
Bel tanda siswa diizinkan untuk pulang telah berbunyi. Aku
segera merapikan buku-buku bergegas pulang. Hari ini janji menemani bunda ikut
kajian rutin. Aku memutuskan untuk melaksanakan shalat ashar di rumah saja.
Lagipula arien tidak masuk hari ini dan aku takut kalau kak naufal masih
mencariku. Jika bertemu lagi dengannya ingin sekali aku ludahi wajahnya.
Ketika turun dari angkutan umum di depan gang, Aku melihat kak Ghisa berdiri menungguku.
“dari mana dia tahu rumahku? Dan untuk apalagi ia
mencariku?” ucapku dalam hati.
“maaf kak, tapi aku sama kak naufal Cuma teman dan masalah
ini ngga ada hubungannya denganku!” ucapku tanpa basa-basi ketika kami
berhadapan.
“aku yatim piatu, Qay! Selama ini aku Cuma hidup sendiri,
aku terpaksa kerja di bar untuk makan. Tapi aku baru melakukan ini dengan
naufal. Ini anak naufal Qay!” ucap Kak Ghisa dengan air mata yang berurai.
Ucapannya mengingatkan aku dengan Ranum, sahabat baikku yang
juga yatim piatu.
“oke kak, jangan nangis ya, aku ngga mau orang salah paham.
Kita ke rumah yuk, biar lebih enak bicaranya. Lagipula kakak jangan terlalu
banyak berdiri, kasihan dede bayinya!”
Kami berjalan menuju rumah, aku memapahnya. Dengan
menyentuhnya, aku tahu cewek ini sangat rapuh. Badannya terlihat lemas. Matanya bengkak karena menangis.
Bunda membantuku memapah kak ghisa ke kamar. Dengan sigap
bunda mengelap wajah kak ghisa yang pucat dengan saputangan diberi air hangat.
Setelah menyuapi beberapa sendok nasi dan teh manis hangat, bunda meminta Kak
Ghisa untuk istirahat. Ia sama sekali tidak bertanya, siapa kak Ghisa? Apa yang
terjadi padanya? Bunda menolongku merawat kak Ghisa yang lemah tanpa bicara.
Kami meninggalkan Kak Ghisa yang tertidur.
kalau tahu dia temanmu sudah bunda ajak ke rumah!” ucap bunda setelah kami
duduk di ruang tamu.
“Qay baru kenal dia, Bun! Temannya teman Qay!”
“kok nunggu kamu? Terus pucat dan lemas begitu!”
“hamil 7 minggu, Bun! Yatim piatu!”
“Astagfirullah!” ucap bunda tanpa sadar menutup mulutnya
karena kaget.
“teman Qay belum mau tanggung jawab!”
“Ya Allah, zaman sudah menggila ya, Qay! Kita tolong dia ya,
Qay! Kasihan!”
Aku hanya mengangguk kemudian melamun karena bingung.
Manusia diberi akal sehat agar dapat membedakan benar dan
salah, agar mengetahui baik dan buruk, agar dapat memberi manfaat bagi makhluk
Allah yang lain, tapi pada kenyataannya akal mereka hilangkan dan nafsu yang
mereka pertahankan. Kalau sudah begini, menyesal pun tak akan ada artinya.
Mengapa mereka mengumbar nafsu? Membiarkan nafsu
mengendalikan mereka. Bersikap lebih hina daripada binatang. Melupakan adab dan
agama. Seks bebas, pornografi, gaya pacaran yang di luar batas, ketika sudah
ada benih, mereka cuci tangan, seolah tidak bersalah, seolah ini kekhilafan,
dan berharap terselesaikan tanpa mau bertanggungjawab.
Ah...Qay, bagaimana dengan kamu? Sok suci! Mana ada pacaran
yang bersih, semua pacaran itu mengarahkan diri ke perzinahan. Dengan memandang
afzal saja aku sudah melakukan zina mata, aku pun sama dengan mereka buta
karena cinta. Diperbudak oleh cinta.
Aku mengambil HP, dan mengirim pesan pada Afzal.
KAMU PILIH PUTUS ATAU MENIKAHI AKU?