
Hari-hari berlalu lagi tanpa Qay. Kepulangan qay ke rumah bunda , mengharuskannya tetap di sana. Bunda terpeleset di kamar mandi. Pergelangan kakinya terkilir, hingga sulit beraktivitas sendirian. Terkadang ingin ku buang kertas-kertas laporan yang harus selesai ini. Pergi ke tempat istri tercintaku berada.
Malam penuh gairah itu belum dapat kuulang lagi, namun apa daya, semua yang kulakukan kini juga demi masa depan kami. Bagaimana bisa yudha menghabiskan satu malam dengan seorang perempuan kemudian dia lupakan perempuan itu? Aku merasa ketika hubungan sudah terjalin lebih intim maka akan semakin sulit jauh dari perempuan itu. Seperti sekarang, sulit rasanya melewati hari tanpa Qay.
Brakkk.....
Tumpukan kertas yang kupegang terjatuh. Beberapa lembar tercecer, tak rapi lagi.
Ck.... aku berdecak kesal! Nambah kerjaan aja, aku bergumam sendiri.
Plok....
Seseorang menyentuh punggungku dari belakang.
“Sudah pulang sana! Biar gue dan anak- anak yang selesaikan!” ucap yudha Setelah memukul punggungku.
“pulang? Belum waktunya kali!”
“ketemu bini lo maksud gue!” ucap yudha memperjelas.
“ tinggal dikit mah, gue, davin dan yang lain bisa, zal!”
Aku masih diam, sibuk merapikan kertas yang tercecer tadi.
“lagi pula semenjak mertua lo jatuh,nlo belum ke sana kan?”
“bunda yang nyuruh w jangan pulang, harus tetap fokus sama sekolah!”
“iya, tapi ini sudah lewat seminggu coy! Sudah nurut, pulang sana! Kasihan si Qay sawahnya kering!”
Aku tersenyum, paham dengan maksud ‘sawah kering’. Itu perumpamaan yang kami dengar saat makan di warteg bersama beberapa sopir truk. Mereka menyebut istri mereka sawah kering karena sudah lama tidak pulang ke rumah dan memberikan nafkah batin.
Tring....tring....
Bunyi notifikasi pemberitahuan WA masuk. Kulihat sekilas di layar undangan reuni dari grup alumni SMP. Saat membuka, terlihat daftar nama yang bersedia hadir. Salah satu nama tertulis ‘Qay’. Aku mengernyitkan dahi, memastikan benar tidak jika itu nama istrinya.
Tiba-tiba panggilan masuk dari ‘istriku’, nama qay yang tertulis dalam kontakku.
“Assalamualaikum kak! Sibuk ngga?” sapa Qay dengan suara yang manja.
“ walaikumsalam de, buat kamu mah, sesibuk apapun tetap aku angkat!” jawabku tak kalah manja.
Terdengar tawa qay pelan.
“Bunda bagaimana? Sudah baikkan?”
“alhamdulillah sudah bisa jalan sendiri meski dibantu tongkat! Kakak gimana, sehatkan?”
“ngga! Lagi meriyang!”
“hah...serius! Kok ngga kasih kabar!” ucap qay dengan nada panik.
“meriyang, merindukan kasih sayang!” ucapku sambih cengengesan.
“dasar, garing tau!” balas qay.
“kak maaf, tadi ada undangan reuni, aku lupa belum izin ke kakak, sudah jawab iya ke panitia! Jadi aku izin ikut ya?”
Aku tersenyum. Kupikir Qay tidak menghargai aku, karena akan pergi ke acara tanpa izin terlebih dahulu. Ternyata dia tetap istriku yang sholeha.
“Bunda aman, kok! Terima kasih suami yang ganteng! Muach....!”
“karena ada maunya, baru deh manja!” ucapku sebelum menutup panggilan.
***
Terakhir ke sini itu saat ambil ijazah. Berarti sudah hampir tiga tahun. Suasana hampir tak berubah hanya warna cat saja yang berganti. Mulai dari gerbang mengingatkan pada afzal, lelaki unik yang kini menjadi suamiku. Setiap jalan kususuri perlahan. Setiap sudutnya mengingatkanku pada masa putih biru. Saat masih ada angga di dekatku, sahabat yang sudah lama tak kudengar kabarnya, apalagi sejak hubunganku dan afzal semakin dekat.
Acara reuni ini sengaja diadakan di sekolah. Panitia penyelenggara beranggapan suasana masa sekolah akan lebih terasa. Ketimbang menyewa gedung atau restoran. Sebuah aula di dekat masjid sekolah jadi lokasi pertemuan kami. Hari ini aku datang tanpa afzal, tanpa ranum, tentu terasa ada yang hilang. Apalagi jika mengingat sahabatku, ranum, aku merindukannya. Keceriaan yang selalu menyambutku saat datang semasa sekolah dulu.
Suara sayup-sayup vokalis band yang terkenal sepanjang masa terdengar pelan di telinga. Suara Duta ‘Sheila On 7’ memang selalu gurih, siapapun yang mendengar pasti akan selalu menyukainya. Lagu-lagunya mengena di hati, banyak yang booming dan menjadi lagu kenangan.
Aku melewati gedung berlantai dua itu. Tempat yang menjadi saksi bisu keisenganku kepada Afzal. Hehehe....seketika aku terkekeh, malu jika mengingat nekadnya kelakuan meminta afzal menjadi pacar. Tapi hal itu tidak kusesali, kini kami bahagia. Bersamanya semua terasa sempurna.
Kau begitu sempurna....
Di mataku kau selalu indah....
Kau membuat diriku akan selalu memujamu.
‘sempurna’ dari Andra and the backbone menandakan ada panggilan masuk di handphoneku. ‘suamiku’ tertulis di layar.
“Assalamualaikum, kak!” sapaku mesra, menghentikan langkah dan duduk sejenak di sebuah kursi di bawah pohon taman sekolah.
“walaikumsalam, de! Sudah sampai?”
“sudah, lagi nostalgia nih sendirian!”
“makin kangen aku dong!”
“geer ya, Anda! Kamu lagi apa?”
“eh, de maaf! Telepon kakak tutup dulu, ada panggilan darurat!”
Tut.....
Belum sempat kubalas, telepon sudah tertutup. Hem..... aku rindu, Zal!
Kusandarkan kepala pada kursi di bawah pohon nan rindang ini. Aku masih nyaman duduk di sini. Rasanya kaki engggan berjalan ke aula. Di dalam sana tak ada yang kurindukan. Kupejamkan mata sesaat. Wajah afzal dan ranum berseliweran di dalamnya. Aku menarik napas panjang. Hemmm.... aku merindukan mereka.
“Qay!!”
Aku menoleh ke sumber suara.
“kamu Qay, kan!”
Aku mengernyitkan dahi. Kemudian, senyum pun terkembang di bibirku.
“Angga!!!”
Panggilku setengah berteriak.
Brughh....
Angga langsung memelukku tanpa permisi. Aku diam terpaku.
Main peluk aja si angga, gimana kalau si afzal lihat? Kira-kira ada cerita apa ya di acara reuni? Kepo ngga nih? Kalau kepo jangan lupa komentar dan like nya ya!!