
dengannya. Padahal otaknyalah yang kosong karena mengedepankan nafsu daripada
akal sehat.
"Qay! " panggil bunda di depan ruang tindakan. Aku
berjalan ke arah bunda dan meninggalkan kak naufal yang masih menangis.
"ghisa, tetap
ingin hamil, dia bilang jika nantinya
dia harus mati tidak masalah. Dia takut
bertambah dosa jika menghilangkan bayi yang tidak bersalah itu! "
Aku berbalik lagi ke arah kak naufal.
"LO DENGAR? DIA
NGGA SEBAJINGAN LO! " teriakku kasar.
"gue mau ketemu dia! " ucap kak naufal terbata
karena menangis. Ia berdiri dan berjalan perlahan ke arah kami.
"buat apa? " tanyaku kasar. "lo mau maksa dia
buat gugurin anak itu! "
"gue mau minta maaf!" ucap kak naufal dan melangkah
ke dalam ruang tindakan.
Bunda memegang erat lenganku, dan memberi isyarat agar aku
diam. Kami biarkan mereka bertemu dan bunda mengajakku untuk duduk.
"biar mereka yang ambil keputusan, kita jangan ikut campur! " ucap bunda
sambil mengelus kepalaku.
Setelah beberapa menit, dengan mata yang sembab kak naufal keluar dan menemui kami.
"bunda, mohon
maaf saya belum memperkenalkan diri. Nama saya naufal, kakak kelas
Qay! Saya sudah bicara dengan
ghisa, kami sepakat akan menjaga anak
ini, tapi saya minta waktu untuk
memberitahukan keluarga saya. Kalau saya
boleh minta tolong, bunda bisa jaga ghisa
sampai orang tua saya tahu!" ucap kak naufal.
"bisa nak, tapi
boleh tau berapa lama? Ngga baik kalau
terlalu lama, perut ghisa akan semakin
besar! "
"minggu ini akan saya kabari, bunda! Terima kasih! "
"satu syaratnya, lo boleh datang ke rumah untuk menemui kak ghisa saat gue ngga di rumah!
" ucapku memotong pembicaraan antara kak naufal dan bunda.
"iya, Qay! Terimakasih! "
Setelah itu, kak
naufal pamit dan pergi. Aku bersyukur
kondisi ini membawa jalan keluar bagi masalah mereka. Setidaknya kak naufal bisa sedikit
bertanggungjawab. Aku dan bunda menemui Kak Ghisa. Saat melihatku masuk dengan
wajah pucatnya Ia masih memaksakan diri untuk tersenyum padaku. Aku menggenggam
tangannya.
“terima kasih, Qay! Dia bilang gue harus hidup untuk merawat
anak kami! Dia bilang, dia tidak ingin adik perempuannya akan bernasib seperti
gue! Sekali lagi terima kasih, Qay!” ucap Kak Ghisa pelan.
Air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Tangannya berusaha
meraih tangan bunda. Dengan cepat bunda menyambutnya, dan mengelus kepalanya.
“Kuat nak, demi bayi kecil dalam rahimmu! Di luar sana
banyak perempuan yang menginginkan dianugerahi sebagai seorang ibu, Allah tidak
akan menakdirkan hal buruk dalam hidup manusia. Semua hal yang terjadi,
semata-mata agar kita selalu mengingat-NYA. Jangan pernah merasa sendiri, sebab
Allah adalah sebaik-baiknya penjaga kita!”
Kalimat yang disampaikan Bunda membuat Kak Ghisa semakin
menangis. Entah apa yang ia rasakan saat ini? hamil di luar pernikahan, hidup
sebatang kara, dan sempat mendapatkan penolakan dari laki-laki yang ia cintai. Terkadang
aku merasa Allah seperti membutakan batin dan akal sehat seseorang, sehingga
orang tersebut tetap menerima dan mencintai seseorang lainnya meskipun ia telah
dengan sangat jelas dicampakkan, disakiti, dan dikhianati.