Blind is Love

Blind is Love
Ranum



Seminggu sudah berlalu. Ranum masih tak bisa dihubungi. Ibu panti


asuhan tempat Ranum tinggal juga tak mau memberitahu di mana ranum sekarang. Jujur


aku tak bisa konsentrasi sekolah. Sebelum ranum ketemu, aku belum tenang.


“Qay, si dewa diskorsing seminggu, lo sudah tahu?” tanya


arien yang tiba-tiba duduk disampingku.


“ringan banget! Seharusnya di DO dia, manusia terkutuk!”


jawabku kesal.


“gue puas banget waktu Afzal pukulin dia, bagus Cuma rontok


6 tuh giginya dia! Kalau lo ngga dateng bisa operasi plastik tuh si dewa karena


Afzal!” ucap arien sambil terkekeh-kekeh.


“kenapa lo cerita ke afzal?” tanyaku penasaran.


“dia tuh Cuma butuh gue, saat lo ngga bisa dihubungi atau


kalian lagi ngga jelas , terus ngga mau komunikasi! Setiap jam, si Afzal chat


gue tanya Qay lagi apa, sama siapa sibuk apa! Ribet lo berdua! Lo ditampar, gue


ngga kasih tau, salah-salah si Afzal ngamuk sama gue!”


Mendengar ocehan arien membuatku tersenyum. Ah, rupanya


selama sebulan dia tidak menghubungiku, mencari info tentangku ke arien. Afzal,


kalau bukan karena sikap dan sifat kamu, mungkin aku akan total berhijrah. Aku ngga


tega putus sama kamu. Kamu terlalu baik.


“Qay, cerita dong ke gue, peluk afzal apa rasanya?” tanya


arien sambil merangkul pundakku.


“apaan sih, Rien? Jangan kotor mulu sih otaknya! Rasa apa


lagi? Rasa jambu atau mangga!” jawabku sambil melepaskan tangannya dari


pundakku.


“Afzal kan badannya bagus, Qay! Mukanya ganteng, aduh macho


deh pokoknya!”


“macho? Mantan copet!” ucapku sok jutek.


Arien malah mencubit pipiku. Kemudian ia bangun dan


melangkah pergi.


“mau kemana, rien?”


“cari cowok kayak Afzal, lumayan buat dipeluk!” ucapnya


sambil melangkah centil.


“SINTING!” teriakku.


TRINGGG.....


Bunyi pesan masuk.


“maafin aku Qay, selama ini banyak ngga jujur sama kamu. Dewa


“Qay, dari kecil aku ngga tahu siapa orang tua aku? Aku selalu


tanya, mengapa mereka tega membuangku? Bahkan ngga ada yang mau adopsi aku,


makanya aku masih terus tinggal di panti asuhan.”


“aku butuh uang. ngga mungkin terus bergantung ibu panti. Aku


sudah jual diri sejak kelas VIII. Aku ngga tahu harus kerja apa biar dapat uang


untuk bantu ibu panti. Tapi sejak kita akrab, ayah dan bunda kamu juga sayang


sama aku, aku mulai berhenti Qay. Aku memilih jual barang kosmetik online, walau


uang yang didapat ngga sebesar pekerjaanku yang lama. Aku senang Qay, kamu dan


keluarga kamu terima aku.”


“masuk SMA aku pikir bisa benar-benar mulai kehidupan baru. Saat


Dewa mendekati aku, aku pikir dia tulus. Semua yang dia minta aku kasih. Toh,


aku juga sudah biasa jual diri. Buat apa pelit sama pacar sendiri. Tapi ternyata,


dia tega diam-diam memvideokan dan menyebarkan ke teman-teman yang beda


sekolah. Rasanya mau mati Qay. Malu!!!”


“Qay, aku tiba-tiba keinget kata-kata ayah kamu. “sebelum


hujan turun, ada panas yang membakar kulit. Sebelum muncul pelangi yang indah,


ada hujan yang turun dengan derasnya. Sebelum ada tanah yang subur, kadang bumi


harus dialiri lava yang panas dari meletusnya gunung berapi” artinya, setiap


ada hal yang buruk atau ngga enak pasti akan diakhiri dengan kebahagiaan. Aku ngga


mau menyerah Qay! Aku mau kuat!”


“sekarang aku di Malang Qay, aku kerja di sini. Bantu-bantu


cuci piring dan beres-beres meja bangku bekas orang makan. Aku nanti  ikut sekolah kesetaraan Qay, buat dapat


ijazah SMA. Setelah semua membaik kita pasti ketemu. Salam buat Bunda ya Qay. Jangan


balas pesan ini. Aku langsung nonaktifkan soalnya. Aku sayang kamu!”


RANUM!!!


Aku hanya bisa menangis. Aku bukan sahabat yang baik. Seharusnya


aku bisa jadi tempat curhat kamu. Seharusnya kamu ngga menanggung ini semua


sendiri.


Tuhan punya cara berbeda menunjukkan kasih sayang kepada


setiap hambanya. Aku yakin semua yang terjadi pada Ranum, karena Tuhan ingin


Ranum menjadi lebih baik. Tuhan masih melindungi Ranum dari laki-laki tidak


bermoral seperti Dewa. Jika dia tidak mengalami ini, mungkin akan ada hal yang


lebih buruk lagi.


RANUM HARUS KUAT. AKU TUNGGU KAMU, NUM!