Blind is Love

Blind is Love
Budak Cinta



Bel tanda siswa diizinkan untuk pulang telah berbunyi. Aku


segera merapikan buku-buku bergegas pulang. Hari ini janji menemani bunda ikut


kajian rutin. Aku memutuskan untuk melaksanakan shalat ashar di rumah saja.


Lagipula arien tidak masuk hari ini dan aku takut kalau kak naufal masih


mencariku. Jika bertemu lagi dengannya ingin sekali aku ludahi wajahnya.


Ketika turun dari angkutan umum di depan gang,  Aku melihat kak Ghisa berdiri menungguku.


“dari mana dia tahu rumahku? Dan untuk apalagi ia


mencariku?” ucapku dalam hati.


“maaf kak, tapi aku sama kak naufal Cuma teman dan masalah


ini ngga ada hubungannya denganku!” ucapku tanpa basa-basi ketika kami


berhadapan.


“aku yatim piatu, Qay! Selama ini aku Cuma hidup sendiri,


aku terpaksa kerja di bar untuk makan. Tapi aku baru melakukan ini dengan


naufal. Ini anak naufal Qay!” ucap Kak Ghisa dengan air mata yang berurai.


Ucapannya mengingatkan aku dengan Ranum, sahabat baikku yang


juga yatim piatu.


“oke kak, jangan nangis ya, aku ngga mau orang salah paham.


Kita ke rumah yuk, biar lebih enak bicaranya. Lagipula kakak jangan terlalu


banyak berdiri, kasihan dede bayinya!”


Kami berjalan menuju rumah, aku memapahnya. Dengan


menyentuhnya, aku tahu cewek ini sangat rapuh.  Badannya terlihat lemas. Matanya bengkak karena menangis.


Bunda membantuku memapah kak ghisa ke kamar. Dengan sigap


bunda mengelap wajah kak ghisa yang pucat dengan saputangan diberi air hangat.


Setelah menyuapi beberapa sendok nasi dan teh manis hangat, bunda meminta Kak


Ghisa untuk istirahat. Ia sama sekali tidak bertanya, siapa kak Ghisa? Apa yang


terjadi padanya? Bunda menolongku merawat kak Ghisa yang lemah tanpa bicara.


Kami meninggalkan Kak Ghisa yang tertidur.


kalau tahu dia temanmu sudah bunda ajak ke rumah!” ucap bunda setelah kami


duduk di ruang tamu.


“Qay baru kenal dia, Bun! Temannya teman Qay!”


“kok nunggu kamu? Terus pucat dan lemas begitu!”


“hamil 7 minggu, Bun! Yatim piatu!”


“Astagfirullah!” ucap bunda tanpa sadar menutup mulutnya


karena kaget.


“teman Qay belum mau tanggung jawab!”


“Ya Allah, zaman sudah menggila ya, Qay! Kita tolong dia ya,


Qay! Kasihan!”


Aku hanya mengangguk kemudian melamun karena bingung.


Manusia diberi akal sehat agar dapat membedakan benar dan


salah, agar mengetahui baik dan buruk, agar dapat memberi manfaat bagi makhluk


Allah yang lain, tapi pada kenyataannya akal mereka hilangkan dan nafsu yang


mereka pertahankan. Kalau sudah begini, menyesal pun tak akan ada artinya.


Mengapa mereka mengumbar nafsu? Membiarkan nafsu


mengendalikan mereka. Bersikap lebih hina daripada binatang. Melupakan adab dan


agama. Seks bebas, pornografi, gaya pacaran yang di luar batas, ketika sudah


ada benih, mereka cuci tangan, seolah tidak bersalah, seolah ini kekhilafan,


dan berharap terselesaikan tanpa mau bertanggungjawab.


Ah...Qay, bagaimana dengan kamu? Sok suci! Mana ada pacaran


yang bersih, semua pacaran itu mengarahkan diri ke perzinahan. Dengan memandang


afzal saja aku sudah melakukan zina mata, aku pun sama dengan mereka buta


karena cinta. Diperbudak oleh cinta.


Aku mengambil HP, dan mengirim pesan pada Afzal.


KAMU PILIH PUTUS ATAU MENIKAHI AKU?