
Bunda menitikkan air mata. Aku dan afzal hanya bisa terdiam. Kami tidak tahu apa yang membuat bunda menangis. Secara lembut dan perlahan aku mengelus punggung bunda yang begitu kokoh, karena telah menjaga dan berjuang untuk hidupku hingga saat ini.
“Qay, kamu mau jadi apa? Apakah hanya ingin menikah dan jadi ibu rumah tangga yang rapuh seperti bunda?” ucap bunda setelah menghentikan tangisnya.
“aku minta maaf, apakah bunda marah? Aku Cuma ingin terhindar dari dosa bunda! Aku tidak ingin bunda dan ayah terhalang masuk surga karena tingkah laku yang kurang baik dariku. Bunda tahukan, dalam islam pacaran itu tidak ada!”
“Nak, menikah itu tidak mudah!tidak bisa putus sambung! Apakah Qay dan Afzal benar-benar sudah sanggup, sementara sekolah saja kalian belum lulus!” ucap bunda dengan lembut tetapi bernada tegas.
“Bunda tidak ingin pernikahan anak bunda berakhir dengan perceraian. Apa kamu sanggup, zal?”
Afzal meraih tangan bunda, ia duduk bersimpuh di hadapan bunda.
“Bunda, aku sudah tidak punya mama. Kehadiran bunda dan qay membuat aku dapat merasakan kasih sayang mama. Aku tahu, aku belum dapat berjanji apapun, tapi bunda bisa mengutuk aku jika aku hanya akan menyakiti Qay!” ucap Afzal kemudian meletakkan tangan bunda di kepalanya.
Perlahan bunda mengelus kepala afzal dan tersenyum.
“apa orang tuamu sudah setuju, nak?” tanya bunda sambil mengajak afzal untuk duduk di sofa kembali.
“Aku sudah bilang ke papa, bun! Papa bilang harus ajak Qay dulu ke rumah. Kalau bunda izinkan aku ajak Qay untuk ketemu papa!”
“Oke, asalkan Afzal janji akan mengizinkan Qay melanjutkan sekolah sampai kuliah! Ini bukan untuk bekerja dan mengejar karier. Bunda hanya ingin cucu-cucu bunda nanti dididik oleh ibu yang pintar dan berwawasan luas. Tidak seperti bunda yang banyak kekurangannya ini!”
Aku dan Afzal memeluk bunda secara bersamaan.
“pasti bunda, terima kasih banyak!” ucap afzal masih memeluk bunda.
Mata kami saling bertemu, senyum tersungging di wajah kami. Fase selanjutnya adalah bertemu papa afzal. Semoga semua berjalan lancar.
***
Aku tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Keringat dingin mulai mengucur. Aku begitu gugup. Apakah keluarga afzal akan menyukaiku? Bagaimana kami bisa izin untuk direstui dalam ikatan pernikahan, sementara sekolah saja belum selesai? Ya Allah, aku hanya takut dengan azab-MU! Tetapi aku juga tidak bisa berpisah dari afzal, karena aku merasa dia yang terbaik.
“Qay, jangan takut! Papa pasti suka kok sama kamu!” ucap afzal sambil mengenggam tanganku.
“iya, suka! Tapi kamu ngga usah ambil kesempatan pegang-pegang!” balasku dengan nada suara sok marah.
“ya ampun, pelit amat neng! Sudah mau nikah juga!”
“baru mau ya, belum nikah tapikan?”
“ngga kuat wajah cemberutnya itu! Ya Allah mau aku gigit rasanya nih cewek!”
Aku memukul pelan afzal, karena ucapannya berhasil membuatku tersenyum. Senyum yang sudah kutahan sejak tadi. Ah, kalau dengan afzal tak pernah bisa aku berpura-pura judes terlalu lama!
Kami mulai memasuki perumahan elite. Setiap rumah berdiri dengan kokoh dan cantik. Rapi, bersih, dan sepi. Ada banyak tanya bermunculan di kepalaku. Tapi tetap aku simpan karena Afzal pun tak berkata apapun. Tiba-tiba kami berhenti di depan sebuah rumah yang paling mencolok di antara rumah di sekitarnya. Gerbangnya sangat tinggi, berwarna keemasan. Temboknya dikelilingi tumbuhan rambat, meskipun lebat namun rapi dan cantik tak terlihat menyeramkan.
Tin.....tin.......
Afzal memakirkan mobil berjejeran dengan mobil lain yang ada di rumah ini. Dari model dan merek mobil-mobil itu tentu aku paham uang yang dihabiskan untuk membelinya. Mobil yang afzal bawa saja sudah bagus, dan ternyata masih kalah bagus dan mewah dari mobil-mobil yang ada di rumah ini.
Afzal sudah berada di sampingku. Membukakan pintu. Tetapi aku tetap tak beranjak keluar mobil. Aku masih terdiam, bengong dan bingung.
“ayo Qay! Panas nih, nanti gantengku luntur!” ajak afzal.
Aku keluar dari mobil.
“kita mampir ke mana dulu? Ngga langsung ke rumah papa kamu?” tanyaku
Tanpa menjawab, afzal menarik tanganku. Ia mengenggamnya, dan aku hanya bisa mengikutinya dengan ribuan tanya di kepalaku.
“silakan masuk tuan, non!” ucap seorang ibu yang usia mengkin sudah di atas 50 tahunan. Senyuman ia berikan dan terlihat tulus.
“terima kasih!” jawabku pelan.
Afzal terus berjalan ke dalam rumah. Aku malah takjub dengan desain dan pemandangan di dalam rumah ini, lebih megah dan cantik. Perabotannya juga bukan barang-barang murah, terlihat dari model dan desain uniknya.
“duduk qay!” pinta afzal.
“kok kita main masuk aja sih zal! Kita ke rumah siapa?” ucapku masih tidak paham.
“Hai, kalian sudah datang!”
Ada suara asing di belakangku, ia menyapa dengan ramah. Ketika aku membalikkan tubuh, di depanku berdiri seorang laki-laki paruh baya yang tinggi dan berwajah mirip afzal.
“As...assalamualaikum,Om!” ucapku agak gugup karena kaget.
“Walaikumsalam, ayo silakan duduk!” pintanya dengan ramah.
Kami duduk bersamaan. Aku dan afzal duduk berdampingan dan si om yang berwajah mirip afzal duduk di depan kami. Kemudian datang seorang perempuan yang terlihat masih muda dan sangat cantik, tanpa menyapa hanya menyalami kami kemudian duduk di samping si om.
“Qay?” tanya si om.
“Iya, Om!” jawabku ragu-ragu.
“kok om sih! Afzal belum cerita?” tanyanya.
Aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
“maaf Qay, ini Papaku!” ucap Afzal.
Aku langsung menengok ke arah afzal yang duduk di sampingku. Bola mataku membesar, dahiku mengernyit, mulutku terbuka. PAPA? RUMAH INI? MOBIL-MOBIL ITU?