
Malam ini cuaca menjadi lebih dingin. Hujan yang tanpa sadar terus turun, kadang deras, kadang rintik-rintik. Udaranya yang sejuk serta bau tanah basah yang menenangkan membuatku memilih untuk membuka jendela kamar, membiarkan anugerah bumi ini dinikmati. Ada senyum tipis muncul di wajahku, saat melihat kelakuan istri yang paling kucintai. Sejak tadi, Qay naik turun alat penimbang berat badan. Sesekali tangannya di pinggang, lalu mengelus perut sambil berkaca, dan kadang- kadang menggaruk kepalanya diiringi dengusan kesal dari mulutnya.
“Kenapa kakak bisa duduk santai sambil baca buku dan senyum-senyum begitu?”
Aku malah semakin melebarkan senyuman.
“Ih....Kakak, kok malah ketawa sih! Jangan bikin aku tambah kesel deh!”
“Ya, kakak aneh aja sama kamu, de! Orang senyum kok diomelin!”
“Harusnya kakak tuh tanya, aku lagi ngapain! Ngga tahu apa aku lagi kesel!”
Aku beranjak dari kasur, berjalan mendekati istriku yang paling cantik. Sejak hamil entah mengapa, Qay semakin terlihat cantik dan sexy.
“Kakak bukan Deni Darko atau mbah mijan, mana bisa tahu isi hati kamu?”
“hahaha....garing....!” ucap Qay dengan nada kesal.
“Enak dong garing, krenyes...krenyes!”
Ucapanku malah dibalas dengan mata Qay yang melotot kesal.
“Kamu jangan aneh-aneh ya, jangan mentang-mentang aku tambah gendut, kulit aku kusam, semua-semua melebar.”
“Aneh-aneh gimana sih de? Kakak dari tadi Cuma duduk baca buku kok dibilang aneh-aneh!”
“nanti kalau kamu sudah berlayar ketemu cewek-cewek cantik harus ingat sudah punya istri dan anak. Bukan aku yang ngga bisa merawat diri, tapi kalau hamil ya jadinya begini, apalagi kalau sudah melahirkan! Semuanya jadi berubah, ada selulit, kulit kendor, badan berlemak di mana-mana, tapi kamu ngga boleh jadiin alasan buat selingkuh, buat ngga setia!”
Kudekap tubuh Qay dengan lembut, kukecup pundaknya dengan manja. Qay hanya terdiam, seolah menikmati sentuhanku.
“Jangan pengalihan isu ya!”
Ucapan Qay sontak membuatku terkekeh, dengan lembut kuputar tubuhnya dan kupeluk.
“Apapun bentuk aku nanti, jangan pernah berubah ya!”
“kamu kebanyakan nonton sinetron catatan harian ibu-ibu di indosiar, makanya jadi nethink aja bawaannya!”
“catatan hati seorang istri, bukan ibu-ibu!” ucap Qay merajuk.
“Ya, kan yang nonton kebanyakan ibu-ibu!” balasku tak mau kalah.
“terus kalau ibu-ibu, kenapa? Jelek gitu?”
“De, apapun bentuk kamu nanti, mau bulat, mau lonjong, mau kotak, kakak akan tetap sayang!”
“Serem kali kalau bentuk aku kotak!”
“kakak janji, Cuma akan membagi cinta dan sayang kamu ke anak-anak kita. Kehadiran dede memenuhi setiap tempat di hati kakak. Ngga ada celah sedikitpun untuk orang lain.”
Mata sendu Qay menatapku lembut, dari sana aku dapat melihat rasa sayang dan harapan yang begitu besar.
Qay, buat aku, cukup kamu yang ada. Aku ngga butuh perempuan manapun, buatku kamu yang paling sempurna, sejak kita bertemu sampai nanti kita dipisahkan oleh Tuhan.
***
Arien tak mengalihkan pandangannya dariku. Tangannya masih erat menggenggam tanganku. Senyumannya tak sedikit pun menghilang, ah, pelangi pun minder melihatnya.
Sejak kejadian panas di kamar kemarin, kami semakin dekat, semakin memahami isi hati masing-masing. Semuanya biarkan mengalir, tak harus dipaksa, berjalan sebagaimana mestinya. Aku ingin menjaga Arien, sampai Tuhan menyatukan kami dalam pernikahan, walaupun untuk ke tahap itu butuh waktu yang lama. Karena arien butuh waktu mengubah prasangkanya tentang ikatan pernikahan.
“Kapan kita ketemu lagi?” tanya arien dengan nada suara yang manja.
“kapan pun kamu mau, aku siap datang. Asal jangan pakai teriak minta tolong kayak kemarin, bikin orang panik sampai nekat terobos lampu merah!”
“siap bos!”
“Ya udah, aku pulang ya!”
Arien hanya mengangguk tapi malah merekatkan genggamannya.
“Jadi, boleh pulang atau ngga nih?” tanyaku lagi
“Maaf soal yang kemarin!”
Kutarik arien ke dalam pelukanku. Aku ingin dia merasakan bahwa aku tulus menyayanginya.
“Aku maafin, asalkan kamu janji, sikap kamu yang kemarin Cuma kamu lakukan di depan aku. Ngga ada dan ngga boleh di depan laki-laki lain!”
“iya, janji. Tapi kok kamu bisa ngga tergoda sih? Kamu ngga.....”
“ngga apa? Ngga normal?” ucapku memotong kalimat arien.
“normal lah, Qay bilang kok kalau kamu suka gonta ganti cewek.”
“ terus Qay cerita apalagi?”
“Ngga ada, dia itu bukan tipe orang yang suka julid kayak kamu!”
“Suka gonta ganti cewek, julid, ngga kaya, kok bisa sih kamu sayang aku?”
“Buat aku justru kamu paling sempurna, bahkan terlalu sempurna. Terima kasih sudah hadir di hidup aku ya, dha!”
“Terima kasih juga ya, arien! Sudah terima aku apa adanya.”